Kabupaten, JP Radar Kediri - Cuaca sangat terik siang itu. Seluruh pemain Persedikab terlihat kelelahan setelah berlatih di Stadion Canda Bhirawa Pare. Sebagian mereka meneguk air minum. Menghilangkan haus yang mendera.
Ketika kebanyakan pemain berusaha mencari minum, ada satu sosok yang terlihat santai. Dia masih sempat melemparkan candaan ke rekan-rekannya. Dia adalah Mohammad Khanafi.
Penampilan Khanafi berbeda dengan rekan-rekannya. Tubuhnya berbalut jaket. Kemudian jersey latihan dia kendakan di bagian luar. “Kemarin habis sakit,” akunya, menerangkan mengapa dia mengenakan jaket di siang yang panas.
Dua hari terakhir sang pemain itu harus ‘menepi’. Masih dalam masa pemulihan setelah sakit. Sakit itu dia derita karena salah makan. “Sekarang sudah enakan, makanya coba latihan lagi,” terang lelaki kelahiran 1997 itu.
Absennya Khanafi dalam latihan terasa bagi pemain lain. Sayyid Abbiyu, rekannya, bahkan sampai menyebut mes Persedikab jadi sepi tanpa kehadiran pemain tertua itu.
Ya, selama ini Khanafi dianggap sebagai bapak oleh rekan-rekannya. Selain tua secara usia, Khanafi pula yang selalu mengingatkan agar pemain yang beragama Islam salat.
“Ya, cuma meneruskan sejak 2018 itu. Doa bersama di mes sih lebih tepatnya,” terang putra daerah Desa Sambi, Kecamatan Ringinrejo itu.
Abbi, yang ada di dekatnya, membenarkan. Keduanya sudah bersama sejak 2015. Ikut satu tim di Porprov 2015. Namun Abbi melanjutkan ke Persedikab sedangkan Khanafi direkrut Blitar United. Keduanya kembali bersama di Persedikab pada 2018.
“Sejak dulu, Alhamdulillah, dipercaya memimpin doa. Meski dulu juga banyak yang lebih senior secara usia, dan juga pengalaman di Persedikab. Ini yang harus saya teruskan di tahun ini,” sambungnya.
Dijuluki bapak-nya para penggawa Persedikab membuatnya harus bijak dalam bersikap. Apalagi dia juga merupakan kapten kesebelasan. Karena itu dia tak ragu untuk mengingatkan rekannya agar disiplin. Tak hanya di lapangan tapi juga di luar lapangan. Meskipun tak melarang kegiatan lain tapi profesionalitas harus dijunjung tinggi.
“Ya tetap ngopi, main PS, atau bermain gitar mengisi waktu luang di mes. Namun, instruksi pelatih misalnya agar tak pulang malam tetap dipatuhi,” ucap bungsu dari tiga bersaudara ini.
Bagi Khanafi, dipanggil Persedikab tahun ini merupakan kesempatan besar. Membela tim kesayangannya sejak remaja adalah mimpi yang terus dia pertahankan. Apalagi totalitasnya di sepak bola didukung sang ibu. “Pernah dipesani saat masih di Blitar United dulu kalau saya tidak boleh bermain setengah-setengah. Harus bermain bola dengan benar dan tidak menyepelekan apapun,” kenang Khanafi.
Pesan ibunya itu yang membuatnya terus berusaha semaksimal mungkin. Tak ingin menyerah adalah salah satu moto yang terus ia emban. Tak pernah menyerah itu bisa dilakukan bersama untuk kejayaan Persedikab.
Karena itulah mengajak rekannya bermain dengan disiplin terus dia jalankan. Selain karena pesan ibu, motivasi dari Tony Ho juga jadi pendorongnya. Setiap kali sebelum berlatih ataupun bertanding, sang pelatih itu menegaskan bahwa di Persedikab semuanya sama. Harus bermain dengan bangga mengenakan lambang di dada kiri itu. “Selalu saya ingat itu. Kita bermain untuk tim, kita digaji, dan harus berusaha semaksimal mungkin,” pungkasnya.
Sejurus kemudian Khanafi mengganti jersey latihan. Berganti dengan kaos santainya. Angin yang bertiup kencang mengantarnya kembali ke mess pemain, di daerah Kampung Inggris Pare. (fud)
Editor : adi nugroho