Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Sulap Limbah Rumah Potong Hewan (RPH) jadi Pupuk Cair dan Kompos

adi nugroho • Sabtu, 3 April 2021 | 23:54 WIB
sulap-limbah-rumah-potong-hewan-rph-jadi-pupuk-cair-dan-kompos
sulap-limbah-rumah-potong-hewan-rph-jadi-pupuk-cair-dan-kompos



Kerap jadi sasaran protes warga karena aroma limbah yang menyengat, RPH di Kelurahan Klotok, Kecamatan Mojoroto ini mulai berbenah. Limbah pun diubah menjadi pupuk aneka tanaman di area pemotongan.


--------------------------------------


REKIAN, KOTA, JP Radar Kediri


--------------------------------------


Kesan angker di Rumah Potong Hewan (RPH) Lingkungan Klotok, Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto itu mulai pudar. Pohon besar yang berada di halaman sudah ditebang. Kini, di halaman RPH itu sudah ditanami sayur. Ada kangkung, bayam, dan terong. Juga terlihat tanaman anggur yang sudah berbuah.


“Sayuran yang ada di taman ini tidak ada yang menggunakan pupuk kimia, semuanya berasal dari belakang (lokasi pemotongan sapi, Red),” ujar Hariyanto, kepala UPTD RPH Kota Kediri menunjuk tempat jagal.


Bangunan berlantai semen itu dalam posisi terbuka dan memanjang. Hanya beberapa orang saja yang membersihkan bak dan saluran pembuangan limbah hewan yang dipotong serta taman di depan gedung jagal. 


Lelaki 50 tahun itu mengatakan, semua sayuran yang ditanam menggunakan pupuk limbah tersebut sudah bisa dipanen. Sayuran seperti kangkung tumbuh dengan ukuran jumbo. Begitu juga dengan bayam merah bisa tumbuh dengan subur. Karena sudah bisa dipanen, warga di sekitar RPH boleh mengambil secara gratis sayuran yang ada di sana.


Adanya bukti pemanfaatan pupuk dari limbah RPH itu membuat dia semakin optimistis limbah RPH yang selama ini kerap dipermasalahkan warga bisa bermanfaat. “Sekarang tidak ada lagi yang demo,” ungkapnya.


Pria asal Kelurahan Bujel, Kota Kediri yang baru dua tahun mengurusi RPH itu memiliki tantangan berat untuk menyelesaikan masalah limbah RPH. Saat itu, warga protes karena aromanya sangat menyengat. Apalagi ketika diguyur hujan, aroma limbah pasti akan meluas hingga ke rumah-rumah warga. Padahal, oleh pemkot sudah dibuatkan pagar agar limbah dari RPH tidak lagi mencemari udara ke warga sekitar.


Cara meninggikan pagar tembok keliling itu ternyata tidak bisa menyelesaikan masalah. Bau tak sedap dari limbah itu tetap menyengat saat terjadi hujan. Saat awal diminta mengurusi RPH, Hariyanto meyakinkan warga dengan mempertaruhkan jabatannya. Ketika datang ke warga di lingkungan sekitar RPH, lelaki itu meminta waktu satu tahun untuk menyelesaikan masalah bau tak sedap di sana.


Diakuinya, yang kerap memenimbulkan bau adalah cairan darah dan cucian babat rumen. Terinspirasi dari resapan septic tank, dia kemudian berusaha memisahkan antara yang cair dan padat. “Saya bikinkan lima bak. Sehingga saat pembersihan hewan yang dipotong akan berputar lima kali, sehingga bisa keluar cairannya,” ucap bapak tiga anak itu. Bak yang dibuat berukuran sekitar 2x1,5 meter. Setiap hari bak itu diisi dengan limbah.


Bak itu tidak dikuras setiap hari. Bersama dengan petugas lainnya, pengurasan dilakukan satu minggu sekali. Dengan cara seperti itu, ia bisa mendapatkan pupuk cair dan padat. Dalam satu hari, limbah rumen dari hewan yang dipotong bisa mendapat 50 kilogram limbah padat. Sedangkan yang cair dalam satu hari bisa mendapat 30 liter.


Untuk limbah padatnya kini ditampung di bak belakang tempat jagal. Untuk mendapatkan pupuk padat, setiap bak diberi cara berbeda. “Satu kita tutup dengan terpal, lainnya terbuka,” ucapnya. Hasilnya pupuk padat lebih cepat jadi dengan cara ditutup. Banyaknya pupuk padat tersebut harapannya bisa dimanfaatkan oleh warga.


Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian M. Ridwan mengatakan, ke depan pupuk padat dan cair dari limbah RPH ini bisa didistribusikan ke kawasan rumah pangan lestari (KRPL). “Rumen itu sangat baik untuk pupuk,” kata Ridwan. Oleh sebab itu, kelak pengelolaan pupuk padat dan cair dari limbah RPH akan dimasifkan untuk warga Kota Kediri. Sejauh ini, yang bisa dimanfaatkan memang baru pupuk padatnya.


Editor : adi nugroho
#kediri #mojoroto #rph #limbah #inspirasi