Prihatin karena Kediri tak memiliki batik khas. Maka terjunlah Suminarwati menjadi pembatik. Dari tak bisa apa-apa, menjadi sosok yang dikenal sebagai pembatik besar yang dimiliki Kediri.
Dulu, Suminar hanyalah pegawai negeri biasa. Bertugas di kantor Dinas Pendapatan Provinsi Jawa Timur (sekarang Badan Pendapatan Daerah). Ingin tak tergantung dari gaji saja, pada 1997 Suminar yang memiliki bakat bisnis tinggi pun membuka toko batik. Menjual aneka produk batik dari nusantara.
Usaha itu berkembang pesat. Batiknya laris manis. Ada batik Madura, Pekalongan, Jogjakarta, Solo, dan Tulungagung. Satu yang mengusik nurani perempuan pecinta seni batik ini saat batik miliknya laris manis. Yaitu tak ada satupun dagangannya yang berupa batik khas Kediri. “Saya prihatin. Kok bisa tidak ada. Padahal Tulungagung ada,” ucap perempuan 65 tahun ini.
Dia pun mulai belajar mengenai asal-usul Kediri untuk menemukan ikon Kediri yang bisa dituangkan dalam batik. Saat itulah dia menemukan kalau sebenarnya Kediri memiliki ikon batik tertua. Yang tertuang dalam banyak peninggalan kuno yang berhasil ditemukan.
Keinginan istri Sugeng Sundoro agar Kediri memiliki batik khas kian menguat. Dia lalu membuat tiga motif pertamanya. Yaitu bangunan Simpang Lima Gumul (SLG). Kebetulan saat itu, Kediri sedang proses pembangunan monumen Simpang Lima Gumul.
Tak berhenti di situ, Suminar lalu membuat dua motif lainnya. “Saya buat motif mangga podang, dan bambu sakura,” terangnya.
Karena tak memiliki background pembatik, motif-motif itu dibawanya ke Madura, kediaman kakaknya yang menjadi pusat pembuat batik. Di sana dia meminta dibuatkan batik cap khas Kediri hingga siap dijual. Bersamaan dengan itu, Suminar belajar batik ke banyak tempat. Dari Tuban, Bangkalan, Solo, Jogja hingga Tulungagung. “Dulu kalau ada libur Sabtu-Minggu, saya belajar membatik ke Jogja,” kenangnya.
Seraya mencari ilmu membatik, dia mencicil peralatan agar setiap saat bisa melatih keterampilannya. Pengusaha asli Desa Sekoto, Kecamatan Badas, Kabupaten Kediri ini pun terus berjualan batik khas Kediri yang pembuatannya masih dilakukan di Madura. Hingga akhirnya pada 2010, Suminar memutuskan untuk memanggil mentor dari Gresik. Guru batik ini pun melatih warga sekitar rumah Suminar. Total ada 50 orang.
“Setelah banyak yang pintar membatik, saya pun memutuskan untuk membuat sendiri batik khas Kediri,” bebernya.
Dia pun mulai berani memunculkan batik tulis. Sementara untuk batik cap dia masih mengerjakan di Madura. Sampai akhirnya setahun berikutnya, saat suaminya Sugeng Sundoro sudah pensiun dari pekerjaannya, Suminar berani membuat usaha batik khas sendiri. “Bapak (suami) sampai belajar 1 bulan di Tuban. Full membatik,” bebernya.
Saat ini, Suminar telah membuat lebih dari 350 motif batik. Sebagian besar merupakan ciri khas Kediri. Joglo Suminar Batik, tempatnya berjualan batik di Sekoto pun selalu menjadi jujugan banyak pejabat, sekolah, perusahaan dan banyak tempat lainnya. Ini tak lain karena Batik Suminar mampu membuat batik dengan desain khas yang membuat batik menjadi eksklusif.
Untuk menjaga kestabilan penjualan batiknya, Suminar mengakui terus mengikuti perkembangan zaman. Seperti saat dia menyadari kalau batiknya sering menjadi batik khas dan oleh-oleh Khas Kediri, dia sudah membuat kemasan khusus yang membuat senang konsumen. “Kami pertama kalinya yang punya kotak khusus eksklusif. Tidak hanya yang biasa, tetapi juga menyediakan yang premium, kotak dari bambu. Sesuai dengan permintaan dan harga,” terangnya. Karena itulah, sampai saaat ini, nenek delapan cucu ini pun yakin kalau batik memiliki potensi yang sangat besar.
Namun sayang, dia masih kesulitan mencari tenaga muda pembatik. Apalagi, desa tempat tinggalnya termasuk memiliki pendapatan rata-rata yang tinggi karena usaha petani bawang merah. “Banyak orang sini yang memilih potong brambang (bawang merah) daripada mencanting,” keluhnya. Akhirnya, Suminar pun memilih mencari tenaga kerja dari luar desanya. (dea/fud)
Editor : adi nugroho