Pasar Kalimati menjadi pasar tradisional yang masih eksis hingga sekarang. Meski toko moderen dan mal mulai menyerang tetapi pedagang Pasar Kalimati seolah tidak terpengaruh. Mereka tetap berjualan di tepi sungai tanpa ada kios atau tenda.
“Pasar Kalimati hanya ada saat Pahing, Legi dan Wage saja,” ujar Paniran, 52, penjual tahu di Pasar Kalimati. Sudah puluhan tahun berjualan di Pasar Kalimati. Kakek dengan dua cucu ini bersama puluhan pedagang mulai menggelar dagangan mulai pukul 05.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB. Di pasar ini, semua kebutuhan sehari-hari dijual. Mulai dari sembako, sayuran, buah-buahan, jajanan, ayam, hingga pakaian tersedia.
“Semua digelar di tepi sungai karena tidak ada kios,” ungkap Paniran. Karena itulah, saat hujan turun, puluhan pedagang akan mengemasi dagangannya. Mereka akan pindah ke Pasar Warujayeng dan Pasar Ngronggot. Karena mereka hanya berjualan di Pasar Kalimati saat Pahing, Legi dan Wage. Sehari-hari, mereka berjualan di pasar-pasar tradisional yang lain. “Pasar Kalimati ini pasar krempyeng,” ujarnya.
Terkait sejarah Pasar Kalimati, pria asal Desa Sambirejo ini mengatakan, awalnya dulu ada pedagang beras yang berjualan di dekat Sungai Kalimati. Tiba-tiba, pedagang itu ramai pembeli. Akhirnya, muncul pedagang-pedagang yang lain. Kemudian, akhirnya Pasar Kalimati terkenal hingga sekarang.
Sayang, tahun berapa Pasar Kalimati muncul, Paniran mengaku tidak mengetahui. Yang jelas, sejak dia kecil, pasar tersebut sudah ada. “Puluhan tahun lalu,” ujarnya.
Sementara itu, Kamijan, 50, pedagang kelapa asal Desa Klurahan, Kecamatan Ngronggot tetap setia berjualan di Pasar Kalimati. Karena pasar tersebut selalu ramai pembeli. “Warga setempat banyak yang belanja di sini,” ujarnya.
Karena sudah terbiasa berjualan di Pasar Kalimati, Kamijan mengaku selalu datang setiap Pahing, Legi dan Wage. Sebab, dia dengan pedagang yang lain sudah saling mengenal. Sehingga, bisa sebagai sarana silaturahmi. “Banyak langganan juga di sini,” ujarnya.
Editor : adi nugroho