Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Tantangan Menjangkau Hutan Tritik dan Bendoasri, Rejoso

adi nugroho • Sabtu, 10 April 2021 | 20:15 WIB
tantangan-menjangkau-hutan-tritik-dan-bendoasri-rejoso
tantangan-menjangkau-hutan-tritik-dan-bendoasri-rejoso


Ekspedisi Bentang Kendeng Timur: Menelusuri Jejak Zaman Purba di Nganjuk memberi banyak kesan berarti. Mulai dari mata yang dimanjakan pemandangan. Hingga tulang yang dibuat rontok karena akses jalan.


ANDHIKA ATTAR. REJOSO, JP Radar Nganjuk.


Mendengar nama Tritik dan Bendoasri saja sudah membuat orang memicingkan mata. Bagaimana tidak, dua desa di Kecamatan Rejoso tersebut berada di ujung barat laut Kota Angin. Terletak di lereng gunung Pandan dan gunung Kendeng. Berbatasan langsung dengan Kabupaten Bojonegoro dan Madiun.


Dari pusat kota Nganjuk masih berjarak 22 kilometer (km) untuk menuju Balai Desa Bendoasri. Butuh waktu sekitar 30 menit untuk bisa tiba di sana. Itu pun dengan medan yang tidak biasa. Lepas dari pos jaga Perhutani RPH Turi, BKPH Tritik akses jalannya akan berubah. Dari aspal menjadi makadam.


Padahal itu adalah jalur utama untuk menuju ke dua desa tersebut. Hampir tidak ada istilah ruas jalan mana yang lebih enak dipilih untuk berkendara. Baik di kanan maupun kirinya. Rusak parah. Lebih cocok menjadi jalur off road dibandingkan jalan desa.


Bukan mengada-ada jika mengatakan medan tersebut adalah jalur off road. Secara tersirat maupun tersurat sudah sangat mewakili. Pada hari pertama ekspedisi saja rantai sepeda motor yang dikendarai Amin Fuadi, salah satu tim sudah putus. Lalu, tak terhitung lagi rodanya belakang terpaksa selip di kubangan lumpur.


Padahal, aparatur sipil negara (ASN) di disparporabud tersebut telah memodifikasi sepeda bebeknya. Lengkap dengan roda bertekstur tahu. Namun tetap saja kalah dengan medan di sana.


Belum lagi kalau harus menerjang semak belukar. Menerobos hutan belantara. Menerabas gundukan dan cekungan. Menghajar jalan tanah penuh lumpur. Melompati aliran sungai dan jalan bebatuan. Seakan menjadi menu wajib yang ditemui setiap harinya selama ekspedisi. Sepeda motor dan badan dipenuhi lumpur sudah seperti makanan sehari-hari.


Berkendara di sana tidak bisa dilakukan secara ugal-ugalan. Gigi tiga nyaris tidak pernah digunakan. Selain akses jalan yang hancur, kontur pegunungan dengan turunan dan tanjakan juga jadi tantangan tersendiri. Jangan harap ke luar dari sana dengan badan yang tidak pegal-pegal.


Untuk menuju satu situs ke situs lainnya seakan jihad rasanya. Setelah lelah melahap jalanan, situs yang ada pun kebanyakan tidak langsung bisa dinikmati. Tak jarang tim harus membersihkan situs yang ada terlebih dahulu. Baik menggunakan tangan kosong maupun celurit untuk menebas tanaman liar.


Hal itu dilakukan untuk mendapatkan visual terbaik dari situs yang ingin dilihat. Seperti halnya saat tim berkunjung ke situs Menhir Joko Dolog dan makam orang Kalang. Keduanya berada di petak 41 RPH Turi, BKPH Tritik. Masuk Desa Bendoasri, Rejoso.


Kedua situs itu ditemukan dalam kondisi tidak terawat. Banyak rumput dan tanaman liar lain yang mengotori pemandangan di sana. Padahal, lokasi menhir Joko Dolog menawarkan lanskap hijau hutan dengan latar belakang gunung dan birunya langit.


Seluruh situs yang didatangi memiliki keunikan dan cerita tersendiri. Tidak bisa dibandingkan antar-satu situs dengan situs lainnya. Tergantung selera. Rencana ke depan, situs tersebut akan dijadikan obyek wisata daerah. Namun, jika tidak ada perhatian khusus terhadap isu tersebut, ide itu tak ubahnya isapan jempol belaka.


Apabila akses jalan tidak dibenahi atau ditata terlebih dahulu, calon pengunjung akan berpikir berkali-kali sebelum ke sana. Kecuali mereka yang memang berniat untuk menjajal kekuatan fisik dan performa kuda besinya.


Keramahan penduduk di sana jadi obat tersendiri. Setiap kali disapa, mereka akan membalas lengkap dengan senyum merekah menunjukkan ketulusan. Baik saat berpapasan di jalan, rumah, maupun di tengah hutan.


Seperti halnya saat menuju makam sakral di Dusun Sukoliman, Desa Tritik, Jawa Pos Radar Nganjuk tersesat di tengah hutan lantaran tertinggal oleh regu lainnya. Alih-alih dibiarkan begitu saja, para pencari rumput yang ditemui justru sangat murah hati menawarkan bantuan. Menunjukkan jalan.


Banyak pengalaman, cerita, kesan, dan pelajaran yang didapatkan tim selama ekspedisi demi menyuguhkan kado indah untuk warga Kota Angin tercinta di peringatan HUT ke-1084 hari ini. Tak banyak harapan yang bisa digantungkan selain semoga ekspedisi ini bisa bermanfaat.

Editor : adi nugroho
#kabar nganjuk #sejarah #radar nganjuk