Memelihara ikan jadi tren selama pandemi Covid-19. Akibatnya, saat sektor ekonomi lainnya terpuruk, para peternak ikan justru panen cuan. Bahkan, omzet setahun dari ribuan peternak di Kabupaten Kediri setara separo pendapatan daerah.
Dengan jumlah peternak ikan hias dan ikan konsumsi sebanyak 8.300 orang pada 2020 lalu, omzet peternak ikan sebesar Rp 1,4 triliun. Setara separo pendapatan daerah Kabupaten Kediri yang tahun ini sebesar Rp 2,78 triliun.
Dibanding tahun 2019 yang mencapai Rp 1,2 triliun, selama pandemi omzet naik sekitar Rp 200 miliar. “Tahun ini omzetnya belum dihitung, tapi diperkirakan bisa sampai Rp 1,6 triliun,” ujar Plt Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kediri Nur Hafid.
Peningkatan omzet penjualan ikan di Kabupaten Kediri tak terlepas dari tingginya permintaan pasar. Di saat yang sama, jumlah peternak juga bertambah signifikan. Dia mencontohkan jumlah peternak ikan 2019 lalu yang hanya berkisar 7.000 orang atau bertambah lebih dari seribu dalam setahun.
Berdasar data dinas perikanan, ada sekitar dua persen warga yang beralih pekerjaan menjadi peternak ikan. Mereka memilih banting setir melihat prospek bagus bisnis ikan. “Ikan hias atau ikan konsumsi sama-sama diminati,” lanjutnya.
Berapa pendapatan peternak ikan? Keuntungan yang didapat tiap tahun berkisar Rp 50-70 juta. Jumlah yang lebih besar akan didapat peternak jika skala peternakannya lebih besar.
Lebih jauh Nur menjelaskan, produktivitas ikan tahun ini sebenarnya relatif turun. Meski demikian, jumlahnya tidak terlalu signifikan. Permintaan pasar akan ikan yang terus tinggi membuat hal tersebut tidak berpengaruh terhadap omzet peternak.
Menggeliatnya bisnis ikan, diakui Nur membuat bidang ini jadi salah satu penopang perekonomian di Kabupaten Kediri. Terutama, dalam kondisi pandemi Covid-19 saat sektor perekonomian lain justru tengah terpuruk.
Untuk diketahui, dari total 26 kecamatan di Kabupaten Kediri, Kecamatan Badas tetap menjadi sentra perikanan terbesar. Mayoritas peternak di sini melakukan pembenihan. Selanjutnya, pembesaran ikan dilakukan di Plosoklaten dan tersebar di puluhan kecamatan lainnya.
Sementara itu, Fajar, 20, salah satu peternak ikan asal Desa Trisulo, Plosoklaten mengaku berbisnis ikan betta dan guppi selama sekitar setahun terakhir. Pemuda yang sebelumnya menganggur itu mengaku bisa meraup untung hingga Rp 10 juta dalam sebulan.
Meski tergolong peternak baru, Fajar mengaku bersyukur karena selama ini belum menemukan hambatan yang berarti. Keseriusan dan ketelatenan menjadi kuncinya. Tidak hanya menggemari ikan saat sedang tren saja.
“Permintaan di tempat kami terus ada. Dari sekitar dan dari luar kota juga,” bebernya. (syi/ut)
Editor : adi nugroho