Pedagang TRAL harus berjuang ekstrakeras. Berbagai tantangan harus dihadapi. Mulai dari TRAL yang sepi pengunjung. Kemudian, pedagang harus rela buka tutup selama pandemi Covid-19. Sehingga, pendapatan dari berjualan di TRAL tidak bisa diandalkan.
HABIBAH A. MUKTIARA, Nganjuk JP Radar Nganjuk
Jarum jam menunjukan pukul 10.00 WIB. Matahari mulai terik. Namun, hal itu tidak dirasakan bagi pedagang di Taman Rekreasi Anjuk Ladang (TRAL). Karena TRAL adalah taman rekreasi yang rindang. Pohon-pohon besar tumbuh rindang d sana. Sehingga, sedikit sekali cahaya matahari yang mampu menembusnya.
Suasana yang sejuk dan rindang tersebut sebenarnya sangat pas untuk bersantai bersama keluarga. Namun, ternyata pengunjung di TRAL hanya bisa dihitung dengan jari. Pedagang makanan dan minuman yang berjajar di dalam TRAL lebih banyak melamun. Padahal, berbagai macam makanan dan minuman sudah dipajang di depan warung. Snack berbagai merek yang menjadi idola anak-anak juga ditata rapi. Namun, tetap tidak ada pengunjung yang mendatangi stan mereka.
Saat wartawan koran ini mendekati stan, seorang perempuan langsung menawari. “Monggo gorengannya. Makanan juga ada,” ujar Lidia Liana, salah satu pedagang makanan di TRAL.
Perempuan berusia 39 tahun ini adalah salah satu pedagang yang setia berjualan di TRAL. Lidia rela menunggui dagangannya dari pagi hingga sore hari. Padahal, pengunjung TRAL sepi pengunjung. Beruntung, tarif sewa stan di TRAL sangat murah. Sebulan mereka hanya dikenakan tarif sewa Rp 25 ribu. Itu pun sudah dapat fasilitas listrik gratis. “Sehari hanya dapat Rp 60 ribu,” keluhnya.
Meski sepi pengunjung tetapi dagangan Lidia sangat komplet. Itu semua dilakukan untuk menarik pengunjung. Jika dagangan sedikit, dikhawatirkan pengunjung enggan membeli. Hal tersebut juga dilakukan pedagang yang lain.
Banyaknya dagangan yang dijual tersebut otomatis membuat pedagang harus mengatur strategi agar tidak terus merugi. Salah satunya dengan kulakan makanan atau minuman yang tidak gampang basi. Snack-snack yang dijual juga harus memiliki waktu expired yang panjang. “Jika ada snack yang hampir expired maka saya makan sendiri agar tidak rugi,” ujar warga Kelurahan Ploso, Kecamatan Nganjuk.
Beruntung, tarif sewa stan di TRAL sangat murah. Sebulan mereka hanya dikenakan tarif sewa Rp 25 ribu. Itu pun sudah dapat fasilitas listrik gratis.
Hal yang sama dilakukan pedagang yang lain. Setiap pagi sebelum berjualan, mereka mengecek dagangan. Mulai dari kemasan hingga waktu kedaluwarsa. Ini dilakukan agar tidak merugikan konsumen. “Kami jualannya itu magrok (menetap, red). Jadi, kualitas dagangan kami utamakan,” ungkap Salamah.
Sebagai pedagang yang sudah puluhan tahun berjualan di TRAL, Salamah dan pedagang lain berharap kejayaan TRAL kembali. Harapan itu muncul dengan rencana Dinas Pariwisata, Kepemudaan, Olahraga dan Budaya (Disparporabud) Kabupaten Nganjuk yang akan menggandeng pihak ketiga untuk menyulap TRAL menjadi Nganjuk Night Spectacular (NNS). “Semoga TRAL bisa ramai seperti tahun 2000-an,” harapnya.
Saat ini, Salamah dan pedagang yang lain pesimis jika TRAL akan kembali ramai pengunjung jika tidak segera berbenah. Karena pertunjukan jaranan yang biasanya menyedot ratusan orang ke TRAL, tidak bisa lagi dilaksanakan. Pandemi Covid-19 yang melarang warga berkerumun adalah penyebabnya. “Mudah-mudahan saja NNS bisa terwujud,” ujarnya.
Editor : adi nugroho