Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Menelusuri Jejak Zaman Purba di Nganjuk (2)

adi nugroho • Selasa, 13 April 2021 | 19:54 WIB
menelusuri-jejak-zaman-purba-di-nganjuk-2
menelusuri-jejak-zaman-purba-di-nganjuk-2


Di bawah rimbun pepohonan dan timbunan tanah, rahasia purba tersimpan rapi. Tak banyak yang sadar akan potensi itu. Hanya segilintir pihak yang tahu, termasuk keberadaan fosil tanduk bovidae di sana.


Lokasi yang dikenal warga dengan nama Talun Gangsir di Desa Tritik, Rejoso adalah salah satu titik paling fenomenal. Di petak 47 RPH Turi, BKPH Tritik tersebut telah banyak ditemukan fosil hewan purba.


Di tengah rimbuh hutan belantara, fosil hewan purba seperti tercecer jatuh dari langit begitu saja. Pasalnya tidak semua fosil yang ditemukan terkubur di dalam tanah. Banyak pula potongan fosil yang tergeletak begitu saja di permukaan tanah. Atau hanya terkubur sebagian saja.


“Di sini banyak ditemukan fosil bovidae (keluarga biologis hewan berkuku belah dan hewan pemamah biak, Red),” ujar Kasi Sejarah, Seni Tradisi, Museum, dan Kepurbakalaan Disparporabud Nganjuk Amin Fuadi kepada koran ini.


Anggota keluarga bovidae antara lain banteng, sapi, kerbau, bison, dan semacamnya. Hanya saja, temuan fosil hewan-hewan purba tersebut tidak selalu didapatkan dalam keadaan utuh. Tidak pula selalu berukuran besar. Mayoritas saat ditemukan sudah berwujud potongan-potongan.


Dalam ekspedisi kali ini, tim menemukan beberapa fosil yang diduga merupakan gigi dan tulang belakang yang diduga keluarga Bovidae. Namun mata orang awam kemungkinan besar juga tidak akan bisa membedakan. “Secara spesifik untuk temuan paleontologis banyak ditemukan di Nganjuk bagian utara,” imbuh Amin.


Menyusuri hutan di Talun Gangsir tidak begitu menguras tenaga. Tempatnya rindang. Udaranya sejuk. Meski akses untuk menuju ke sana relatif susah. Semua itu terbayar dengan sebuah penemuan yang membuat hati menjadi berdebar-bedar.


Amin dan Aries Trio Effendy, rekannya secara tidak sengaja mencurigai ada fosil yang mayoritas tertanam di dalam tanah. Hanya terlihat sedikit bagian luarnya. Lantaran penasaran, diputuskanlah untuk melakukan penggalian. Padahal sejatinya tim sudah hendak beranjak pulang.


Penggalian dilakukan perlahan. Meski menggunakan alat seadanya namun tim tidak ingin merusak atau merubah tata letak temuan tersebut. Penggalian agak susah lantaran fosil dicengkeram akar pohon di sana. Semakin digali, semakin terlihat bentuknya. “Ini diperkirakan fosil Bovidae. Kepala bagian atas, ini adalah tanduknya,” tutur Amin senang.


Penemuan tanduk tersebut dinilai istimewa lantaran masih relatif utuh. Menyambung antara tanduk kiri dengan kanan. Panjangnya sekitar 85 sentimeter (cm). Dengan ditemukannya fosil tanduk tersebut, sangat dimungkinkan bagian kepala lainnya juga tak jauh dari lokasi.


Hanya saja tim tidak ingin berspekulasi. Khawatir bahwa hal itu justru akan menyulitkan penelitian oleh tim ahli. “Akan kami laporkan ke tim ahli. Sementara ditutup kembali dengan tanah,” imbuhnya.


Amin menegaskan, temuan paleontologis di sana tidak hanya mamalia saja. Melainkan reptilian, bivalvia, dan gastropoda. Salah satunya adalah temuan gading gajah purba di hutan masuk Desa Sambikerep, Rejoso. Fosil stegedon itu diperkirakan berumur di atas 300 ribu tahun yang lalu.


Selain fosil hewan, wilayah Nganjuk utara juga memiliki banyak peninggalan atau bukti keberadaan manusia purba. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya gerabah dan alat sederhana yang digunakan untuk hidup sehari-hari. Mulai dari alat untuk berburu hingga bercocok tanam.


Banyak pula ditemukan menhir yang dulunya digunakan untuk tempat pemujaan atau berdoa kepada roh leluhur. Bentuk menhir tersebut beragam. Mulai dari menhir kotak, bulat, hingga yang telah dimodifikasi. Seperti halnya menhir Watu Ulo. Wujudnya seperti kepala ular. Dengan dua mata, bibir, dan sisik ular di bagian belakangnya.


Mereka dulu belum mengenal konsep Tuhan atau agama. Tetapi mereka sudah sadar akan adanya sesuatu yang lebih besar dari pada mereka. Sehingga tidak jarang bahwa bentuk menhir disesuaikan dengan pengalaman empiris yang pernah di alami.


Tidak hanya menhir Watu Ulo saja. Namun masih banyak lagi lainnya tersebar di belantara hutan di Bentang Kendeng bagian timur tersebut. “Diperkirakan menhir ini dari zaman megalitikum,” pungkas Amin.

Editor : adi nugroho
#kabar nganjuk #sejarah #radar nganjuk