Kaloran dikenal sebagai sentra produksi batu bata di Kabupaten Nganjuk. Pandemi Covid-19 yang membuat perekonomian anjlok tidak berpengaruh pada perajin. Mereka tetap membuat batu bata setiap hari. Upah yang didapat juga tetap sama bagi para pekerja.
“Dapat upah Rp 100 ribu untuk seribu batu bata yang sudah dicetak,” ujar Yanto, salah satu pekerja. Upah tersebut didapat sama sebelum virus korona menyerang Indonesia. Bahkan, meski saat ini pandemi Covid-19 belum berakhir, upahnya juga tidak turun.
Bagi Yanto dan perajin batu bata, Covid-19 tidak berpengaruh. Permintaan batu bata setiap hari selalu ada. Mereka juga tidak khawatir tertular virus korona. Karena pekerjaan yang mengharuskan dia berada di bawah terik matahari, membuat mereka selalu sehat. “Aman dan sehat karena setiap hari berjemur,” ujar pria berusia 51 tahun ini sambil tertawa.
Ramainya permintaan batu bata ini tidak terlepas dari Desa Kaloran yang terkenal sebagai sentra perajin batu bata. Sebenarnya, selain batu bata, desa ini juga terkenal dengan genting. Namun, akhir-akhir ini, permintaan genting menurun karena kalah bersaing dengan genting dari Tulungagung, Trenggalek dan genting dari pabrik. “Kami lebih fokus ke batu bata saja,” sambung Karyanto, 50, salah seorang perajin batu bata di Desa Kaloran sembari memasukkan kayu di tungku pembakaran.
Karyanto mengatakan, menjadi perajin batu bata seperti meneruskan warisan keluarga. Pasalnya nenek moyang masyarakat di sana sudah memulai kegiatan tersebut.
Hal senada diutarakan, Nur Kholis, 30, perajin batu bata. Dalam sebulan, dia bisa membuat 50 ribu-80 ribu batu bata. Permintaan juga tetap banyak. “Selalu habis,” ujarnya.
Untuk harga batu bata juga stabil. Untuk seribu batu bata, harganya Rp 500 ribu. Namun, jika harus dikirim ke rumah konsumen, akan kena ongkos kirim. Biayanya tergantung lokasi rumah konsumen. “Biasanya ongkos kirim Rp 100 ribu,” ujarnya.
Editor : adi nugroho