Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

‘Menggali’ Candi Klotok, Mencari Jejak Sejarah Besar Kota Kediri (13)

adi nugroho • Jumat, 6 Agustus 2021 | 03:04 WIB
menggali-candi-klotok-mencari-jejak-sejarah-besar-kota-kediri-13
menggali-candi-klotok-mencari-jejak-sejarah-besar-kota-kediri-13


Di sepanjang jalan menuju Candi Klotok III, banyak pecahan bata yang menancap tanah. Sebagian berukuran besar. Bata-bata seperti itu sering terlihat di sekitar struktur candi maupun petirtaan.


 


Bata merah itu sangat besar. Bila disebut raksasa juga tak salah. Lihat saja ukurannya. Lebarnya mencapai 22 sentimeter dengan ketebalan rata-rata 9 sentimeter. Sedangkan panjangnya mencapai 38 hingga 40 sentimeter. Atau, hampir setengah meter!


Bata-bata itulah yang banyak ditemukan di sekitar area penemuan Candi Klotok. Di sepanjang jalan menuju candi ketiga misalnya, banyak yang tertancap di tanah. Bisa jadi bata merah itu berasal dari bangunan candi, petirtaan, atau bangunan tempat tinggal orang yang hidup di kawasan kompleks religi Gunung Klotok zaman dulu. 


Bila dibandingkan dengan bata merah dari zaman Majapahit, ukurannya jauh lebih besar. “Batanya (yang ditemukan di Candi Klotok) besar-besar. Seperti di Candi Lor (di Kabupaten Nganjuk),” ungkap Kepala Unit Penyelamatan dan Pengamanan Cagar Budaya Nugroho Harjo Lukito. 


Nugroho kemudian menyodorkan fakta ukuran bata di era Majapahit. Dengan lebar 20 sentimeter dan panjang 29 hingga 35 sentimeter, bata di era ini hanya punya ketebalan 7 sentimeter saja.


Mengapa candi terbuat dari bata, bukan batu?  Menurut pria yang kerap dipanggil Nug ini, setiap pembangunan candi pasti memanfaatkan kekayaan sumber daya alam sekitarnya. Struktur tanah di Gunung Klotok didominasi oleh tanah liat. Tanah yang cocok dijadikan bahan membuat bata merah. 


“Berbeda dengan bangunan candi di Malang dan Blitar. (Di sana) kebanyakan menggunakan batu yang diambil dari aliran sungai,” terang Nug.


Bukankah di area Gunung Klotok sekarang juga banyak terdapat batu? Menurut Nugroho, kemunculan bebatuan di sekitar area candi di waktu belakangan. Bukan di era pembangunan candi. Kemungkinan batu-batu itu muncul karena peristiwa alam seperti tanah longsor. 


Kejadian itu juga yang diyakini Nug menjadi penyebab tertimbunnya tiga candi di Gunung Klotok. Bukan karena letusan tetapi disebabkan adanya longsoran tanah. Kemudian menimbun bangunan bersejarah tersebut. 


Soal keserupaan bata penyusun Candi Klotok dengan Candi Lor di Nganjuk, adalah dari sisi ukuran. Terutama untuk ketebalan dan panjang bata. Di candi ini bata penyusunnya punya ketebalan 7 hingga 8 sentimeter. Sedangkan lebarnya sekitar 23 sentimeter. 


“Kalau panjangnya 32 hingga 36 sentimeter,” terang Kasi Sejarah, Museum, dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Nganjuk Amin Fuadi. Amin juga mengatakan, ciri dari Candi Lor adalah posisi gerbangnya yang menghadap ke barat. (rq/fud/bersambung)

Editor : adi nugroho
#mojoroto