Guyangan menjadi jujugan warga yang ingin menikmati dunia malam. Tak hanya warga Kota Angin. Warga di luar daerah sejak zaman Belanda juga datang ke Nganjuk. Mereka ramai-ramai datang setiap Wage.
Wage. Adalah hari pasaran di Pasar Sapi Guyangan. Ternyata itu sudah jadi hari pasaran sejak zaman Belanda. “Saat Wage banyak orang yang datang ke Guyangan untuk berdagang sapi dan menikmati dunia malam,” ujar Yasin, sesepuh Guyangan.
Setelah selesai berjualan, pedagang di Pasar Sapi Guyangan melepas lelah dengan menyewa pekerja seks komersial (PSK) di sana. Sehingga, Guyangan yang memiliki pabrik gula dan pasar sapi menjadi tempat lokalisasi terbesar di Kota Angin.
Saat ini, hari pasaran di Pasar Sapi Guyangan tetap Wage. Bahkan, hari pasaran juga bertambah, yaitu Pon. Kemarin adalah Rabu Pon. Sehingga, Pasar Sapi Guyangan juga ramai pedagang dan pembeli. “Sudah dari dulu ramai seperti ini. Sebelum saya lahir malah,” ujar Sunyoto, 65, salah seorang penjual di pasar sapi tersebut.
Hanya saja, Nyoto mengatakan bahwa pasar sapi ini dulunya tidak sebesar sekarang. Sekarang, dalam sehari, ribuan ekor sapi dijual di sana. Pedagang sapi juga tidak hanya dari Nganjuk. Ada yang dari Pare, Kediri dan Bojonegoro.“Sekarang malah lebih ramai tiap pasaran Pon dibandingkan Wage,” imbuh pria berkumis tersebut.
Pasalnya, di daerah sekitar tidak ada pasar sapi yang dibuka pada pasaran Pon. Sehingga para pembeli dan penjual bisa fokus bertransaksi di sana. Alhasil, tiap dibuka saat pasaran Pon, jumlah pembeli dan penjual bisa mencapai dua kali lipat.
Terpisah, Aries Trio Effendy, pegiat sejarah Kota Angin membenarkan bahwa pasar sapi tersebut telah terkenal sejak bertahun-tahun silam. Bahkan, aktivitas memandikan sapi disinyalir menjadi salah satu alasan daerah tersebut dinamakan Guyangan. “Inilah keunikan dari Guyangan,” ujarnya.
Editor : adi nugroho