Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Yohanes, Pemahat Patung Terlama di Kawasan Wisata Religi Puhsarang

adi nugroho • Senin, 18 Oktober 2021 | 19:30 WIB
yohanes-pemahat-patung-terlama-di-kawasan-wisata-religi-puhsarang
yohanes-pemahat-patung-terlama-di-kawasan-wisata-religi-puhsarang

Dia sempat sakit hati dan memutuskan berhenti memahat patung karena menganggap banyak orang yang tak menghargai karyanya. Kini, dia berusaha memahat dengan keikhlasan.


 


HABIBAH A. MUKTIARA, Kabupaten JP Radar Kediri


 


Rumah di tengah-tengah lokasi penjualan pernak–pernik dan buah tangan di di kawasan wisata religi Puhsarang itu terlihat sederhana. Selembar banner membentang tepat di atas pintunya. Tulisannya, ‘Pembuatan Patung Yohanes Hariono’.


Nama yang tertera di banner itu adalah si empunya rumah. Yang saat itu, tengah beraktivitas menyelesaikan satu patung berbahan semen. Kegiatan lelaki itu terlihat jelas dari teras. Kedua tangannya dengan lincah memoles patung berwujud Bunda Maria tersebut.


Di kanan-kiri lelaki itu bertumpukan kayu-kayu. Juga ada patung Yesus yang belum selesai pengerjannya. “Saya baru memulai kembali membuat patung tiga bulan ini,” terang laki-laki 47 tahun sambil mempersilakan Jawa Pos Radar Kediri duduk di kursi kayunya.


Saat itulah koran ini melihat kayu-kayu yang bertumpuk itu dari berbagai jenis. Ada kayu jati, ada pula dari kayu kopi.


Sambil mengerjakan pekerjaannya, Yohanes bercerita bahwa ia mulai memahat patung sejak awal 2000. Kakek dan ayahnya adalah pemahat patung. Bakat dan kecintaan itu menurun pada dirinya. Dia merasa menjiwai ketika memahat kayu hingga membentuknya menjadi patung.


Untuk membuat patung kayu, misal yang berwujud Nabi Isa itu, ayah tiga anak ini butuh sketsa detail. Pensil dan penggarisnya digunakan untuk mengukur jarak perbandingan anatomi. Semua kemampuan ini didapatkan dengan memperhatikan sebuah karya berbentuk foto.


“Saya mengamati karya dari Michelangelo dan Leonardo da Vinci, meski hanya dari sebuah foto,” imbuhnya.


Bahkan, agar anatomi patung sesuai dengan tubuh manusia, dia sampai memerhatikan tubuh istrinya, Rindang Rasanti Ningrum. Pengamatannya pada anatomi tubuh manusia itu yang kemudian membuat dia bisa memahat patung berbagai ukuran. Lengkap dengan detail lekukan yang rumit dan beragam ekspresi wajah. Misalnya patung yang menggambarkan Yesus ketika disalib.


Dalam perjalanan hidupnya, Yohanes sempat mengalami pasang surut. Da pernah mutung dan enggan lagi membuat karya. Penyebabnya, banyak yang akhirnya meniru dan mengaku-aku menjual patung karyanya. Itu dia ketahui saat ada pembeli yang datang. Dan mengaku beberapa kali membeli patung karyanya. Padahal, dia tak pernah menjual patung kecuali di rumahnya itu.


Merasa kecewa, dia kemudian memilih menenangkan diri. Pada 2017 ia berhenti memahat patung. Dia hanya membuat karya bila ingin saja.


Karena berhenti berkarya, Yohanes harus bekerja di bidang lain untuk mencukupi kebutuhan keluarga. Dia menjadi pekerja di peternakan ayam yang ada di Nganjuk.


Pada saat itu peristiwa demi peristiwa silih berganti menimpanya. Sulung dari tiga bersaudara ini sakit dan tidak bisa bekerja. Tak hanya demam saja, Yohanes mengalami patah tulang. Pada saat yang bersamaan tempat kerjanya dilalap si jago merah. Praktis Yohanes pun kehilangan pekerjaan.


Padahal, anaknya masih butuh banyak biaya. Masih duduk di bangku sekolah. Setiap kali melihat wajah sang anak, dia merasa iba. “Saya bilang kepada anak saya, kalau saya sehat lagi akan kembali membuat patung,” kenang Yohanes.


Hingga akhirnya, Juli lalu, Yohanes sembuh setelah tiga minggu sakit. Menurutnya kesembuhannya karena karunia dari Allah. Dia pun menepati janjinya, langsung kembali membuat patung. Meski baru sembuh dari sakit, ia semakin produktif dalam membuat karya.


Jika biasanya untuk satu patung membutuhkan waktu satu hingga dua minggu. Kini hanya membutuhkan dua hingga tiga hari. Untuk tahun ini, ia menargetkan akan membuat patung sebanyak 100 buah. (fud)

Editor : adi nugroho
#radar kediri #kediri #puhsarang