Eka Dasa Warsani adalah salah satu staf Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Nganjuk yang hobi kliping berita. Sejak Covid-19 masuk ke Nganjuk hingga sekarang, Eka selalu memburu berita-berita tentang virus korona di Jawa Pos Radar Nganjuk. Kemudian, berita tersebut dikliping secara rapi dan menjadi koleksi Perpustakaan Daerah Kabupaten Nganjuk.
ANDHIKA ATTAR. NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Sorot mata Eka Dasa Warsani tertuju pada sebuah buku bersampul hijau di Perpusda Nganjuk, Jalan Diponegoro Nganjuk kemarin. Staf bidang perpustakaan tersebut sedang mengamati sebuah buku kumpulan kliping yang baru saja dibuat. Bukan sembarang kliping. Melainkan kliping tentang berita-berita Covid-19 yang melanda Kota Angin.
Buku kumpulan kliping tersebut tidak hanya ada satu-dua buku saja. Melainkan telah mencapai belasan buku. Pasalnya, Eka bersama pustakawan lainnya telah mengkliping berita tersebut sejak masa awal pandemi melanda. “Sejak Maret lalu,” ujar perempuan yang dua tahun lagi pensiun.
Salah seorang rekan sejawatnya yang juga rajin membantunya membuat kliping tersebut adalah Lina Hernita. Staf seksi pelayanan tersebut menjadi salah satu orang yang dipercaya Eka untuk membuat kliping. Tak tanggung-tanggung, ilmunya seputar dunia kliping pun diturunkan kepada juniornya tersebut.
Bahan bacaan yang digunakan mereka untuk membuat kliping adalah berita-berita Covid-19 yang diterbitkan di Jawa Pos Radar Nganjuk. Setiap unggahan berita korona tak pernah ketinggalan untuk dijadikan kliping oleh mereka. “Kami langganan Jawa Pos Radar Nganjuk,” ujar Eka.
Buku berisi kliping berita tersebut terdokumentasikan rapi dalam setiap bulannya. Hingga berita ini diturunkan, telah ada 17 buku kliping yang dibuat oleh Eka dan kawan-kawan. Bahkan, dalam buku klipingnya tersebut juga dilengkapi dengan daftar isi. Sehingga dapat memudahkan pembaca untuk mencari konten yang ada tersebut.
Tak hanya itu, Eka menekankan bahwa membuat kliping itu tidak semata hanya menggunting artikel yang ada di koran atau majalah lalu mengelemnya. Ia menegaskan bahwa ada ilmu tersendiri untuk membuat kliping. Ilmu ini sendiri dipelajari Eka dari mentornya di Perpusnas RI.
Kliping yang dibuat harusnya simetris. Komposisi antara berita dan foto yang akan ditempelkan juga harus diperhitungkan dengan matang terlebih dahulu. Sehingga, tidak asal tempel. Meskipun terkesan sepele, namun estetika tersebut akan membuahkan nilai plus bagi pembacanya.
“Komposisinya harus dipikirkan. Perlu ketelitian dan kesabaran untuk membuat kliping itu,” ujarnya.
Selain menyulap berita di koran menjadi kliping, Eka juga membuat kopian hasil kliping tersebut buku per buku. Sehingga, ada format yang berbentuk fotokopi dan asli. Menurutnya, hal itu perlu dilakukan untuk memudahkan pengarsipan ke depannya.
Kliping berita Covid-19 ini diyakini akan memiliki banyak manfaat. Mungkin tidak dalam waktu dekat. Bisa jadi baru 5-10 tahun ke depan, orang akan mencari literasi tentang isu korona yang melanda ini. Seperti, pelajar dan mahasiswa.
Dengan adanya kliping tersebut, Perpusda Nganjuk akan bisa menjadi rujukan pertama bagi masyarakat yang ingin mengetahui perkembangan pandemi ini. “Mungkin sekarang dinilai biasa, tetapi sepuluh tahun ke depan ini akan sangat bermakna,” ujarnya.
Editor : adi nugroho