Air, patirtan, dan candi. Tiga hal ini menjadi sarana pemujaan pada dewa yang sangat penting di zaman dulu. Tiga hal ini ada di Gunung Klotok.
Bukan tanpa sebab bila candi-candi pemujaan dibangun di Gunung Klotok. Banyaknya sumber air serta lokasinya yang berada di ketinggian adalah alasan besar keberadaan bangunan-bangunan itu. Air dan ketinggian merupakan syarat utama bagi proses peribadatan bagi para resi atau biarawan.
Soal ketinggian misalnya, sudah berkali-kali disinggung oleh para sejarawan. Masyarakat kala itu sangat percaya bahwa keberadaan para dewa ada di ketinggian. Karena itu, semakin tinggi lokasi peribadatan mereka maka semakin mudah pula upaya mereka berinteraksi dengan tuhannya.
“Mereka meyakini bahwa dewa itu bersemayam di ketinggian,” tandas Zaenal Afandi, sejarawan Kediri.
Posisi geografis Gunung Klotok juga sangat ideal sebagai tempat persembahyangan. Dari sisi ketinggian, daerah ini memenuhi syarat. Sedangkan dari sisi keterjangkauan, juga terpenuhi. Akses dari pusat kerajaan tak terlalu jauh. Tak sampai lima kilometer jauhnya dari titik yang diperkirakan merupakan pusat pemerintahan di era Kerajaan Kadhiri.
Alasan itulah yang diperkirakan menjadi faktor keputusan membangun candi-candi pemujaan di puncak gunung. “Makanya penemuan Candi Klotok itu juga dipengaruhi dengan keyakinan itu. Menjadi tempat para pelaku agama untuk memuja dewa,” terangnya.
Namun, keputusan itu juga tak lepas dari faktor ketersediaan sumber air. Salah satu alasan penting terkait dukungan mata-mata air ini adalah karena soal penyucian diri. Sebelum melakukan pemujaan kepada dewa mereka harus dalam keadaan suci. Caranya, tentu dengan mandi.
“Dugaan kuat para pelaku agama membangun Candi Klotok di dekat sumber air. Karena untuk itu, untuk kebutuhan air,” tambah Rektor Universitas Nusantara PGRI (UNP) Kediri ini.
Pentingnya fungsi air itu, membuat para pendeta atau biarawan berpikir bagaimana bisa selalu ada. Mereka menyadari faktor iklim dan musim bisa berpengaruh pada debit air. Saat kemarau air di Gunung Klotok bisa menyusut banyak. Karena itu mereka berpikir untuk menandon atau menampung.
Karena itulah selain ada sumber air, ada pula struktur bangunan yang diperkirakan sebagai patirtan. Patirtan adalah salah satu metode pengairan saat itu.
“Patirtan itu kalau istilahnya sekarang adalah menandon air,” jelasnya.
Merujuk dari cerita Babat Kediri, Zaenal menambahkan, di area Goa Selomangleng dahulu juga digunakan Raja Jayabaya membuat taman. Namanya Taman Baginda. Sesuai namanya, peruntukan taman itu untuk raja dan keluarganya. Namun, hingga saat ini belum diketahui dengan persis di posisi mana letak taman tersebut.
Pada intinya, sejarawan ini menegaskan, alasan pendirian Candi Klotok adalah hal-hal tersebut di atas. Yaitu, sebagai lokasi pemujaan para dewa, candi sangat butuh dukungan sumber air. Karena air merupakan sarana penting penyucian diri baik sebelum maupun sesudah memuja para dewa. (ica/fud/bersambung)
Editor : adi nugroho