Gaya jual beli satwa di Kediri dan sekitarnya bergerak mengikuti zaman. Kini, pasar tradisional seperti Setonobetek sudah jarang menjadi tempat transaksi. Seiring dengan maraknya razia oleh petugas. Di pasar tersebut, sulit ditemui satwa lindung yang diperjual-belikan. Beda dengan beberapa tahun silam, ketika dengan bebasnya para pedagang menunjukkan hewan-hewan yang seharusnya tak boleh diperjual-belikan.
Di pasar itu memang masih ada penjual hewan. Namun, mayoritas adalah pedagang burung. Yang ditawarkan pun jenis-jenis yang memang boleh diperjual-belikan. Terutama untuk keperluan hobi dan lomba kicau.
Berdasarkan hasil penulusuran wartawan koran ini, ada tiga puluhan kios yang menjajakan berbagai macam burung. Mulai dari perkutut, dara, atau love bird. Jumlah itu menyusut bila dibandingkan beberapa tahun lalu.
“Dulu lebih dari 30 orang (yang berdagang). Sekarang sudah banyak yang pergi, sebagian pindah ke sekitar GOR Jayabaya,” terang Juwadi, 64, pedagang asal Kelurahan Tosaren, Kecamatan Pesantren, Kota Kediri.
Meskipun sudah pindah, sisa-sisa aktivitas jual beli masih ada. Tumpukan kandang besi yang dulu diisi hewan-hewan yang dijual juga masih teronggok, tak teratur. Termasuk di kios milik Juadi, ada tumpukan kandang dari besi yang nganggur dan kelihatan berkarat. “Iya, itu dulu kandang untuk kucing hutan,” tunjuk Juwadi.
Kini Juwadi meninggalkan kegiatan menjual satwa lindung. Dia hanya fokus menjual burung. Menyediakan satwa lindung seperti kucing hutan punya risiko tersendiri. Selaih biaya perawatan mahal, sejak pandemi harganya anjlok. Belum lagi bila ada razia dari petugas.
Berjualan burung pun sudah tidak seperti dulu. Namun, dia tetap bertahan karena menjadi pekerjaan satu-satunya. Apalagi dia sudah menekuninya sejak 30 tahun silam.
Pedagang lain, Sugeng, 48, mengaku pernah menjual satwa lindung. Beberapa jenis hewan langka dijual oleh pedagang asal Kelurahan Kemasan, Kecamatan Kota ini. Seperti elang, kucing hutan, atau kakak tua. Setelah gencar ada razia dia memilih fokus menjual burung dan hewan yang tak dilarang seperti hamster, marmut, dan kelinci.
Bagi Sugeng, pendapatannya menjual hewan-hewan itu sangat kecil. Tak mencukupi bila untuk menghidupi keluarga. Karena itu dia pun mengembangkan usahanya. Membuka kios lagi. Tapi, bukan untuk jual hewan melainkan sebagai warung kopi.
“Ya lumayan terbantu ada warung kopi ini. Kadang niatnya hanya mampir warung tapi ujung-ujungnya jadi beli hewan di sini,” paparnya.
Sementara itu, di masa pandemi ini ternyata juga berdampak pada manusia. Juga pada binatang piaraan seperti kucing. Banyak kucing piaraan keracunan disinfektan yang disemprotkan untuk membunuh virus korona. Beberapa kasus hingga membuat mamalia ini mati.
Dokter hewan yang berpraktik di klinik hewan di Jalan Raung, Kota Kediri mengatakan, drh Larasati Chandra, mengatakan keracunan pada kucing sering kali disebabkan karena menelan zat berbahaya. Misalnya saat kucing berada di luar dan tak sengaja memakan atau menjilat benda asing. Di dalam rumah pun kucing bisa saja keracunan. Misalnya, karena area sekitar kucing itu usai disemprot cairan disinfektan.
Gejala keracunan pada kucing berbeda-beda. Tergantung jenis dan seberapa banyak zat beracun yang ditelan. “Namun, ada sejumlah gejala keracunan yang paling umum pada kucing. Misalnya muntah, mencret, tak nafsu makan, kejang, dan mengeluarkan air liur yang berlebihan,” paparnya.
Selama pandemi, sekitar 15 kucing yang dibawa ke klinik hewan tempatnya bekerja. Mulai dari patah tulang, keracunan, hingga gegar otak. Kemarin. ada sekitar tujuh kucing yang sedang menjalani perawatan inap di klinik yang sudah berdiri sejak 2011 lalu itu. (ica/fud)
Editor : adi nugroho