Tak hanya mamalia, spesies burung juga jadi kekhasan satwa di area yang kini sudah mirip gurun itu. Di antaranya, burung cucak ijo.
Soal habitat satwa lindung yang tergusur proyek bandara kini kembali menjadi perbincangan hangat. Pemicunya, penemuan seekor burung merak hijau oleh pekerja proyek. Burung berekor indah itu ditemukan berkeliaran di tempat para pekerja itu beraktivitas.
Jauh sebelum proyek bandara dimulai, tempat itu dikenal sebagai habitat banyak burung yang dilindungi. Selain merak hijau, ada lagi spesies burung yang khas dari hutan-hutan di perbukitan Wilis. Burung itu adalah cucak ijo.
Banyaknya cucak ijo itu di hutan-hutan lereng Wilis sudah dikenal oleh penghobi dan pedagang burung kicau. Bahkan, di pasar yang memperdagangkan aneka burung seperti Setonobetek, cucak ijo yang ditangkap dari tempat itu banyak diburu pembeli.
Para pedagang juga mengaku senang menjual burung tangkapan dari hutan di sekitar Kecamatan Banyakan, Kabupaten Kediri itu. Keuntungannya jauh lebih besar dibandingkan menjual dari penangkaran atau yang ditangkap dari tempat lain. Itulah yang membuat banyak pedagang yang tergiur memasarkan.
Juadi, 64, adalah salah seorang pedagang di Pasar Setonobetek yang menyebut bahwa cucak ijo menjadi burung kicau yang sangat laris. Terutama yang hasil dari tangkapan.
Burung yang dibeli untuk dijual lagi oleh Juadi memang tak semuanya dari peternak atau penghobi. Sebagian merupakan hasil tangkapan langsung di alam liar. Biasanya dengan teknik jaring. Para pemburu itu mengaku mendapatkan cucak ijo dari hutan-hutan di lereng Gunung Wilis. Yang kini bakal menjadi bandara itu.
Dari para pemburu liar ini harga yang didapat juga sangat bagus. Artinya, dia membeli tak terlalu mahal sehingga bila menjual mendapat keuntungan yang lebih besar dibandingkan dari peternak. Contohnya dari tangkapan alam belinya Rp 50 ribu. Sementara yang bukan dari alam bisa Rp 150 ribu.
Walaupun begitu, bukan berarti tanpa risiko. Kakek yang sudah sejak 30 tahun berjualan itu mengungkapkan burung dari alam liar mudah stres. Bahkan, tak sedikit burung yang dibeli Juadi dari alam liar itu mati.
“Kalau sudah stres, dijual di pasar tidak laku karena tidak mau berkicau,” ujar pria asal Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri ini.
Dia menambahkan jika cucak ijo menjadi burung laris dan diminati para kicaumania. Harganya bisa mencapai jutaan rupiah per ekornya. Bisa lebih mahal bila hasil tangkapan dari lereng Gunung Wilis.
“Cucak ijo yang trotolan saja beli dari penangkap Rp 700 ribu hingga Rp 900 ribu. Jualnya jadi jutaan rupiah,” paparnya.
Sementara itu, tandingan cucak ijo adalah murai batu. Tapi burung jenis ini rata-rata bukan dari alam liar, melainkan budi daya atau penangkaran.
Terpisah, Kepala Resort Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA) Wilayah I Kediri David Fhatur Rohman membenarkan jika habitat cucak ijo ada di wilayah perbukitan dan hutan bakal bandara itu. Itu dibuktikan. hingga saat ini, pihaknya masih saja menerima serahan burung cucak ijo dari masyarakat sekitar proyek maupun pekerja proyek yang tidak sengaja menangkap burung memiliki nama latin Chloropsis Sonnerati ini.
Menurutya, cucak ijo ini memang biasa hidup di puncak pohon tinggi. Terutama di hutan dan daerah perbukitan dengan ketinggian sekitar 1.000 meter di atas permukaan laut (mdpl). “Mereka memang sarangnya di puncak pohon yang berdaun lebat,” terangnya.
Dalam hal ini, pada area yang paling banyak terdampak pembangunan bandara adalah di wilayah Grogol dan Tarokan ada tiga desa. Sedangkan wilayah Banyakan hanya satu desa. “Ya di wilayah Grogol itu yang paling terluas perbukitannya,” imbuhnya.
Jenis burung ini kadang bersikap agresif terhadap jenis lain yang berukuran lebih kecil. Saat berkicau, cucak ijo akan menundukkan kepala. Makanannya adalah aneka serangga dan buah-buahan hutan. (ica/fud)
Editor : adi nugroho