Harmoko, mantan menteri penerangan di era Presiden Soeharto meninggal dunia pada Minggu malam (4/7). Pria asli Desa/Kecamatan Patianrowo, Kabupaten Nganjuk ini meninggal dunia di RSPAD Gatot Soebroto Jakarta di usia 82 tahun. Kepergian Harmoko membuat keluarga besar dan orang dekatnya di Patianrowo merasa sangat kehilangan.
ANDHIKA ATTAR. PATIANROWO, JP Radar Nganjuk.
Suasana duka menyelimuti keluarga Harmoko di Desa/Kecamatan Patianrowo kemarin. Kabar meninggal dunianya Harmoko pada Minggu malam (4/7) sudah menyebar ke seluruh penjuru Tanah Air. Meski demikian, tidak ada persiapan pemakaman yang dilakukan keluarga Harmoko di Patianrowo. Karena menteri yang lekat dengan kata-kata “atas petunjuk Bapak Presiden” tersebut tidak dimakamkan di tanah kelahirannya. Harmoko dimakamkan di TMP Kalibata.
“Pak Harmoko itu baik orangnya,” ujar Maksun, orang yang dipercaya mengurus rumah keluarga Harmoko di Desa/Kecamatan Patianrowo saat ditemui wartawan koran ini kemarin.
Meski bukan saudara tetapi Maksun sudah merasa Harmoko seperti saudaranya sendiri. Apalagi, sejak tahun 1980, pria berusia 66 tahun telah bekerja di rumah Harmoko. Saat itu, dia dipercaya Asmoprawiro, ayah Harmoko untuk mengurus rumahnya. Tidak itu saja, Maksun juga dipercaya mengurus warung kelontong keluarga tersebut. Bahkan, saat ini, Maksun juga mendapat kepercayaan mengurus rumah dan Padhepokan Trah Asmoprawiro. “Sejak muda hingga sekarang saya sudah mengabdi di sini,” ujarnya.
Meski demikian, Maksun baru mengenal Harmoko saat dia sudah dewasa. Karena Harmoko sejak muda sudah di Jakarta meniti karir mulai dari wartawan, menteri penerangan, hingga menjadi politisi dan duduk di kursi ketua MPR.
Pertemuan Maksun dan Harmoko terjadi saat Harmoko mudik. Karena setiap tahun, Harmoko selalu mudik. “Biasanya mudik di bulan November atau Desember,” ujarnya.
Saat mudik itulah, Harmoko selalu menggelar berbagai acara. Mulai dari menggelar wayang kulit, ludruk, hingga pengajian. Dia juga selalu melakukan ritual kuliner wajib, yaitu makan nasi pecel tumpang dan nasi becek. “Nasi pecel tumpang dan nasi becek itu adalah menu favoritnya,” ujar Maksun.
Sayang, Harmoko sudah tidak bisa menikmati nasi pecel tumpang dan nasi becek lagi. Dia terakhir pulang kampung pada tahun 2019. Saat itu, Harmoko sudah duduk di kursi roda. “Sudah sepuh sekali,” ujar pria yang rambutnya penuh uban ini.
Dengan meninggal dunianya Harmoko, Maksun mengharapkan, semua pihak untuk mendoakan dan memaafkan segala kesalahan Harmoko baik itu disengaja maupun tidak. “Semoga Pak Harmoko husnul khotimah,” harapnya.
Editor : adi nugroho