Menjadi penyandang disabilitas sejak kecil, Mukari menolak berpangku tangan menunggu bantuan. Pria yang kaki kanannya mengecil dan kesulitan berjalan itu memilih melawan keterbatasannya dengan aktif bekerja.
IQBAL SYAHRONI, Kota. JP Radar Kediri
Suara lalu lalang kendaraan di Jalan Raya Bawang, Kecamatan Pesantren Kota Kediri terdengar memekakkan telinga pada Selasa (23/11) silam. Seolah terbiasa, Mukari yang tengah beraktivitas di rumah kecil di tepi jalur kabupaten itu terlihat asyik mengutak-atik radio di rumahnya.
Ya, rumah berukuran sekitar 4x4 meter di Kelurahan Bawang itu memang sekaligus menjadi tempat bekerja bagi pria kelahiran 1975 silam tersebut. Tak heran, di luar ada beberapa tulisan yang sudah usang. Mulai, “Terima tambal ban”, “Jual gas 3 kg”, hingga papan bertuliskan kelompok Gema Nurani atau organisasi penyandang disabilitas di Kota Kediri.
“Ini memang dulu tempat berkumpul teman-teman disabilitas dari Gema Nurani,” ujar pria berkaus kuning itu tentang papan nama Gema Nurani yang juga jadi organisasi tempatnya bernaung.
Mukari memang merupakan satu dari banyak penyandang disabilitas di Kota Kediri. Hal itu terlihat saat dia berjalan. Menggunakan alat bantu tongkat, dia harus berjalan tertatih karena kaki kanannya yang mengecil terkena polio sejak lahir.
Untuk sekadar berpindah tempat, dia memang harus menggunakan alat bantu. Meski demikian, dia terlihat tidak risau dengan hal itu. Seolah sudah hafal dengan letak alat-alat di rumahnya, Mukari dengan santainya memilah kabel-kabel dan sejumlah peralatan listrik di mejanya.
Komponen listrik berupa resistor, kapasitor pun dibiarkan teronggok begitu saja. “Belum selesai dikerjakan. Nanti akan dipakai untuk komponen radio,” lanjut bapak tiga anak itu.
Seperti peralatan yang berserakan di sana, sebagian Mukari memang berkecimpung di dunia elektronik. Ia belajar secara otodidak. Dia belajar sejak muda.
Dengan keterbatasan mobilitasnya, Mukari memilih menekuni bidang elektronik. Kelak, pekerjaan ini menjadi gantungan hidupnya. “Mau bagaimana lagi. Sudah begini (terkena polio, Red) sejak kecil,” urainya sembari menunjukkan bagian kaki mulai paha hingga telapak kaki yang mengecil.
Dengan keterampilannya mereparasi berbagai peralatan elektronik, Mukari tetap bisa menghasilkan rupiah dalam keterbatasannya. Dia bersyukur, selama pandemi ini pekerjaan reparasi peralatan elektronik masih terus mengalir.
Pekerjaan ini juga memudahkannya karena dia tidak perlu banyak bergerak. “Bisa dikerjakan hanya dengan duduk saja,” candanya.
Meski masih banyak order perbaikan alat elektronik, Mukari menyebut jumlah itu tak sebanding dengan order yang didapat pada tahun 2000-2010 silam. Saat itu rumahnya seolah kebanjiran order. Berbagai peralatan elektronik mulai televisi, radio, hingga mesin cuci antre direparasi di rumahnya.
Meski fokus pada reparasi televisi dan radio, tidak sedikit warga yang memercayakan perbaikan alat elektronik lain kepada dirinya. Mukari bersyukur, tangan dinginnya bisa menyelesaikan berbagai permasalahan alat elektronik yang datang padanya.
Dengan kondisi tubuhnya, seharusnya Mukari memang membatasi orderan. Tetapi, itu tidak dilakukannya. Semakin banyak order, dia merasa semakin tertantang. Uang hasil biaya reparasi pun terus mengalir ke kantongnya.
Dengan banyaknya peralihan televisi dari analog ke digital, sekarang memang tidak banyak lagi order servis televisi yang masuk ke tempatnya. “Kalau dulu, Subuh biasa ada orang yang mengetuk pintu minta agar televisinya diperbaiki,” kenang pria yang sempat membuka jasa reparasi di Kelurahan Balowerti, Kota Kediri itu.
Seolah beradaptasi dengan perkembangan zaman, Mukari tak ingin menyerah dengan keadaannya. Begitu servis televisi analog mulai sepi, dia mencari ceruk di bidang lain. Jadilah Mukari membuka penjualan gas elpiji dan melayani tambal ban. Lagi-lagi, keterampilannya dipelajari secara otodidak.
Seperti semangatnya saat muda, Mukari yakin jika dia terus bersemangat dan terus mencoba, pintu rezekinya tidak akan pernah tertutup. “Yang penting terus berusaha bekerja untuk memberi makan anak istri,” bebernya sambil tersenyum.
Tak berhenti di sana, Mukari yang baru saja mengikuti pelatihan membuat sabun cuci piring di Pemkot Kediri pada 2020 lalu juga mulai membuat sabun. Setiap akhir pekan, dia membuat 10 botol sabun untuk dijual di Car Free Day Simpang Lima Gumul.
Dia bersyukur, dalam sehari bisa menghasilkan Rp 100 ribu dari penjualan sabun sekitar satu liternya. Di luar beberapa aktivitas tambahannya itu, passion Mukari sebenarnya tetap ke dunia elektronik. Makanya, meski permintaan tidak sebanyak dulu, dia tidak akan pernah meninggalkan dunia yang mengiringi hidupnya itu. (ut)
Editor : adi nugroho