Dwi Putra Kusuma, Siswa SMPN 7 Nganjuk menjadi korban terbaru di bulan ini. Putra tewas karena terjatuh saat dibonceng motor oleh temannya.
KAREN WIBI. NGANJUK, JP Radar Nganjuk
Rumah di Dusun Gebangayu, Desa Kedungdowo, Kecamatan Nganjuk masih terlihat ramai kemarin. Beberapa wanita berhijab keluar masuk rumah untuk takziah. Beberapa kali pria bernama Hartono yang berusia 47 tahun mengucapkan terima kasih dan memohon maaf kepada petakziah yang datang. “Mohon maaf segala kesalahan Putra,” ujar Hartono kepada petakziah.
Meski Putra sudah dimakamkan pada Selasa (6/7) tetapi petakziah masih ada yang datang kemarin. Sehingga, Hartono terlihat sibuk menemui petakziah. “Saya sampai sekarang belum tahu bagaimana kecelakaan itu terjadi,” ungkap Hartono.
Keluarga Hartono baru mengetahui jika Putra meninggal dunia karena terjatuh dari motor Honda Scoopy yang dikendarai Revan Chalsy Ardian Pratama, 12, temannya. Saat berbelok ke timur di jalan bypass Kelurahan Ringinanom, Kecamatan Nganjuk, tiba-tiba motor yang dikendarai Revan hilang kendali. Diduga Revan kurang menguasai motor bernopol AG 2172 UK. Akibatnya, Putra tewas saat dirawat di RSUD Nganjuk. Sedangkan, Revan mengalami luka ringan. “Sampai sekarang Revan juga belum ke sini untuk menceritakan kejadian kecelakaan itu,” ujar bapak dua anak ini.
Kehilangan Putra sangat memukul keluarga Hartono. Mata Hartono terlihat bengkak karena menangis. Putra adalah anak bungsu dari dua bersaudara. Bahkan, ibu Putra juga masih shock kemarin. “Kami sangat kehilangan sekali,” ujarnya.
Sebelum kejadian mengenaskan itu, Putra hanya izin bermain biliar di dekat rumah. Selama ini, Putra memang tidak pernah main jauh. Keluarga sama sekali tidak menduga jika siswa yang baru naik ke kelas VIII SMPN 7 Nganjuk itu dibonceng Revan hingga ke jalan bypass Kelurahan Ringinanom, Kecamatan Nganjuk.
Saat saudaranya datang ke rumah dan memberitahu jika Putra terjatuh dari motor, perasaan Hartono sudah tidak enak. Dia khawatir putra bungsunya tersebut terluka parah. Kemudian, Hartono dan saudaranya ke tempat kejadian kecelakaan. Namun, di sana, sudah tidak ada korban. “Kami langsung ke RSUD Nganjuk,” ujarnya.
Saat di IGD RSUD Nganjuk, Hartono meminta informasi kondisi anaknya kepada petugas. Bak disambar petir di siang bolong, Hartono mengetahui jika putranya sudah meninggal dunia. Saat itu, Putra sudah di ruang jenazah.
Tangis pun tak terhindarkan. Kepergian Putra selama-lamanya membuat keluarga merasa sangat kehilangan. Selama ini, Putra dikenal sebagai anak yang rajin beribadah. Dia menjadi remaja masjid di desanya. “Setiap hari, Putra itu ngaji di masjid dan musala,” kenangnya.
Selain itu, cita-cita Putra sebagai peternak terpaksa dikubur dalam-dalam. Padahal, dia sudah belajar beternak ayam. Saat itu, Putra meminta modal kepada ayahnya untuk beternak ayam. “Saya belikan sepasang ayam,” kenang Hartono.
Dengan telaten, Putra merawatnya. Kemudian, ayam berkembang biak. Dia akhirnya mampu mengembalikan uang Hartono sebesar Rp 450 untuk membeli sepasang ayam tersebut. “Sekarang ayamnya tidak ada yang merawat,” ujarnya dengan nada sedih.
Kejadian ini menjadi pelajaran yang sangat berharga bagi masyarakat. Karena Revan yang mengendarai sepeda motor Honda Scoopy masih berusia 12 tahun. Dia belum memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) C. “Tidak boleh anak berusia di bawah 17 tahun naik motor,” sambung Kasubbag Humas Polres Nganjuk Iptu Supriyanto.
Editor : adi nugroho