Nama Panito menjadi buah bibir masyarakat Nganjuk. Pengusaha asal Kecamatan Ngluyu ini membuat gebrakan dengan mendirikan hotel berbintang empat di Kota Nganjuk. Dia juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap masyarakat. Melalui Exindo Peduli Kasih, Panito rutin membantu membangun masjid, musala dan bakti sosial. Dia juga ikut Gerakan Teplekan yang digagas Plt Bupati Marhaen Djumadi.
RULLY PRASETYO, NGANJUK, JP Radar Nganjuk
“Saya asli Ngluyu,” ujar Panito saat ditemui wartawan koran ini di rumahnya pada Kamis (29/8). Menjadi orang Ngluyu, pengusaha di bidang kontruksi bangunan, transportasi, dan koperasi simpan pinjam (KSP) ini sudah siap dengan pandangan sebelah mata dari masyarakat. Karena Ngluyu adalah kecamatan yang berada di pelosok Kabupaten Nganjuk. Mayoritas pekerjaan warga di sana adalah petani, termasuk orang tua Panito. Kemudian, warga di sana, masih tertinggal dengan kecamatan-kecamatan lain di Nganjuk. Karena lokasinya berdekatan dengan hutan.
Pandangan sebelah mata itu dirasakan Panito sejak kecil. Saat dia memutuskan masuk ke SMAN 1 Nganjuk pada 1987-1990, bapak empat anak ini semakin merasakan anggapan remeh teman-temannya. Namun, pria yang saat ini berusia 50 tahun ini tidak mau minder. Kondisi ini juga dialami saat kuliah di ABM Malang. Panito dianggap tidak selevel dengan teman-teman kuliahnya. “Saya itu kastanya sudra,” ujarnya sambil tersenyum.
Meski begitu, Panito tidak mau warga Ngluyu terus dianggap sebagai orang pelosok yang miskin. Keyakinan bahwa lelaki bisa sukses jika jauh dari rumah membuatnya memutuskan untuk merantau ke Banjarmasin pada 1999. Dia ingin hidup mandiri agar sukses. Berbekal uang Rp 70 ribu dari menjual kambing milik orang tuanya, Panito berangkat ke Banjarmasin dengan naik kapal laut Dharma Kencana. Tak ada saudara di sana. Meski ada teman di Banjarmasin, Panito enggan untuk numpang di rumah temannya. Dia khawatir temannya menganggap dia hanya akan minta makan dan merepotkan. Uang Rp 70 ribu, dia belikat tiket kapal laut ke Banjarmasin seharga Rp 27.500. Sehingga, di kantong masih ada sisa Rp 42.500 untuk bekal saat mencari pekerjaan di Banjarmasin.
Saat di kapal laut tersebut, Panito berkenalan dengan Misdi, mandor bangunan asal Kediri. Saat ngobrol, Misdi menceritakan jika dia membutuhkan kuli bangunan untuk proyek pembangunan kantor veteran di Muara Teweh, Barito Utara. Tanpa berpikir panjang, Panito langsung melamar menjadi kuli bangunan dan ikut Misdi. “Saya jadi kuli bangunan itu dibayar Rp 7.500 per hari. Setahun kemudian naik menjadi Rp 11.500 per hari,” ujarnya.
Meski menyandang gelar sarjana ekonomi dari kampus ternama di Malang tetapi Panito tidak malu menjadi kuli bangunan. Dia sudah terbiasa hidup menderita di Desa Sugihwaras, Kecamatan Ngluyu. Apalagi, Panito saat itu butuh pekerjaan untuk makan dan tempat tinggal. “Saya tidur dan kerja ikut Pak Misdi,” kenangnya.
Setelah jadi kuli bangunan, Panito mulai belajar menjadi mandor, kemudian belajar menjadi pemborong di Banjarmasin. Dia akhirnya menekuni dunia kontraktor di Banjarmasin. Sukses di Banjarmasin, Panito kembali ke Pulau Jawa pada 2011. Dia menggeluti berbagai usaha mulai dari jasa konstruksi hingga KSP. Lokasi pertama yang dibidik usahanya adalah Magetan. Kemudian, berkembang hingga Semarang. Lalu, pada Februari 2017 Panito mendirikan kantor pusat PT Exindo 57 Jawa Timur di rumahnya di Kelurahan Kauman, Kecamatan Nganjuk. Area usaha meliputi Jawa Timur hingga Jawa Tengah. Mulai dari Purworejo, Jateng sampai Banyuwangi, Jatim.
Sukses sebagai pengusaha tidak membuat Panito pelit. Pembantu di rumahnya mendapat fasilitas yang sama dengannya. Kamar pembantu memiliki fasilitas yang sama. Mulai dari AC di kamar, televisi superjumbo, hingga kasur empuk. “Tidak ada perbedaan antara saya dan pembantu. Karena semua di hadapan Allah SWT itu sama yang membedakan hanya amal ibadahnya,” ujarnya.
Pria yang hobi bersepeda ini juga rutin menggelar bakti sosial (baksos) untuk warga kurang mampu. Yang menarik, dia memilih baksos ke desa-desa yang terpencil, seperti Dusun Krondong, Desa Bajang, Kecamatan Ngluyu dan Dusun Suru, Desa Lengkong Lor, Kecamatan Ngluyu. Di sana, dusunnya hanya memiliki 53 kepala keluarga (KK) dan 57 KK. “Kalau baksos di kota-kota mungkin sudah banyak yang melakukannya, saya memilih ke desa-desa terpencil yang jarang disentuh,” ujarnya.
Selain baksos secara mandiri, Panito juga ikut menyumbang Teplekan melalui Dinas Ketenagakerjaan, Koperasi, dan Usaha Mikro (UM) Kabupaten Nganjuk. Bantuannya berupa ratusan paket sembako. “Semua yang saya punya itu titipan Allah SWT. Jadi, saya hanya membagikan titipan ini kepada orang yang membutuhkan,” ujarnya.
Karena itulah, Panito memutuskan membangun hotel berbintang empat di samping rumah sekaligus kantor pusat PT Exindo Jatim 57. Hotel sepuluh lantai dengan helipad tersebut disiapkan untuk tamu-tamu yang ada acara di Nganjuk. Sehingga, tidak ada lagi tamu yang harus menginap di Kediri. Karena Nganjuk sudah punya hotel berbintang empat. “Saya tidak mikir apakah hotel ini akan laku atau tidak. Yang jelas semua karyawan nanti sudah saya siapkan gajinya setiap bulan,” ujarnya.
Bagi Panito, hidup itu harus dianggap mudah. ”Semua ini hanya titipan dan tidak akan dibawa pulang. Titipan yang baik itu yang bisa bermanfaat buat orang banyak,” ujarnya. Karena itu dalam setiap doa, Panito meminta kepada Allah SWT untuk memberi titipan yang mampu dia pertanggungjawabkan di hadapanNya kelak.
Dia membangun hotel tidak ada niat mencari keuntungan. Biaya sekitar Rp 128 miliar untuk hotel yang akan memiliki 100 lebih kamar tersebut hanya untuk mendukung perekonomian Nganjuk. “Saya itu makan hanya tiga kali sehari. Usaha saya, Insya Allah masih cukup untuk untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari,” ujarnya.
Karena itu, saat usaha travel macet karena pandemi Covid-19, Panito tidak melakukan pengurangan tenaga kerja. Bus yang tidak beroperasi tidak membuatnya bingung. “Semua kru, juga kami berikan bantuan sembako,” ujarnya.
Editor : adi nugroho