Wanita kian mewarnai tari Pecut Samandiman Kediri. Meskipun, panjang dan berat cemeti bisa jadi hal yang menyulitkan.
REKIAN, KOTA, JP Radar Kediri
“Saya ingin nguri-uri (menjaga, Red) budaya,” ucap Tutik Legawati, di lapangan Desa Karangrejo, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Kediri kemarin. Wanita 40 tahun asal Kelurahan Bangsal, Kecamatan Pesantren ini mengatakan itu bukan tanpa sebab. Dia adalah salah satu penari Pecut Sandiman Kediri yang akan tampil saat perayaan Hari Jadi Kota Kediri ke-1.142 nanti.
Tak sembarang tari pecut, Tutik dan ratusan penari lainnya bakal mencetak sejarah. Mereka bakal menampilkan tari dengan pecut terpanjang. Karena itu, para penari yang terlibat butuh latihan yang intensif.
“Kalau terlalu lama mainnya bisa tak kuat. Makanya perlu latihan,” kata Tutik.
Seperti pagi kemarin (13/6), sekitar pukul 10.00, perempuan berambut panjang itu latihan bersama penari lainnya. Di tangannya terlihat pecut dua warna, hitam dan putih. Panjangnya mencapai delapan meter dengan berat empat kilogram. Jauh lebih berat dibanding pecut pada umumnya.
Wanita ini terlihat lincah kala memainkan pecut seperti warna ular weling itu. Tubuhnya memutar 90 derajat. Tangannya meliuk, mengayunkan cemeti panjang. Liukan itu berlanjut hingga ujung cemeti. Berakhir dengan suara letusan yang mirip suara petasan.
Gerakan itu adalah khas jurus Pecut Samandiman Kediri. “Berbeda dengan (gerakan) pecut daerah lain,” aku perempuan berambung panjang ini.
Tari Pecut Samandiman Kediri memang punya gaya khas. Sama-sama berbunyi ketika di atas tanah, penari daerah lain membunyikannya di sisi samping. Sedangkan penari Pecut Samandiman Kediri membunyikannya di depannya. Sehingga tak membahayakan sang penari.
Meskipun sederhana, tarian ini punya tingkat kesulitan tersendiri. Apalagi bila penarinya lama tak membunyikan pecut. “Agar hasilnya selalu sempurna maka harus berkonstentrasi. Kalau tidak bisa konsen pecutnya tidak bisa bunyi,” ucapnya sambil tersenyum.
Memang, intensitas tampil Tutik dan penari pecut lainya berkurang sejak pandemi. Karena itulah mereka berlatih serius demi tampil di puncah hari jadi itu. Apalagi, ada rencana mereka memainkan panjang pecut lebih dari 12 meter. Bila itu terlaksana maka akan menjadi rekor untuk pecut terpanjang yang dimainkan penari samandiman.
Menurutnya, kesulitan utama sebenarnya bukan terletak pada panjang pecut. Melainkan berat cambuk yang bisa menyulitkan penari. Sebab, cambuk yang digunakan bisa lebih dari empat kilogram.
Karena itulah, mayoritas penari pecut adalah laki-laki. Namun, saat ini jumlah pemain wanita seperti Tutik kian banyak. Usianya bahkan masih muda-muda.
Hal itu diakui oleh M. Hanib, inisiator kegiatan pertunjukan Pecut Samandiman terpanjang di Hari Jadi Kota Kediri nanti. “Rencananya nanti yang tampil tiga perempuan (salah satunya Tutik, Red) dan tiga lelaki,” terang Munib.
Pria asal Kelurahan Kemasan, Kota Kediri ini mengklaim jumlah pemain Pecut Samandiman Kediri lebih dari seratus orang. Perempuannya juga sudah banyak. Akan terlihat jika nanti main kolosal.
Sejauh ini, pecut yang disiapkan dua ukuran. Untuk perempuan 7-8 meter sedangkan, sedangkan yang pria 10-15 meter. (fud)
Editor : adi nugroho