Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Luqman Karim, Jus Buah Majanya Diminati Hingga Sumatera dan Kalimantan

adi nugroho • Minggu, 13 Juni 2021 | 02:41 WIB
luqman-karim-jus-buah-majanya-diminati-hingga-sumatera-dan-kalimantan
luqman-karim-jus-buah-majanya-diminati-hingga-sumatera-dan-kalimantan

LARIS: Luqman Karim menunjukkan olahan jus buah maja buatannya yang laku dijual hingga ke luar pulau Jawa.


 


 


Diyakini Jadi Obat


 


Di tangan Luqman Karim, buah maja (mojo) yang dianggap beracun justru bisa menjadi jamu. Dijual dalam bentuk jus, olahannya dipercaya mampu menyembuhkan beragam penyakit.


 


REKIAN, KEPUNG, JP Radar Kediri


 


 


Luqman Karim tak pernah menyangka jika racikan buah maja yang selama ini dianggap beracun itu justru diminati. Tiga tahun membuat jus maja, pria asal Dusun Jegles, Desa Keling, Kepung ini tak hanya menjual olahannya di lokal Kediri. Melainkan juga diminati warga di Sumatera dan Kalimantan.


“Awalnya (membuat jus maja, Red) karena dipaksa orang yang sakit diabetes. Datang ke rumah minta diobati,” kenang Luqman tentang awal mula membuat jus maja. 


          Tak mau mengecewakan orang yang mendatanginya, Luqman lantas salat istikharah. Dia memutuskan membuat racikan dari buah maja setelah membaca buku lama tentang kisah Ra Tanca Majapahit, milik kawannya. Buku itu menceritakan tentang tabib yang menggunakan buah maja untuk menyembuhkan berbagai penyakit.


          Setelah membaca buku itu, Luqman semakin yakin jika buah maja bisa untuk mengobati penyakit. Pria yang menamatkan pendidikannya di pondok pesantren ini lantas berkali-kali mencoba menemukan resep agar buah maja itu bisa dikonsumsi.


Tidak adanya panduan mengolah buah maja, membuat Luqman harus uji coba sendiri. Belasan kali gagal, dia tak juga menyerah. Saat pertama produksi, cairan buah maja itu terasa sepet dan pahit. Baunya juga tidak sedap.


          Dengan kondisi tersebut, dia tidak bisa memberikan olahan itu kepada orang lain. Setelah bebeberapa kali mencoba, Luqman bisa menemukan cara yang pas. Manis, sedikit sepat.


          Jus atau jamu maja buatan Luqman sama sekali tidak diberi campuran bahan kimia. Murni sari dari buah maja matang yang diperas. Kemudian air perasan direbus. “Ini bukan manis buatan, asli dari buah mojo (maja, Red),” aku Luqman tentang rasa manis di jamu buatannya.


          Setelah berhasil membuat jamu dengan rasa manis sepat khas buah maja, Luqman lantas memberikan sari buah itu kepada orang yang sakit diabetes. Dua bulan berjalan, penyakit diabetesnya bisa sembuh.


Belajar dari pengalaman itu, Luqman semakin yakin jika sari maja yang dia produksi bisa menyembuhkan penyakit. Sejak saat itu, permintaan jamu maja semakin banyak.


          Sering kali dia kewalahan memenuhi permintaan karena bahan baku yang sulit. Untuk mendapatkan hasil maksimal, Luqman memang tidak bisa sembarang mengolah buah maja. Melainkan, dia harus mencari buah yang sudah tua. Ciri-cirinya, buah yang awalnya berwarna hijau itu berubah menjadi kuning.


Butuh buah yang sudah tua agar saat diperas bisa mendapatkan air yang banyak. “Ini sari buah maja murni. Tidak ada tambahan air dan gula,” bebernya.


          Air dari perasan buah maja itu lantas direbus hingga matang. Lantaran tidak ada bahan pengawet, setiap kali produksi jamu yang sudah dikemas di botol itu dimasukkan ke dalam kulkas agar awet. Satu botol kemasan berukuran 250 mililiter (ml).


Sekali produksi, Luqman bisa menghasilkan 100 botol. Satu botolnya dibanderol dengan harga Rp 50 ribu. Melihat terus meningkatnya peminat, dia berupaya untuk membuat izin dan nama paten produknya.


Sayangnya, hingga saat ini dia belum bisa mengurus izin dan paten. Sebab, dinas di Kabupaten Kediri belum bisa memberi izin produk makanan yang berbentuk cairan.


Jika awalnya sari buah maja itu disebut jamu, kini Luqman mengubah nama produknya menjadi juice Marrelose. “Ini atas permintaan teman, awalnya saya ingin ganti dari jamu menjadi Jus Marine Los,” paparnya sambil tertawa. Baginya Marrelose juga punya kemiripan dengan nama ilmiah dari buah maja yakni aegle marmelos.


Tiga tahun berjalan, produk jus buah maja buatannya semakin laris. Pandemi Covid-19 juta tidak mengganggu penjualannya. Baru-baru ini dia mengirim produknya ke Sumatera dan Kalimantan. Dalam satu bulan, dia bisa menjual lebih dari 100 botol.


Melihat tren penjualan yang sekarang mengarah ke online, Luqman berharap produknya bisa segera mendapat izin. Sehingga, dia juga bisa menjual produknya lewat marketplace. “Selama ini, produk saya hanya dijual kepada langganan yang pernah mengonsumsi sari buah maja itu untuk obat,” urainya. (ut)

Editor : adi nugroho
#kediri #sumatera