Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Badaralam dan Akbar Syahalam, Kakak Beradik Dalang Nganjuk

adi nugroho • Jumat, 25 Juni 2021 | 19:05 WIB
badaralam-dan-akbar-syahalam-kakak-beradik-dalang-nganjuk
badaralam-dan-akbar-syahalam-kakak-beradik-dalang-nganjuk


R.M. Luthfi Badaralam Badaralam dan R. Akbar Syahalam adalah dalang muda asal Kabupaten Nganjuk. Kakak beradik ini menjadi dalang sejak kecil. Saat pandemi Covid-19 ini mereka tampil secara virtual.


KAREN WIBI, NGANJUK, JP Radar Nganjuk.


Sanggar Asthabrata di Perumahan Ganungkidul, Kecamatan Nganjuk terlihat sepi kemarin. Padahal, biasanya sanggar tersebut ramai. Tidak terlihat sinden. Gamelan juga tidak berbunyi. “Sekarang sepi tanggapan karena pandemi Covid-19,” ujar Badar.


Padahal, sebelum pandemi Covid-19, sanggar tersebut rutin dijadikan tempat berlatih Badaralam dan Akbar Syahalam, adiknya, bermain wayang kulit. Bersama grup wayang kulit Asthabrata, Badar berlatih di sanggar tersebut. Mereka sejak kecil sudah belajar dalang. Badar yang berusia 26 tahun dan Akbar, adiknya, berusia 21 tahun sudah malang melintang di dunia wayang kulit. Mereka sudah tampil di beberapa daerah di luar Nganjuk. Dengan grup Asthabrata, Badar dan sang adik terkenal sebagai dalang muda asal Nganjuk. “Jika tidak ada tanggapan, kami sering tampil di sanggar untuk menghibur masyarakat,” ujarnya.


Namun karena adanya larangan berkerumun dan menggelar pertunjukan wayang, Badar dan Akbar tidak bisa pentas. Agar kemampuan mendalang tidak hilang, Badar dan Akbar tetap pentas. Namun, tidak offline. Mereka memilih tampil secara virtual. “Kami tampil di YouTube,” ujar Badar.


Sejak Agustus 2020, channel YouTube milik Badar langsung dibanjiri penonton. Setiap video yang diunggah, selalu ada ribuan viewers. Mereka mayoritas adalah pencinta wayang kulit. Karena tidak ada pertunjukan wayang yang offline selama pandemi Covid-19.


Yang menarik, tidak hanya warga Nganjuk dan sekitarnya saja yang melihat pagelaran wayang kulit dengan dalang Badar dan Akbar. Ada juga warga Indonesia yang bekerja di luar negeri. Bahkan, banyak permintaan dari penonton untuk tampil secara virtual. “Kami mendapat job tampil secara virtual dari Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di Hongkong pada 11 Juli nanti,” sambung Akbar.


Untuk pendapatan dari pagelaran wayang virtual memang tidak sebesar saat tampil secara langsung. Namun, hal itu dianggap Badar dan Akbar sebagai salah satu ikhtiar untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari kru di Sanggar Asthabrata. Karena itu, setiap tampil, Badar dan Akbar harus mengeluarkan uang dari saku pribadinya untuk membayar anggota grup Asthabrata. Sedangkan, jika mendapat job tampil secara virtual, uang yang didapat dibagi ke semua anggota. “Sebulan bisa dapat satu atau dua job,” ujar Akbar.


Sebagai seniman, Badar dan Akbar tidak hanya mengejar pendapatan dari bermain wayang. Namun, mereka ingin anak-anak muda di Indonesia menyukai wayang. Sehingga, wayang kulit yang menjadi kesenian asli Indonesia tidak punah. “Jangan sampai wayang kulit ini dicaplok negara lain,” ingat Badar.


Apalagi, saat ini, Badar menyandang sebagai finalis Pemuda Pelopor tingkat Jawa Timur Bidang Agama, Sosial, dan Budaya. Dia berlomba untuk menjadi yang terbaik di Jawa Timur. “Mudah-mudahan bisa juara,” harap lulusan S-2 jurusan perdalangan di ISI Solo ini.

Editor : adi nugroho
#kabar nganjuk #seni #radar nganjuk #wayang