Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sudah Jablai Masih Dipukuli Pula

adi nugroho • Kamis, 21 Oktober 2021 | 17:50 WIB
sudah-jablai-masih-dipukuli-pula
sudah-jablai-masih-dipukuli-pula

Tresno jalaran saka kulina. Tamsil dalam bahasa Jawa itu bisa bermakna bahwa cinta akan tumbuh seiring dengan perjalanan waktu. Nah, mungkin harapan itu yang terpikir orang tua Mbok Ndewor kala menjodohkan dengan Sudrun, pemuda yang saat itu masih berusia 17 tahun.


Sayangnya, harapan ternyata tinggal asa. Perjalanan perkawinan pasangan ini hanya seumur jagung. Cinta yang diharapkan itu tak kunjung bersemi. Sebaliknya, Sudrun justru jarang pulang. Akibatnya, Mbok Ndewor pun berstatus jablai alias jarang dibelai.


“Dia selalu saja pulang larut malam. Saya kerap kali ditinggalkan seorang diri. Masa mau tidur sendiri terus,” curhat Mbok Ndewor, warga Kecamatan Plemahan, Kabupaten Kediri ini.


Mbok Ndewor memang dinikahkan dalam usia yang sangat muda, 16 tahun. Mungkin, inilah yang menjadi faktor keretakan rumah tangga mereka. Baik Sudrun dan dia belum siap secara psikis. Lha wong usia sakmana kan wayahe seneng dolan tapi ini justru sudah disibukkan dengan urusan rumah tangga. Wajar bila kemudian perahu perkawinan mereka kandas.


Karena masih 17 tahun, Sudrun masih hobi nge-gank dengan kanca-kancane. Suka keluyuran. Tak peduli siang, tak peduli malam. Pokok pingin ngluyur ya langsung kelayapan.


Padahal, sang istri yang mengecat rambut dengan warna pirang itu tinggal di kos-kosan seorang diri. Sebagai pengantin baru sebenarnya Mbok Ndewor pingin mendapatkan kehangatan dari sang suami. Nyatanya, bukan kehangatan yang dia dapat tapi kehampaan karena ditinggal suami yang diperoleh.


Sengsarane Mbok Ndewor tak hanya soal jablai itu tadi. Ternyata Sudrun juga ringan tangan. Tapi, bukan yang berarti suka menolong melainkan suka memukul. Tak jarang tubuh mulus Mbok Ndewor jadi hitam lebam  gara-gara pukulan Sudrun.


“Ini, baru dua hari lalu dia mukul saya pakai tangannya,” tunjuk Mbok Ndewor pada lengannya yang lebam.


Karena tak kuat menghadapi pukulan-pukulan Sudrun itulah Mbok Ndewor akhirnya memilih langkah pamungkas. Dia pun mengajukan gugatan cerai.


 


 “Kalau hanya dibiarkan tidur sendiri, mungkin saya masih bisa nahan. Tapi, ketika suami pulang malam dan sering marah-marah sampai mukul, coba wanita mana yang tahan?” sungut Mbok Ndewor.


Selama ini Mbok Ndewor memendam dalam perlakuan suaminya itu. Taka da teman yang bisa diajak curhat atas perlakuan Sudrun. Itu yang membuat tubuhnya kian kurus kering. Tertekan dengan perlakuan sang suami.


“Saya memendam sendiri rasa sakit itu, tanpa berbagi ke orang lain. Baru kali ini saya mau curhat,” keluh perempuan yang kini usianya genap 18 tahun itu.


Untungnya, dari pernikahannya ini Mbok Ndewor belum dikarunia anak. Hal inilah yang membulatkan tekadnya mengajukan gugatan cerai.


Sejatinya, Mbok Ndewor memang tak mencintai Sudrun. Pernikahannya dulu karena dijodohkan orang tua. Bahkan, waktu itu dia belum lulus SMA. Juga tak kenal sama sekali dengan Sudrun.


Waktu itu dia masih berharap ada rasa cinta yang tumbuh. Kawin dulu, cinta belakangan. Kenyatannya? “Setelah tiga hari menikah saya dan suami sudah cekcok. Sudah berkelahi hanya karena persoalan sepele saja. Memang pada intinya kami tidak sehati, tidak sejalan. Hanya karena menuruti kemauan keluarga, ya jadinya seperti ini. Sedikit-sedikit cekcok, ya sudah, saya gugat saja. Lagian kami juga sudah lama pisah ranjang,” curhatnya.


Mbok Ndewor pun ingin proses perceraiannya segera tuntas. Setelah itu dia ingin mendapatkan suami yang benar-benar dia cintai dan mencintai. Agar tidak berstatus jablai seperti saat ini. (ica/fud)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #kediri #pemukulan #mbok ndewor #rumah tangga #sudrun #jablai