Tim Santri Tangguh Indonesia (Satguna) Daarut Tauhid (DT) Peduli yang membangun Jembatan Cepoko bukan warga asli Nganjuk. Mereka adalah warga Bandung, Jawa Barat yang menyumbangkan tenaga, waktu dan pikirannya untuk kegiatan sosial. Salah satunya adalah membangun Jembatan Cepoko di Desa Cepoko, Kecamatan Berbek.
Suara azan magrib berkumandang di Desa Cepoko, Kecamatan Berbek kemarin. Langit yang tadinya berwarna jingga perlahan-lahan berubah menjadi gelap. Tanda bahwa hari sudah mulai malam.
Delapan pekerja yang memakai kaus biru tua langsung berhenti dari pekerjaannya membangun Jembatan Cepoko. Mata mereka tampak capek. Maklum, sejak pagi hingga magrib, mereka bekerja keras. Beberapa menit, pekerja tersebut diam dan mendengarkan suara azan tersebut hingga selesai.
Perkakas yang sedari tadi dipegang langsung diletakkan di tas perkakas. Disusun rapi dari ukuran terkecil hingga terbesar. Tali kuning yang tidak beraturan di tanah langsung digulung dengan rapi.
“Laut...laut...salat dulu,” ujar Iip Saeful Bahri, salah satu anggota Satguna dengan logat Sunda.
Beberapa anggota yang lain tampak mengangguk tanda setuju. Pekerjaan dihentikan terlebih dulu. Tujuannya, salat maghrib berjamaah harus segera dilaksanakan.
Bergegas delapan orang tersebut langsung menuju ke salah satu rumah yang berada di utara Sungai Kuncir. Karena mereka berada di selatan sungai, terpaksa mereka harus menyebrangi sungai. Melompat dari satu batu ke batu lainnya yang sudah disusun dengan rapi.
Akhirnya mereka sampai di salah satu rumah milik warga. Rumah tersebut milik Ahmad Taib, 60, warga Dusun Bayeman, Desa Cepoko, Kecamatan Berbek. Sejak 4 Oktober, mereka berada di rumah tersebut. Salat magrib berjamaah dilaksanakan. “Kita ditawari Pak Kades Cepoko untuk tinggal di sin,” terang Iip.
Mereka tinggal di tempat tersebut untuk sementara waktu. Paling tidak sampai jembatan yang sedang dibangun selesai seutuhnya. “Mungkin bisa sampai 2 minggu,” tambah pria kelahiran Kecamatan Ciparay, Kabupaten Bandung tersebut.
Menumpang di rumah warga merupakan hal yang biasa bagi tim Satguna. Di tiap daerah tempat mereka sedang bertugas, mereka selalu memilih tinggal di rumah warga. Alasannya, hal tersebut dianggap yang paling aman. Ditambah, dengan berada bersama warga, mereka bisa mendapat pengalaman baru yang unik.
Seperti yang terjadi pada malam itu, sekitar pukul 19.00 setelah salat Isya, beberapa tim Satguna tampak sedang bercengkrama dengan warga sekitar. Agendanya adalah untuk mencicipi jajanan pasar yang sudah disiapkan warga.
Tampak seorang warga sedang menghidangkan labu yang direbus dengan gula merah. Setelah ditaruh meja, secara bergantian mereka mengambil makanan tersebut. Setelah dicoba, mereka tampak tersenyum. Satu pengalaman lagi mereka dapat ketika sedang bersama masyarakat.
Setelah menikmati hidangan tersebut. Berbagi cerita tentang makanan khas Kabupaten Nganjuk. Warga yang sedari tadi tampak mendengarkan cerita tim Satguna langsung mengucapkan beberapa makanan khas Kabupaten Nganjuk.
Nasi becek, nasi pecel, dan asem-asem Kuncir menjadi jenis-jenis makanan yang paling banyak disebut. Dengan rinci warga tersebut menjelaskan bagaimana makanan tersebut bisa dianggap enak.
Tim Satguna yang mendengar cerita dari warga langsung terlihat heran. Terlihat salah satu tim Satguna langsung menuliskan daftar makanan apa saja yang harus dicicipi selama di Kabupaten Nganjuk. “Nasi becek itu juga enak,” ujar Iip kepada warga. Bahkan, Iip mengidolakan makanan khas Nganjuk yang berupa sate kambing muda dan gulai itu.
Obrolan tersebut hanya berlangsung kurang dari dua jam. Setelah itu, tim Satguna kembali melanjutkan pekerjaan membangun jembatan pada malam hari. “Ayo kerja. Keburu malam,” ajak Iip yang menjadi ketua regu.
Dengan deadline 20 hari, Iip dan teman-temannya tidak bisa bersantai. Mereka kerja pagi hingga malam hari. "Semoga selesai tepat waktu," harapnya.
Editor : adi nugroho