Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Portal Kampus Lifestyle Khazanah Opini RK Institute Internasional

Coretan Dinding

adi nugroho • 2021-09-12 21:09:31
coretan-dinding
coretan-dinding


Coretan di dinding membuat resah


Resah hati pencoret mungkin ingin tampil


Tapi lebih resah pembaca coretannya


Sebab coretan dinding


Adalah pemberontakan kucing hitam


Yang terpojok di tiap tempat sampah


Di tiap kota


 


Entah, ketika menulis lirik lagu berjudul Coretan Dinding itu apakah Iwan Fals menggambarkan keresahan hatinya sendiri. Kemudian melambangkannya melalui coretan-coretan di dinding. Coretan yang muncul karena keresahan hati melihat banyaknya sikap dan perilaku yang-di mata sang penulis-adalah sangat tidak ideal. Tidak layak terjadi.


Atau, sang legenda itu menangkap fenomena di luar dirinya. Menangkap keresahan hati para pencoret-pencoret dinding di jalanan, di gang-gang kumuh di perkotaan, atau di tempat-tempat ketika banyak orang yang terbuang dan teracuhkan hak-haknya.


Mungkin kedua-duanya benar. Mungkin Bang Iwan memang menangkap pesan pedih pada grafiti-grafiti ataupun mural-mural yang banyak di sudut-sudut kota. Namun sekaligus menyuarakan gejolak hatinya. Apalagi sang musisi memang dikenal piawai dalam mengolah syair untuk menyuarakan ketimpangan sosial.


Mural maupun grafiti memang sedang trending hari-hari ini. Yang memanfaatkan ruang-ruang kosong di dinding-dinding bangunan perkotaan untuk tempat luapan perasaan mereka yang terpendam. Luapan kegeraman pada situasi dan kondisi yang tengah berlangsung. Yang oleh para pembuat mural maupun grafiti itu dianggap berjalan melenceng dari yang seharusnya.


Yang menarik, lagu Coretan Dinding itu adalah satu dari sekian lagu akustik-hanya diiringi dentingan gitar yang dipetik Bang Iwan-dalam album bertajuk Belum Ada Judul. Album ini-yang konon proses pembuatannya dibuat langsung tanpa proses editing-rilis pada 1992. Artinya, masih ada di masa Orde Baru. Masa ketika itu rezim dianggap sangat represif. Sehingga coretan di dinding seperti yang disyairkan oleh Iwan Fals menjadi jalan untuk menyuarakan kata hati. Yang memang jalur formal tak lancar untuk menjadi kanal inspirasi.


Namun, lagu itu seperti mendapat masanya lagi saat ini. Lagu itu sangat pas untuk menggambarkan situasi dan kondisi saat ini. Yaitu ketika coretan di dinding dianggap menyakiti. Sehingga harus dihapus dan hilangkan. Kemudian, si pembuat diburu seperti seorang pesakitan atau pembuat rusuh.


Memang, entah apa tujuan si pembuat mural-mural yang sedang tren di mana-mana itu. Mural yang membuat mata si pelihat menjadi nanar. Sehingga yang dilakukan adalah menghapus tulisan itu. Atau merobeknya bila itu terbentang sebagai spanduk. Namun, yang pasti, mural-mural itu dianggap sebagai simbol pemberontakan. Simbol pembangkangan.


Kata, frasa, atau kalimat dalam mural yang kini tengah trending itu memang menyodok penguasa. Misal, ada kata-kata ‘Dipaksa Sehat di Negera yang Sakit’ atau ‘Tuhan Aku Lapar’, serta yang paling hits ‘404:Not Found’. Bila melihat kalimat-kalimat yang ada di mural itu, memang sang penulisnya menujukan pesan itu pada penguasa, kepada rezim. Dan, pesan itu sepertinya telah tersampaikan. Penguasa menjadi terusik.


Dalam lagunya, Bang Iwan menggambarkan bahwa sang penulis coretan di dinding adalah sosok yang ingin menampilkan keresahan hatinya. Sang penulis dianalogikan sebagai kucing hitam yang terpojok. Berada di tempat-tempat sampah di pojok kota.


Dan, memang, setiap mural dan grafiti adalah karya mereka yang tak memiliki-atau setidaknya  menganggap tak memiliki-kanal penyaluran secara formal. Jalur-jalur demokrasi seperti partai politik ataupun parlemen, dianggap sudah tak mampu lagi menjadi kanal suara hati mereka. Atau justru kanal-kanal itu yang jadi sorotan dari protes mereka. Maka, jadilah tempat-tempat kosong di berbagai sisi kota yang menjadi pelampiasan.


Salahkah sikap itu? Seharusnya tidak. Sebab, aspirasi itu memang tak bisa semuanya tertampung dalam skema perpolitikan modern yang telah disusun sampai saat ini. Tetap saja perlu pelampiasan yang di luar jalur-jalur resmi. Apalagi bila kemudian si penyara hati itu jauh dari jangkauan saluran-saluran itu. Atau, ketika saluran inspirasi itu telah mampet. Yang tak bisa  lagu menjadi media penyalur hasrat.


Ada baiknya kita bersikap bijaksana pada munculnya coretan-coretan di dinding tersebut. Menganggap bahwa itu merupakan kanal bagi aspirasi mereka. Sembari mengevaluasi, mengapa masih muncul coretan di dinding. Sementara kanal-kanal demokrasi justru tak digunakan. (penulis adalah wartawan Jawa Pos Radar Kediri)


 


 

Editor : adi nugroho