Lulus SMA 2017, Ika Ayu Lestari menjadi pekerja migran Indonesia (PMI) di Malaysia. Gadis 23 tahun asal Desa Tambibendo, Kecamatan Mojo ini bekerja di perusahaan produsen alat medis. Begitu kontrak habis pada 2019, Ika kini menekuni usaha kuliner nasi lemak. Ia membagi pengalaman sekaligus memberi tips agar PMI tak tertipu di akun Youtube-nya. Berikut wawancaranya.
Halo Ika apa kabar. Sibuk apa akhir-akhir ini?
Alhamdulilah kabar baik. Kesibukan masih menekuni usaha jualan nasi lemak. Ini rencana akan membuka outlet baru di daerah (Kelurahan) Bandar, Kota Kediri. Selain berjualan, ini juga menjawab pertanyaan teman–teman yang ingin bekerja ke luar negeri.
Pernah bekerja di Malaysia, kenapa tidak melanjutkan dan memilih membuka usaha sendiri?
Sebenarnya tahun kemarin ingin kembali. Namun karena ada pandemi (Covid-19) jadi tidak bisa. Meski sudah ada pendaftaran, masih belum bisa kembali. Mengisi waktu yang kosong ini, akhirnya buka usaha. Alhamdulillah ternyata usaha lancar. Jadi diteruskan saja.
Bisa diceritakan pengalaman bekerja sebagai PMI? Apa yang menyebabkan ingin bekerja di luar negeri?
Saya kali pertama menjadi PMI tahun 2017. Yang membuat tertarik pada saat itu karena masalah ekonomi. Karena masih awal, pada waktu itu saya kurang pengalaman. Jadi tidak tahu mana perusahaan yang memberikan gaji yang tinggi. Bulan pertama hanya bergaji 63 Ringgit Malaysia (RM) atau setara Rp 320 ribu. Untuk biaya hidup sebulan saja sangat kurang. Dari pengalaman tersebut, calon pekerja harus pintar memilih agensi. Jangan mudah terlena dengan bujuk rayu.
Katanya ini membuat konten Youtube terkait pengalaman dan tips untuk bekerja di Malaysia? Apa alasan ingin berbagi?
Iya saya ini punya sekitar 10 konten terkait pengalaman selama bekerja di Malaysia. Selain itu, juga ada beberapa tips untuk mereka yang ingin bekerja. Alasannya, karena banyak teman yang tertipu ketika memilih agensi. Di mana kontrak kerja mereka tidak sesuai dengan yang dijanjikan. Seperti ketika berangkat pamitnya menjadi pekerja pabrik, namun setibanya di sana ternyata menjadi pembantu rumah tangga. Tidak hanya itu, paspor ilegal juga banyak. Kalau sampai tertangkap polisi bisa kena blacklist. Saya ingin dengan membagi konten yang saya buat, tidak ada teman-teman yang tertipu lagi.
Bisa jelaskan tips apa saja yang diberikan?
Untuk tips yang bisa saya berikan, ketika mencari perusahaan pastikan bahwa perusahaan tersebut terdaftar di disnaker (dinas tenaga kerja). Jika ingin tahu soal perusahaan, dapat membaca ulasan perusahaan tersebut di google maps. Namun itu tidak cukup. Selain mencari referensi di google, lebih baik tanya langsung dengan mereka yang pernah berpengalaman bekerja di perusahaan. Seperti mencari di grup Facebook, dengan memasukkan nama perusahaan di pencarian. Selain itu, jika sudah mendapatkan kerja, jangan lupa dengan tujuan awal. Ketika mendapatkan gaji, jangan lupa untuk menabung. Karena nanti sayang jika pulang tidak membawa apa-apa. Jika ingin pergi wisata, bisa dilakukan satu bulan sekali. Dan jangan lupa untuk tetap enjoy selama bekerja di sana.(ara/ndr)
Editor : adi nugroho