Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Mengenal Lusia Angga Kusuma, Juru Bahasa Isyarat Nganjuk

adi nugroho • Jumat, 16 April 2021 | 19:05 WIB
mengenal-lusia-angga-kusuma-juru-bahasa-isyarat-nganjuk
mengenal-lusia-angga-kusuma-juru-bahasa-isyarat-nganjuk


Selain mengajar di SLB Santi Kosala Mastrip, Lusia Angga Kusuma juga disibukkan dengan aktivitasnya menjadi juru bahasa isyarat di Kota Angin. Untuk mengasah keterampilannya, dia sengaja belajar lewat Youtube dan Tiktok.


IQBAL SYAHRONI, NGANJUK. JP Radar Nganjuk


Suara Kapolres Nganjuk AKBP Harviadhi Agung Prathama terdengar keras saat press release Jumat pagi (9/4) lalu. Dia membeber puluhan tersangka dari sejumlah kasus pidana yang ditangani oleh Polres Nganjuk. Perwira dengan pangkat dua melati di pundak ini juga menjelaskan secara detail tiap kasus yang ditangani dalam operasi penyakit masyarakat (pekat) 2021.


Dalam beberapa kesempatan, perwira menengah itu juga menanyai salah satu tersangka. Namun, bukan aktivitas pria asli Jakarta itu yang jadi perhatian. Melainkan, keberadaan perempuan berjilbab di dekatnya.


Setiap kali Harvi berbicara, perempuan berbaju hitam itu terlihat menggerakkan bibir tak ubahnya orang bicara. Tetapi tidak mengeluarkan suara. Hanya tangan dan gerakan matanya yang terlihat sangat aktif.


Perempuan yang tak lain adalah juru bahasa isyarat (JBI) itu adalah Lusia Angga Kusuma. “Ini bahasa isyarat,” kata Lusia tentang gerakan mulutnya yang komat-kamit diikuti gerakan tangan dan jari-jemarinya.


Masyarakat umum hampir dipastikan tidak mengerti maksudnya. Meski demikian, penyandang disabilitas, khususnya tuna rungu sangat memahami maksud gerakan Lusia.


Minggu lalu merupakan kali kedua Lusia menjadi JBI. Keterlibatannya di pers release Jumat lalu untuk membantu para penyandang tuna rungu memahami penjelasan AKBP Harvi. Terutama, saat acara tersebut ditayangkan di televisi.


Perempuan asal Desa Mungkung, Rejoso itu awalnya tak menyangka akan menjadi JBI di acara yang digelar Polres Nganjuk. Apalagi, sebelumnya memang bukan dia yang ditunjuk.“Saya tiba-tiba dihubungi oleh MKKS untuk menggantikan JBI karena saat itu berhalangan hadir,” kenangnya.


Pertama kali menjadi penerjemah, tak urung Lusia mengaku deg-degan. Bukan saja karena dia harus ada di antara para pelaku pidana. Melainkan karena dia ada di antara sejumlah perwira Polres Nganjuk.     


Beruntung, rasa groginya bisa diatasi seiring dengan berjalannya waktu. Bagaimana guru SLB Santi Kosala Mastrip itu belajar bahasa isyarat?


lulusan Pendidikan Luar Biasa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu memang sudah belajar sejak di bangku kuliah. Mulai dari mata kuliah, hingga praktik dengan murid tuna rungu selama perkuliahan.


Yang menjadi hambatan selama belajar bahasa isyarat, baik itu Sistem Bahasa Isyarat Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo) adalah pencampuran dengan bahasa ibu. “Maksudnya dari para murid ini, kan sebelum belajar di sekolah, pasti belajar komunikasi dua arah dengan orang tua dan keluarga di rumah,” kenangnya.


Lambat laun, Lusia pun harus mempelajarinya. Sebab, ada banyak perubahan berdasar kebiasaan anak-anak yang harus diadaptasi. Selain ilmu yang didapat di bangku kuliah, Lusia mengaku bisa cepat belajar bahasa Isyarat dengan mengikuti lagu dan diisyaratkan.


Selanjutnya, Lusia merekamnya lewat aplikasi Tiktok ataupun YouTube. “Sekarang juga sudah banyak yang melakukan hal tersebut. Hitung-hitung sembari belajar bareng saja,” urainya.


Editor : adi nugroho
#kabar nganjuk #radar nganjuk