Nasi pecel merupakan makanan yang sering dikonsumsi warga Kota Angin. Namun, nasi pecel daun jati Mbok Jimur menjadi salah satu yang terkenal. Banyak tamu dari luar kota yang penasaran dengan cita rasanya.
Kebanyakan nasi pecel dibungkus dengan daun pisang atau kertas minyak. Namun, berbeda dengan nasi pecel yang dijual oleh Mbok Jimur, penjual pecek di Desa Tiripan, Kecamatan Berbek.
Perempuan berumur 65 tahun tersebut memilih daun jati sebagai pembungkus nasi pecel jualannya. Pembungkus ini sendiri telah dipakainya sejak awal mula berjualan. “Sudah lebih 40 tahun, saya jualan nasi pecel,” ujar Mbok Jimur sembari mengaduk sambal pecel.
Nenek empat cucu ini sejak awal konsisten menggunakan daun jati sebagai bungkus nasi pecelnya. Hingga sekarang tidak pernah berubah. Tak sekali pun ia meninggalkan daun jatinya tersebut. Keunikan ini juga yang membuat namanya semakin dikenal banyak orang.
Terutama sejak tahun 2000-an awal. Semakin lama namanya semakin melejit. Awalnya hanya dari mulut ke mulut. Namun, kemudian semakin mentereng dengan adanya kemajuan teknologi. Tak sedikit pelanggan yang datang turut mempromosikan nasi pecel Mbok Jimur di media sosial (medsos). “Pernah ada orang Jogjakarta dan Surabaya yang ke sini. Katanya tahu dari internet,” ujarnya.
Selain keunikan pembungkus tersebut, kualitas rasa juga sangat dijaga oleh Mbok Jimur. Terutama sambal pecelnya. Perempuan berambut sebahu tersebut mengaku tidak pernah sekali pun mengubah komposisi resep sambalnya. “Semuanya saya takar. Sudah ada ukurannya,” imbuhnya.
Mulai dari kacang goreng, bawang putih, asem, garam, gula, daun jeruk, dan cabai diolah sendiri. Hanya saja, untuk menghaluskan bahan-bahan tersebut ia dibantu oleh Marjo, 43, anak keduanya. Alat yang dipakai pun masih sangat sederhana. Yaitu alu dari kayu dan lumpang batu yang berada di belakang rumahnya.
“Sewaktu-waktu kalau habis tinggal ndeplok (menumbuk, Red) sendiri,” timpal Marjo.
Dulunya, Mbok Jimur menjajakan nasi pecel tersebut hanya seharga Rp 75 perak per bungkus. Seiring berkembangnya zaman, satu bungkus nasi pecel tersebut bisa didapatkan hanya dengan harga Rp 7 ribu saja. Itu pun sudah termasuk tahu dan tempe di dalamnya. “Kalau tutup warungnya tinggal diketuk saja. Malam pun tetap akan kami layani,” pungkasnya.
Editor : adi nugroho