Dusun Sukoliman menjadi salah satu daerah disakralkan warga Desa Tritik dan sekitarnya. Berdasarkan mitos, dusun itu hanya bisa ditempati oleh tiga kepala keluarga (KK) saja. Apabila dilanggar, petaka akan tiba.
ANDHIKA ATTAR. REJOSO. JP Radar Nganjuk.
Mitos yang beredar tentang Dusun Sukoliman, Desa Tritik, Rejoso telah menyebar selama puluhan tahun. Terutama bagi warga setempat. Legenda tersebut telah dipercaya secara turun-temurun. Jawa Pos Radar Nganjuk dan Komunitas Pecinta Sejarah Nganjuk (Kota Sejuk) mendatangi dusun yang kini kosong tak dihuni itu pada Minggu (4/4) lalu.
Medan menuju dusun yang dikeramatkan itu relatif ekstrim. Hanya bisa dilewati oleh sepeda motor. Itu pun harus jenis trail. Setidaknya sepeda motor yang telah dimodifikasi untuk medan yang sulit.
Memasuki jalan masuk ke Dusun Sukoliman, mata akan disuguhi dengan hutan lindung yang lebat. Vegetasinya pun sangat rapat. Pohon-pohon besar dengan daun yang seakan menjadi atap banyak ditemukan di sana. Turunan, tanjakan, dan kelok tajam merupakan “makanan” yang harus dilahap untuk mencapai dusun tersebut.
Bahkan, ada satu aliran sungai dengan lebar sekitar 2 meter yang harus diterabas. Hingga akhirnya mata bisa melihat salah satu rumah di sana dari kejauhan. “Itu rumahnya,” ujar Susilo, 51, salah seorang pegawai Perhutani KPH Nganjuk.
Dari jarak sekitar 500 meter, rumah berdinding anyaman bambu itu sudah terlihat. Untuk mencapainya masih harus melewati tegalan dan sawah. Rumah kosong itu dahulunya milik Mbah Setu, 65.
Rumah tersebut terbengkalai setelah pemiliknya meninggalkan lokasi tersebut awal tahun ini. Kondisi kesehatan dan umurnya yang sudah tua, membuat Setu memilih tinggal bersama anaknya di Desa Tritik.
Rumah berukuran 4x4 tersebut ditinggalkan begitu saja. Di dalamnya ada sebuah pawon tua, ranjang tanpa kasur, lemari kayu, dua meja, dan beberapa perlengkapan rumah tangga. Ada pula sebuah traktor yang dulunya biasa dibuat untuk menggarap sawah di sana.
Menurut Susilo, dusun tersebut memang cukup disakralkan masyarakat setempat. Berdasarkan legenda, daerah itu hanya boleh ditempati oleh tiga KK saja. Tidak lebih. “Kalau tidak, akan ada musibah. Sakit-sakitan,” ujar pria yang tinggal di Kelurahan Ganungkidul, Nganjuk itu.
Lantaran tidak dapat menemui Mbah Setu, tim akhirnya berganti haluan ke rumah Mbah Wajiyo, 63, karena masih dapat diajak berkomunikasi dengan jelas. Dahulu Wajiyo juga tinggal di sana. Enam tahun silam pria tua itu berpindah ke Dusun Bandungan, Tritik.
Ditemui di rumahnya yang membutuhkan waktu tempuh sekitar 45 menit dari kampung mati, lansia itu terlihat fasih bercerita. Ia membenarkan jika dusun tersebut memiliki keistimewaan tersendiri. Terutama dalam hal supranatural yang bagi kebanyakan orang susah untuk dipikir dengan nalar.
Mbah Wajiyo pun mengamini jika Dusun Sukoliman tidak boleh ditinggali lebih dari tiga KK. Suatu kali pernah ada satu keluarga yang nekat tinggal di sana meski telah menikah. Akibatnya, KK di dusun itu lebih dari tiga. “Anak dan cucunya sakit-sakitan,” kenangnya tentang peristiwa pada 1976 dan 1983 silam itu.
Berdasarkan cerita turun-temurun dipercayai warga setempat, mitos tersebut telah ada sejak masa Mataram Islam. Yakni sekitar tahun 1.800-an. Selain rumah dan cerita panjang yang menyelimuti dusun tersebut, tim juga sempat menemukan adanya sebuah punden.
Tak hanya itu, di sana juga ada sebuah pemakaman tua yang diyakini merupakan salah satu prajurit Mataram Islam. Makam tersebut berada pada petak 26 2B BKPH Tritik. Ada empat makam besar di sana. “Tetapi yang paling dituakan merupakan milik Ki Mangkunegaran,” sambung Aries Trio Effendy, salah seorang pemerhati sejarah di Nganjuk.
Terlepas apapun mitos yang beredar luas, sebuah sejarah harus tetap dirawat. Pasalnya hal itu merupakan bagian panjang dari perjalanan masyarakat Kota Angin. Jadi saksi perkembangan Bumi Anjuk Ladang yang Sabtu (10/4) besok genap berumur 1.084 tahun.
Editor : adi nugroho