Orang-orang tua sering bilang, berumah tangga itu harus berimbang. Kebutuhan biologis terpenuhi dan kebutuhan sandang pangan papan tercukupi. Bila salah satu di antara dua kebutuhan itu kurang, tentu saja omah-omah pasti pincang. Toh, untuk ‘begituan’ juga butuh power. Lha dari mana power itu didapat bila asupan gizinya terhambat?
Nah, kisah Mbok Ndewor kita kali ini berkutat di persoalan itu. Persoalan ‘perut’ dan yang ‘di bawah perut’. Ternyata, sejak berumah tangga dua tahun kepungkur, apa yang didapat wanita asal Kecamatan Mojo, Kabupaten Kediri ini pincang. Soal kebutuhan bawah perut ‘terlalu’ lancar. Sementara untuk urusan perut ternyata macet-cet. Bila urusan ranjang Sudrun, suaminya, selalu minta dilayani. Sedangkan soal uang belanja, Sudrun memilih menghindar. Itu yang membuat dia berang.
“Lha aku hanya jadi pemuas nafsunya, kok nyimut!” ketus Mbok Ndewor.
Mbok Ndewor memang tak habis pikir melihat polah suaminya yang sangat malas. Padahal, dulu waktu masih pacaran, Sudrun sangat rajin.
Memang, Sudrun bukannya sama sekali tak memberi uang belanja. Dia memberi hanya ketika memegang uang saja. Dan, yang seperti itu bisa dihitung dengan jari.
Sebenarnya Sudrun bukanlah seorang penganggur. Dia bekerja sebagai surveyor satu perusahaan pengembang. Tapi statusnya bukan karyawan tetap. Itulah yang membuatnya tak selalu mendapat penghasilan.
“Masa aku harus hidup menggantungkan diri dari gaji yang tidak menentu itu? Untung belum ada anak,” sungut Mbok Ndewor.
Dulu, pas awal menikah, rumah tangga Sudrun-Mbok Ndewor sempat berjalan mulus. Mbok Ndewor yang sebenarnya sudah nyambut gawe di perusahaan rokok memutuskan resign. Tujuannya, ingin fokus mengurusi suami dan anaknya kelak.
Keputusan keluar dari pekerjaan itu dibuat Mbok Ndewor dengan pertimbangan matang. Dia yakin kalau Sudrun mampu membiayainya. Apalagi, dia mengenal suaminya sebagai sosok pekerja keras.
“Memang, saat itu dia tidak jadi karyawan tetap sebuah perusahaan. Hanya sebagai surveyor. Setahu saya, kenalannya banyak yang ngajak kerja. Karena itu, saya pikir aman-aman saja meski hanya jadi ibu rumah tangga,” urainya menyebut alasannya mundur kerja.
Tapi, jauh panggang dari api, perkiraan Mbok Ndewor berbeda 180 derajat. Setelah menikah Sudrun justru malas-malasan. Tak punya semangat untuk bekerja. Beda dengan urusan birahi, Sudrun selalu rajin. “Kalau lagi mau begituan dia semangat banget,” ucap Mbok Ndewor kesal.
Ketika baru keluar dari pekerjaannya, soal ekonomi Mbok Ndewor masih bisa nalangi. Uang pesangonnya terhitung banyak. Namun, lama-lama tentu saja habis. Dia pun terpaksa utang kiwa-tengen demi mengebulnya asap dapur. Istilah Bang Haji Rhoma Irama dalam salah satu lagunya, gali lubang tutup lubang pinjam uang bayar utang.
Karena itu, Mbok Ndewor pun ambil keputusan bulat. Dia membawa perkara ini ke pak modin. Meneruskannya ke pengadilan agama. Meminta agar pengadilan memutus hubungan suami-istri antara Sudrun dan dirinya.
“Bukannya tidak mau melayani, tapi Sudrun seperti lupa dengan tugasnya. Ya mending cerai saja,” tegas wanita ini. Oalah Drun….Sudrun. Wong berumah tangga kok hanya dibandani cinta thok. Kalau sudah begini, ya makan itu cinta.(ica/fud)
Editor : adi nugroho