Keputusannya keluar kerja membuat dia merasakan kesulitan hidup. Berjualan kue ke toko-toko kecil pernah dia lakoni. Siapa sangka, hobinya sejak kecil yang kini bisa menjadi tumpuan.
ILMIDZA AMALIA NADZIRA, Kabupaten, JP Radar Kediri
Apa yang menyenangkan bagi seorang Endro Cahyono? Melakukan sesuai hobi namun dibayar. Juga melancong ke berbagai kota karena hobi itu.
Ya, pria 46 tahun ini adalah seorang pelukis. Hobinya sejak usia anak-anak. Baginya, menggambar adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hidup. Ruangan di bagian belakang rumahnya di Desa Sukoanyar, Kecamatan Mojo, diubahnya jadi bengkel kerja. Penuh dengan lukisan beraliran realis atau potret-potret wajah.
Endro mendapatkan kemampuan melukis itu benar-benar dari hobi dan ketekunan. Dia tak memiliki darah seniman. Kedua orang tuanya tak memiliki darah seni. Enam saudaranya juga tak ada yang terjun di dunia tersebut.
Dan, Endro patut bersyukur atas kemampuannya itu. Hobinya itu mendatangkan pemasukan yang lumayan. Melebihi gajinya ketika menjadi karyawan di salah satu hotel di Kabupaten Kediri.
Pada 2016, Endro memilih mundur dari pekerjaannya. Padahal saat itu dia sudah punya jabatan, menjadi manajer operasional. Hasil jerih payahnya merintis karir sejak 1994. Memilih menikahi kekasih yang juga anak buahnya adalah penyebabnya.
Setelah berhenti bekerja itu, dia berusaha mandiri. Merintis usaha kuliner. Menjual kue-kue basah. Menitipkannya di warung ataupun toko-toko kecil. Hingga kemudian dia memulai membuka warung makan. Apalagi, setelah hamil istrinya juga ikut mundur dari pekerjaannya.
Hingga suatu hari di 2017 dia iseng mengunggah salah satu karya lukisnya ke media sosial (medsos). Siapa sangka bila lukisan berjudul ‘Karapan Sapi’ itu dilirik seorang kolektor dari Sidoarjo.
“Ada yang menawar Rp 750 ribu. Itu karya pertama saya yang terjual sejak saya berhenti kerja,” ingatnya.
Berawal dari peristiwa itu, pria kelahiran 1975 ini mulai sadar hobi melukisnya bisa mendatangkan rezeki. Pemuda kelahiran Pasuruan ini kian aktif memasang karya di medsos. Dia juga memajangnya di dinding warung makannya.
Sebagai seorang pelukis, Endro juga berproses. Dulu, dia beraliran naturalis. Buah pergaulannya dengan pelukis yang beraliran sama di Kota Malang. Sebelum pindah ke Kediri Endro memang besar di Kota Malang. Juga pernah bekerja di salah satu hotel di kota tersebut. Saat berada di Malang itu, dia sering main ke alun-alun yang juga sentra pelukis jalanan.
“Dari sana saya mulai mengamati dan melihat cara melukis. Ketika di rumah baru saya coba. Sampai akhirnya saya bisa benar-benar bagus dalam berkarya,” paparnya.
Perpindahan aliran lukis terjadi pada 2013. Awalnya hanya ingin mencoba hal baru. Ternyata, realisme lebih berpeluang menghasilkan uang. Peminatnya juga lebih banyak.
Sudah puluhan karya yang dia hasilkan. Di galeri seninya juga tergantung banyak lukisan. Setidaknya, ada 30-an karya yang terpampang.
Yang terjual juga puluhan jumlahnya. Sebagian besar dibeli penyuka dari berbagai daerah. Surabaya, Blitar, Malang, Nganjuk, atau Sidoarjo. Pernah sekali lukisannya dikirim ke luar negeri, Australia. Ada kolektor dari grup medsosnya yang tertarik. Bule itu ingin lukisan wajah anaknya.
Harga lukisan Endro bervariasi. Mulai dari Rp 1 juta hingga Rp 8 juta. “Karya termahal saya Rp 12,5 juta, yang dipesan oleh Pak Richard dari Australia itu,” terang alumnus SMKN 1 Pasuruan ini.
Selama ini, untuk mengasah kemampuan dalam menggambar dia bergabung dengan komunitas seniman di Kediri. Di situ dia mendapat banyak ilmu. “Dari sini saya banyak belajar untuk membuat karya yang layak diikutkan di ajang pameran,” ujarnya. Sudah beberapa pameran nasional dia ikuti. Meskipun masih di dalam Jawa Timur.
Menurutnya, menggambar tokoh ternama menjadi hal yang menyenangkan. Terlebih menggambar wajah orang-orang yang pernah berjasa atau peduli pada negeri ini. (fud)
Editor : adi nugroho