Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Di Penjara karena Narkoba, Mantan Bintang Radio Kediri Jadi Ahli Tenun

adi nugroho • Kamis, 30 September 2021 | 17:36 WIB
di-penjara-karena-narkoba-mantan-bintang-radio-kediri-jadi-ahli-tenun
di-penjara-karena-narkoba-mantan-bintang-radio-kediri-jadi-ahli-tenun




Bukan Soal Upah tapi Bekal saat Bebas


 


Penjara, ternyata, tak seseram seperti bayangannya. Narapidana kasus narkoba ini bahkan jadi punya ilmu baru. Yang bisa dia manfaatkan nanti selepas selesai masa penahanan.


 



 


 


Beberapa sipir berdiri di dekat papan peringatan yang bertuliskan larangan melintas. Tepat di sebelah pagar setinggi 1,5 meter. Di tangan para sipir itu tergenggam handy talky. Pandangan mereka tak lepas dari warga binaan pemasyarakatan (WBP) yang berlalu-lalang.


Saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 11.30. Tinggal beberapa menit lagi waktu salat Dhuhur bakal tiba. Karena itulah banyak penghuni Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Kediri itu yang hilir mudik. Bersiap mengikuti salat berjamaah di Masjid At Taubat, masjid yang ada di dalam lapas.


Namun, tidak semua narapidana bergegas ke masjid. Ada sebagian yang masih berada di satu ruangan. Ruangan itu berada di lantai 2 gedung yang tepat di depan masjid.


Di ruangan itu ada dua narapidana wanita. Keduanya menghadapi peralatan menenun. Keseriusan terlihat di raut muka mereka. Ditingkahi beberapa kali suara kayu terpukul dari alat tenun yang mereka gerakkan.


“Supaya tidak jenuh hidup di penjara,” ucap Farida Nur Mahani, salah satu di antara dua wanita yang ada di ruangan itu. Perkataan Farida itu menjawab pertanyaan mengapa dia memilih berlatih menenun selama di tahanan.


Ya, ruangan itu memang merupakan ruangan keterampilan. Dikhususkan untuk para penghuni penjara. Selain sebagai pengisi masa berada di jeruji besi, juga untuk menambah bekal keterampilan. Sebagai modal ketika mereka bebas nanti.


Karena ruang keterampilan, yang ada di tempat ini tak hanya karya tenun Farida dan rekannya saja. Juga ada patung-patung dan aneka kerajinan tangan yang lain. Semuanya berjajar dengan rapi. Benda-benda itu merupakan karya para penghuni lapas.


Soal belajar keterampilan, bagi Farida, sangat penting. Tahanan kasus narkoba asal Mojokerto ini menganggap punya keterampilan adalah hal penting. Sebagai bekal ketika dia menghirup udara bebas nanti.


Wanita 39 tahun ini sebelum masuk penjara adalah seorang penyanyi bergenre pop. Dia biasa tampil di kafe, hotel, atau acara-acara lain. Sayang, pergaulannya di dunia hiburan itu menyeretnya mengenal narkoba. Akibatnya dia harus mendekam di penjara selama empat tahun.


Ketika tertangkap, Farida sempat gamang dan takut berada di penjara. Cerita-cerita seram  dari orang-orang kepada dirinya menghantuinya. Ternyata, kehidupan yang dia jalani ternyata tak seseram seperti cerita-cerita itu.


“Saya bersyukur ternyata hidup di lapas tak semenyeramkan seperti kata orang-orang itu,” akunya.


Salah satu sebabnya adalah aktivitas menenun itu. Kesehariannya yang bergelut dengan benang-benang yang menjulang di alat tenun itulah yang menghiburnya. Seperti yang dia lakukan saat itu. Hentakan-hentakan kayu yang menimbulkan suara keras seperti menghiburnya. Kemudian, perlahan mulai terlihat corak selendang yang sedang dibuatnya.


“Harus sabar dan telaten. Menarik satu per satu benang yang akan dirangkai di alat tenun,” terang ibu tiga anak ini, menceritakan bagaimana bisa mendapatkan hasil yang bagus dalam menenun.


Yang hampir dia selesaikan itu adalah selendang tenun berukuran 2,5 x 1 meter. Hampir seminggu dia mengerjakannya. Bila motifnya lebih rumit lagi, waktu yang dibutuhkan bisa lebih lama lagi.


Penyanyi yang memilih pop alternatif sebagai kesukaannya ini tergolong cepat dalam meresap ilmu pertenunan. Hanya butuh waktu tiga bulan untuk membuatnya jadi piawai.


“Awalnya ya sulit. Tapi lama-lama kok seru juga. Dan kalau sudah selesai, hasilnya itu seperti suatu kebanggan sendiri,” tutur wanita yang pernah jadi bintang radio di Mojokerto pada 2005 itu.


Sejak mulai belajar pada 2018, sudah puluhan kain tenun yang dia hasilkan. Karyanya itu banyak yang terpajang di ruangan besuk. Yang bisa dilihat pembesuk dan pengunjung lapas. Sebagian lagi karyanya dijual di salah satu toko di Pasar Bandar. Toko yang bernama Bedali Emas itu juga menjual karya-karya napi yang lain.


“Sudah ada yang laku beberapa karya saya,” akunya.


Saat kain tenunnya laku dia akan mendapat upah. Besarnya Rp 15 ribu untuk satu potong kain tenun yang terjual. Baginya, bukan nilai uang itu yang penting. Melainkan ilmu yang dia dapat. Sebab, ilmu menenun seperti ini tak bisa dia dapatkan di tempat lain.


Dia berharap, satu tahun lagi ketika sudah menghirup udara bebas, dirinya bisa melanjutkan karirnya lagi di bidang industri music. Namun, dia juga berkeinginan melanjutkan keterampilan menenun ini. (fud)

Editor : adi nugroho
#penjara #kediri #narkoba