Sebagai polisi dia harus siap sedia mendapat panggilan tugas. Namun, hal itu tak mengurangi tanggung jawabnya sebagai ibu bagi anak-anaknya dan istri dari sang suami yang juga polisi.
-----------------------------------------
ILMIDZA AMALIA NADZIRA
KOTA, JP Radar Kediri
-----------------------------------------
Potongan rambutnya pendek. Tatapan matanya tajam, tegas. Itulah yang terbayang bila melihat sosok polisi wanita (polwan) ini, AKP Ni Ketut Suarningsih. Namun kesan itu hilang saat berbincang dengannya. Wanita kelahiran Kabupaten Kelungkung, Bali ini sangat hangat dan ramah.
Ketut, demikian Kasubbag Humas Polres Kediri Kota ini biasa dipanggil, sudah terbiasa dengan Kediri. Meskipun dia asli Bali tapi suaminya adalah orang Kediri.
Suaminya, Aiptu Agus Tunggal, saat ini juga bertugas di jajaran Polres Kediri Kota. Tepatnya di Polsek Pesantren. Keduanya bertemu saat bertugas di Polres Dili, Timor Timur, sebelum wilayah itu merdeka dan menjadi negara bernama Timor Leste.
“Tahun 2000 setelah Timor Timur merdeka langsung pindah ke Kediri,” terang wanita yang memulai karir polisi pada 1990 ini.
Awal bertugas di Kediri, Ketut ditempatkan di pelayanan perempuan dan anak (PPA) Polres Kediri. Menjadi kepala unit (kanit). Tujuh tahun bertugas di bagian ini dia menangani kasus-kasu berat yang dihadapi perempuan dan anak.
Bagi Ketut, penanganan kasus di PPA berbeda bila dibanding dengan kasus lain. “Penanganan kejahatan kasus perempuan dan anak itu memerlukan perlakuan khusus. Di satu sisi harus mengusut tuntas kasusnya. Di sisi lain juga harus bisa memberikan perlindungan,” ujarnya.
Setelah itu Ketut dipindahtugaskan ke Polres Mojokerto. Tugasnya sebagai instruktur sekolah polisi selama satu tahun. Setelah itu juga menjadi Kanit PPA Polres Mojokerto, juga selama satu tahun.
Ketut kemudian ‘balik kucing’ ke Kediri. Kali ini dia ditugaskan di Polsek Mojoroto, yang masuk jajaran Polres Kediri Kota. “Pada 2017 jadi kanit lantas di Polsek Mojoroto,” terangnya.
Setelah itu, perwira wanita ini dipercaya menempati posisi penting sebagai kasubbag humas. Sebagai sosok polwan yang pertama menempati posisi kasubbag humas, Ketut punya misi khusus. Yaitu memperkuat sinergi polisi dengan media.
Sejak kecil, ibu tiga anak ini memang bercita-cita menjadi anggota Polri. Ayah dan kedua kakaknya yang polisi menjadi motivasinya. Setamat SMA dia langsung mendaftar ke Polda Mesran, polda yang waktu itu membawah Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, danTimor Timur.
Meskipun punya seabrek tugas, Ketut bukanlah perempuan yang tak bisa membagi waktu dengan keluarga. Sang polwan tak melupakan kodratnya sebagai wanita, sebagai ibu rumah tangga.
“Kalau di rumah masih nyapu, ngepel, bersih-bersih sendiri,” aku Ketut.
Ketika di rumah, Ketut selalu melepas atribut sebagai anggota Polri. Dia ingin lebih nyaman berinteraksi dan mempersembahkan waktu untuk anak-anak serta suami. Meskipun harus stand by setiap saat ketika ada kejadian, namun tak mengurangi perannya sebagai ibu di rumah.
“Anak-anak terbiasa kami tinggal saat ada tugas mendadak. Mereka memahami tugas kami,” lanjutnya.
Mengemban dua kewajiban membuatnya harus pintar membagi waktu. Terutama dalam urusan mendidik anak-anak. Apalagi di zaman yang serba teknologi canggih ini menjadi tantangan tersendiri bagi seorang ibu seperti dirinya. Namun dia memiliki kuncinya. Yaitu bagaimana membangun komunikasi terbuka dengan anak.
“Jadikan anak sebagai partner kita. Sehingga mereka akan dekat dengan kita. Memahami karakternya kemudian cara pendekatan kepada anak,” ungkapnya.
Di sela-sela upayanya membagi waktu antara keluarga dan karir itu, Ketut ternyata masih menyempatkan berolahraga kegemarannya, yakni lari dan bulutangkis. Dua olahraga itu, menurutnya, penting untuk menjaga kebugaran tubuh dalam menopang aktivitas sebagai Polri yang siap siaga 24 jam.
“Saya hobi lari karena lari adalah olahraga paling ringan tapi manfaatnya sangat luar biasa,” dalihnya.
Hobinya itu karena latar belakang waktu masa sekolah. Dia sempat menjadi atlet mewakili sekolahnya. “Ya meskipun hanya mewakili sekolah tapi sudah bangga,” kenangnya. (fud)
Editor : adi nugroho