Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

‘Menggali’ Candi Klotok, Mencari Jejak Besar Kota Kediri (23)

adi nugroho • Rabu, 18 Agustus 2021 | 05:51 WIB
menggali-candi-klotok-mencari-jejak-besar-kota-kediri-23
menggali-candi-klotok-mencari-jejak-besar-kota-kediri-23


Pemanfaatan sumber air dari Gunung Klotok untuk pengairan sudah berlangsung sejak dulu, sejak masa lampau. Buktinya adalah relief di dinding Gua Selomangleng.  



Sejatinya, Gunung Klotok kaya akan mata air. Selain Sumber Tretes, puluhan mata air lagi yang tersimpan. Perannya juga tak kalah penting untuk memenuhi kebutuhan warga di sekitarnya. 


Keberadaan sumber-sumber air yang dimanfaatkan oleh masyarakat itu sudah berlangsung sejak zaman kerajaan. Salah satu buktinya adalah gambar di relief Goa Selomangleng, salah satu goa yang ada di Gunung Klotok. Berbagai sumber digambarkan dalam relief itu. Salah satunya ada sumber air yang digambarkan mengalir dari atas, mengalir panjang hingga ke area persawahan. Dari atas gunung air itu digambarkan sebagai air terjun.


“Itu sampai masuk area persawahan di wilayah Kelurahan Gayam, sepertinya, kalau dilihat dari gambar di dinding goa,” ujar arkeolog Dwi Cahyono. 


Kelurahan Gayam sendiri berada di kaki Gunung Klotok. Tepatnya di sisi utara. Wilayah ini memiliki persawahan yang relatif luas bila dibandingkan dengan kelurahan lain di Kota Kediri. 


Dwi mengatakan, melimpahnya debit air tak hanya dimanfaatkan untuk kepentingan keagamaan saja. Air yang mengalir dan bercabang itu juga dimanfaatkan untuk kebutuhan bertani. 


“Bahkan, sampai sekarang air yang mengalir dari Gunung Klotok itu menjadi sungai-sungai kecil yang masuk ke pemukiman penduduk dan persawahan,” tuturnya.


Sayangnya, kondisi aliran air itu berbeda dulu dengan sekarang. Kalau dulu tergambar panjang dan lebar. Saat ini aliran air itu sudah menciut dan menyempit. Menurut Dwi Cahyono, kondisi yang ada sekarang diakibatkan karena struktur tanah dan bebatuan di Gunung Klotok. 


Dia membenarkan jika sumber air yang mengalir di area Gunung Klotok bersifat fluktuatif. Artinya, bila musim penghujan maka debit air yang mengalir juga banyak dan deras. Namun jika musim kemarau berkepanjangan juga bisa menyebabkan tanah di Gunung Klotok tandus dan kering. 


“Jadi kalau sudah kekeringan, menyebabkan hilangnya titik tingginya air yang mengalir,” imbuh dosen sejarah di Universitas Negeri Malang itu.


Bahkan, kondisi saat ini, tanah di Gunung Klotok itu menurutnya cenderung tandus. Meskipun air tidak sampai mengalami kekeringan. “Karena jika dilihat dari gambar relief itu, mulai dari struktur tanah dan debit air yang mengalir sangat jauh berbeda,” ujarnya.


Terlebih pada area persawahan. Pada gambar di relief paling lebar sungainya, namun kondisi yang ada sekarang, alirang air yang mengalir itu menjadi lebih kecil. “Sekarang menjadi kalenan, atau sungai kecil. Dulu juga digunakan untuk masyarakat di luar kepentingan keagamaan yaitu bertani dan berlanjut sampai sekarang,” terangnya.


Dia menjelaskan gambar sumber air yang terpahat di dinding Goa Selomangleng itu memiliki bentuk seperti huruf H tertidur. Yang mengalir memanjang hingga wilayah Kelurahan Gayam. (ica/fud/bersambung)


Editor : adi nugroho
#mojoroto