Adat-istiadat, religi, hingga arsitektur bangunan adalah budaya-budaya yang telah tersingkap. Di antara berbagai segmen itu, Kediri butuh merumuskan satu sebagai budaya unggul. Yang mencerminkan jati diri daerah.
Permintaan untuk memaknai budaya itu datang dari pemerhati kebudayaan Zainal Arifin. Dia menilai, ada banyak pandangan tentang budaya yang kini berkembang menyesuaikan selera. Seorang arsitek, pasti akan terkesima dengan bangunan-bangunan kuno. “Setiap bagian pasti punya filosofi,” ungkapnya.
Lain halnya dengan seniman, biasanya lebih tertarik dengan cerita dan pertunjukkan yang bisa menghibur. Akan berbeda lagi dengan arkeolog dan sejarawan semua punya segmen namun lingkup yang digeluti tidak lepas dari persoalan kebudayaan.
Karena itu, menurut lelaki yang juga seorang akademisi ini menginginkan adanya perumusan soal budaya unggul. Yang tidak semata-mata untuk kepentingan materialisme.
Menjawab persoalan budaya unggul tersebut, budayawan Imam Mubarok menjelaskan tentang kebesaran Kediri. Menurutnya tidak terlalu sulit untuk mencari budaya unggul di Kediri. Dia menyebutkan, lambang bendera merah putih dan garuda. Simbol-simbol itu semuanya berasal dari Kediri.
Lambang itu sudah ada di masa kerajaan Airlangga dan Jayabaya. Kerajaan yang mampu bertahan hingga abad 16. Baginya, untuk mencari budaya unggul itu tidak terlalu sulit. “Kita tidak perlu kecil hati,” ucapnya.
Barok mengingatkan, dahulu bangsa ini sudah bisa menciptakan yang namanya meriam. Kebesaran itu menghilang diganti dengan bambu runcing. Dari perjalanan bangsa ini, pria yang kerap disapa Gus Barok itu sepakat untuk menetapkan kembali kebesaran Kediri.
Salah satu yang bisa diandalkan saat ini adalah budaya Panji. “Kota dan kabupaten tidak perlu berkompetisi untuk memperebutkan Panji,” sarannya.
Dia menyebutkan, Panji ini akan menarik bila nantinya dibuka dari kabupaten hingga masuk ke kota. Kisah Panji jejaknya ada di Gambyok dan Penataran. Penataran adalah peninggalan Kediri masa lalu. Ia pun mendorong Panji digunakan sebagai ikon karena selama ini masih banyak yang salah kaprah tentang lambang tugu yang muncul di Kota Kediri.
“Tidak ada sejarah tugu itu,” katanya.
Karena itu, perlu ada penyatuan dua daerah untuk menetapkan satu ikon yang menggema. Untuk persoalan tempat di mana lokasi kerajaan, dia menyebutkan, harus menyesuaikan toponimi daerah.
Dia mencontohkan Pocanan berasal dari poco yang berarti tempat para pendeta. Balowerti artinya tembok kerajaan. Sedangkan Setonobetek adalah prajurit. Dan terakhir Bangsal, dulu orang yang baru masuk daerah pasti akan dimasukan ke bangsal.(rq/fud/bersambung)
Editor : adi nugroho