Abdul Mutholib bergelut dengan ikan hias mulai dari nol. Sejak 1983. Dia menekuninya hingga menjadi pembudidaya beromzet jutaan rupiah per minggu.
Konsisten dan kerja keras Abdul Mutholib tak mengelabuhi hasil. Hingga kini, pria asal Desa Badalpandean, Kecamatan Ngadiluwih tersebut tetap eksis menggeluti budi daya ikan hias.
Meski tak hanya dirinya yang membudi daya ikan di desa tersebut, namun keberadaannya sebagai pembudidaya cukup diperhitungkan. Pengalamannya pun cukup panjang.
Hal tersebut yang menyebabkan aktivitas budi daya ikan yang dilakoni Abdul Mutholib tak berlangsung instan. Dia memulainya sejak lebih dari tiga dekade silam. “Tepatnya pada tahun 1983,” ujarnya.
Peternak ikan yang akrab disapa Tholib itu memulainya dari bawah. Awalnya pun hanya dengan modal uang Rp 14 ribu. Uang dibelikan gentong dari tanah liat penyimpanan ikan. “Itu modal awal untuk beli gentong,” timpalnya seraya tertawa mengenang masa lalunya.
Dari gentong itulah, kini usaha ikannya bisa melejit. Bahkan Tholib kini memiliki 15 kolam ikan. Tak hanya itu, omzetnya pun sudah sekitar Rp 10 juta per minggunya. Dari usaha tersebut, ia bisa menguliahkan kedua anaknya.
Padahal di tahun 1992, dia terpaksa harus berutang di bank sebesar Rp 750 ribu. Uang pinjaman itu untuk membuat kolam. Kredit tersebut dipakainya untuk mencicil bikin kolam per kotak. ”Hingga tahun 2000 baru lunas,” akunya.
Kolam tersebut semula diisi dengan ikan lele. Itu jenis ikan pertama yang dipeliharanya. “Dulu ikan lele saya cari dari sungai,” ungkap Tholib seraya memilah ikan cupang betina dan jantan.
Dari tangkapan ikan di sungai itulah perlahan ditekuninya. Mula-mula dari lele dumbo. Lalu, tiga tahun sesudahnya terus berkembang meski masih menerima pasokan dari Tulungagung.
Selanjutnya sekitar 1990-2005, Tholib mencoba berdagang mandiri di rumahnya. Tak disangka justru banyak menarik minat. Satu demi satu pedagang ikan hias pun berdatangan ke tempatnya.
Dari situlah Tholib mulai merambah pasar ikan hias ke Jawa Tengah. Setidaknya ada 20 macam ikan, mulai ikan koi, cupang, lohan, ikan feraferi. Totalnya sekitar 15 ribu ekor ikan. Jangkauan pasarnya mulai Juwono, Rembang, Cepu, Pekalongan, Pati, Kudus, Demak, dan Purwodadi.
Tholib sampai memahami karakteristik tiap pedagang di masing-masing daerah. Saat ini dalam seminggu, Tholib mengirim, dua kali ke Jawa Tengah. Sasarannya enam kabupaten. “Sekarang napak tilas area saya dulu,” urainya.
Itu berlangsung selama tiga tahun, mulai 2005–2008. Setelah dirasanya cukup menjajah pasar ikan di Jawa Tengah, Tholib berhenti mengirim ke Jawa Tengah. Dia memilih fokus budi daya. Sedangkan yang mengirimkan ikan ke pasaran sudah ada yang menjalankan.
”Itu dari arahan saya, mulai dari lokasi hingga karakter orangnya,” jelas Tholib seraya memilah benih ikan. (wi/ndr)
Editor : adi nugroho