Gunung Klotok tak hanya menarik dari sisi sejarah. Juga memikat para pendaki gunung. Terutama yang masih berstatus pendaki pemula.
Di Gunung Klotok ada satu pintu pendakian. Pintu ini menjadi jalan masuk bagi para pendaki yang ingin menikmati keindahan telapak kaki wilis dari gunung yang berada di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto ini.
Pintu ini ada belum terlalu lama. Baru dua tahun lalu. Dibuat oleh komunitas pendaki gunung.
Jarak pintu masuk pendakian ini dengan puncak juga tak terlalu jauh. Untuk mencapai puncak dibutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan.
“kalau yang sudah terbiasa mendaki bisa satu jam saja,” kata Ari Kusdwianto, pendaki asal Kelurahan Ngadisimo, Kecamatan Kota.
Lelaki 41 tahun yang sudah mendaki Gunung Klotok sejak SMP ini mengungkapkan, di puncak Gunung Klotok ada daerah bernama Watu Bengkeh. Dengan ketinggian sekitar 536 meter di atas permukaan laut (mdpl), para pendaki kerap menjadikan lokasi tersebut menjadi camp pendakian. Hampir setiap 17 Agustus, para pendaki mengibarkan bendera di tempat ini.
Bagi Ari, jalur pendakian Gunung Klotok juga digemari para pendaki luar kota. Mereka memilih pendakian Gunung Klorok karena tempatnya dekat dengan kawasan perkotaan. Juga, pendakiannya tidak membutuhkan waktu lama.
Hal itu dibenarkan Ektavianto, koordinator Pendaki Indonesia (PI) wilayah Nganjuk. Ektavianto mengungkapkan, jalur pendakian di tempat ini enak karena naiknya tidak terlalu panjang. “Sangat cocok bagi pemula atau mereka yang ingin olahraga mendaki tapi tidak berat,” ujarnya.
Pria asal Nganjuk menilai kawasan Gunung Klotok ke depannya bisa diwujudkan sebagai wisata edukasi. Minimal menjadi lokasi olahraga berbasis alam. Atmosfer yang tidak terlalu dingin menjadikan lokasi wisata ini bagus untuk para pendaki ketika menikmati malam hari. Gemerlap lampu perkotaan bisa dinikmati dari puncak yang berada di Watu Bengkeh.
Sementara itu, Arkeolog Universitas Malang Dwi Cahyono mengklaim, temuan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dalam empat tahun terakhir menunjukkan kekayaan peninggalan bersejarah di sana. “Temuan tiga buah candi lalu petiriaan sudah cukup komplet,” katanya.
Dia menyimpulkan bahwa Gunung Klotok atau yang dikenal warga sebagai Telapak Kaki Wilis ini sebagai sebuah komplek. Kekayaan ini akan menjadi nilai tambah di Gunung Klotok, selain sebagai lokasi pendakian juga bisa sebagai wisata edukasi sejarah.
Adapun Kepala Unit Penyelematan dan Pengamanan Cagar Budaya BPCB Jawa Timur Nugroho Harjo Lukito menjelaskan, ekskavasi masih akan dilanjutkan setelah situasi kondusif. Dia juga berpendapat bahwa lokasi candi adalah kompleks bangunan religi pada masa lalu. “Saya meyakini ini kompleks bangunan yang luas, belum semuanya terbuka,” katanya.
Sedangkan Kepala Dinas Budaya Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Nur Muhyar mengklaim, di jalur pendakian juga masih ada situs bersejarah. Berupa makam yang diperkirakan sudah ada sejak masa penjajahan Belanda.
“Namanya Bucolono, cerita yang berkembang di masyarakat, ia termasuk orang sakti pada masa itu,” ucapnya.
Untuk situsnya kini ditangani Disbudparpora. Sedangkan lokasi atau wilayahnya masih dikelola Perhutani Kediri. (rq/fud/bersambung)
Editor : adi nugroho