Pernah Tangani Pasien Perempuan Stroke yang ‘Dibuang’ Anak Kandungnya

adi nugroho • Dipublikasikan Senin, 29 Maret 2021 | 23:50 WIB
pernah-tangani-pasien-perempuan-stroke-yang-dibuang-anak-kandungnya
pernah-tangani-pasien-perempuan-stroke-yang-dibuang-anak-kandungnya

Kebanggaan seorang dokter adalah ketika melihat pasiennya sembuh. Nilai itu tertanam pada Fundhi Khrisna Adi. Ia kerap turun langsung ke lapangan.


 


“Saya memang sering berkunjung ke rumah pasien. Tidak ada aturan yang mengharuskan dokter mendatangi pasien,” ucap Dokter Fundhi Khrisna Adi Pinardi.


Demi kesembuhan pasiennya, pria 37 tahun asal Kelurahan/Kota Kediri ini senang melihat langsung kondisi orang yang ditanganinya. Dokter spesialis fisik dan rehabilitasi lulusan Fakultas Kedokteran Unair Surabaya tersebut menerapkan cara itu karena percaya kesembuhan pasien stroke dan down syndrome didukung faktor diri sendiri, keluarga, dan lingkungan.


Baginya, rumah sakit hanya penyedia alat-alat serta fasilitas agar mereka yang berkebutuhan khusus bisa menjadi lebih baik. Persentasenya sebagai penyumbang kesembuhan sekitar sepuluh persen saja. Sisanya ada di lingkungan dan keluarga.


Fundhi menerapkan metode itu saat menangani pasien perempuan dalam kondisi stroke yang ‘dibuang’ anak kandungnya. “Kejadiannya sekitar 2017 di Mojoroto, saat itu saya diajak sama ibu,” ucap anak pasangan Apin Setyawati dan Bambang Sulistyo ini ketika ditemui di ruang kerjanya di RSUD Gambiran, Jumat (26/3) lalu.


Saat itu Fundhi masih menjalani pendidikan dokter spesialis fisik dan rehabilitasi. Dorongan ibu membuatnya terpanggil ikut merawat. Ketika itulah, ia mulai melakukan pendekatan ke keluarga si perempuan yang stroke.


Ironisnya, si anak sudah tidak mau menerima ibunya yang tak berdaya. Beruntung, masih ada keluarga yang mau merawat. Cara Fundhi merawatnya sedikit berbeda. Tak hanya sebatas memberi obat, ia juga memperhatikan rumah ibu yang sakit. “Saya bicarakan ke keluarganya agar ruangan diberi ventilasi untuk sirkulasi,” ucapnya.


Waktu itu, Fundhi juga menggandeng home care peduli RSUD Gambiran.


Upayanya merawat dengan pendekatan ke pasien dan keluarganya cukup membuahkan hasil. Ibu yang semula sudah tidak berdaya selama perawatan menunjukkan perkembangan dan kemajuan pesat. Termasuk merespons saat diajak bicara. Namun, perempuan parobaya itu meninggal dua tahun lalu.


“Melihat perkembangan pasien yang semakin membaik adalah kebahagiaan,” tuturnya. Meski sering mengunjungi pasien ke rumah, Fundhi tahu batas. Dia tak boleh bersimpati pada pasien yang ditanganinya. Yang wajib dilakukan adalah menumbuhkan rasa empati.


Cara yang sama dia lakukan untuk pasien khusus down syndrome. Sejak 2018, Fundhi sudah menangani puluhan pasien down syndrome. Baginya, peran keluarga terutama orang tua, sangat penting membentuk mental anak berkebutuhan khusus.


“Dokter juga tidak bisa bekerja sendirian. Perlu ada faktor pendukung,” bebernya. Salah satu dukungan berasal dari masyarakat. Baginya, perlu ada komunitas masyarakat yang peduli pada anak berkebutuhan khusus.


Salah satu upaya adalah membangunnya. Baik untuk anak down syndrome, orang lumpuh, atau komunitas disabilitas lain. Komunitas masyarakat itu perlu dibangun agar orang tua serta anak berkebutuhan khusus bisa saling support.


“Sampai saat ini saya sering terlibat dengan berbagai komunitas disabilitas. Termasuk ikut mendirikannya,” akunya. Ada kepuasan tersendiri bagi Fundhi bila kehadirannya di komunitas sosial bisa memberi manfaat khsusunya bagi anak-anak berkebutuhan khusus. (rq/ndr)


Editor : adi nugroho
radarkediri kotakediri