Bukan hal mudah mengelola panti asuhan. Membutuhkan tanggung jawab yang besar. Keikhlasan dan selalu bersyukur yang membuat Jefri mampu meneruskan amanah orang tua untuk menjaga anak tak mampu ini.
KAREN WIBI, KABUPATEN, JP Radar Kediri
Terdengar anjing melolong dari dalam area bangunan yang berada di Jalan Arjuna Kelurahan/Kecamatan Pare. Dua anjing berwarna hitam berlari ke pintu gerbang. Seakan menjadi alarm jika ada orang yang hendak masuk.
Pintu kamar berderet memanjang dari utara ke selatan terlihat dari gerbang. Beberapa pintu tersebut berada di sisi barat dan timur. Di antara batasnya ada halaman yang ditutup dengan paving. Di tengahnya ada pohon kelengkeng dan pohon mangga.
Beberapa anak usia belasan tahun tampak lalu lalang. Menyapa satu sama lain dengan melempar senyum lebar. Mereka terlihat sedang membicarakan sesuatu. Di antaranya tampak remaja yang hanya berdiam diri. Menoleh ke kiri dan kanan mengawasi suasana. Lalu lainnya hanya berdiri memenuhi depan pintu kamar yang berderet.
Mereka bergerombol menurut jenis kelaminnya. Laki-laki dan perempuan. Totalnya ada sekitar 20 anak. Mereka adalah penghuni panti asuhan Tri Bakti.
Dari salah satu pintu, tampak pria berpawakan tinggi besar. Tingginya sekitar 180 sentimeter (cm). Masker hijau tampak terpasang di wajahnya. Ketika datang, keriput di ujung matanya nampak bertambah. Bibir di dalam masker sedang memberi senyum walaupun tidak terlihat.
Pria tinggi tersebut adalah Yefta Frigid Pane, 40, asal Kelurahan/Kecamatan Pare. Saat ini, dia adalah salah satu pengurus inti dari panti asuhan Tri Bakti yang berada di sisi utara Jalan Arjuna.
Yefta Frigid Pane atau yang biasa dipanggil dengan sapaan Jefri adalah anak dari pendiri panti asuhan tersebut yang bernama S. Pane.
Saat hendak bercerita, bola mata Jefri melirik ke atas. Dia sedang menerawang ke masa lampau sejak pertama kali panti asuhan tersebut berdiri. “Dulu dibangun sekitar 1963. Pendirinya adalah ayah saya yang bernama S. Pane,” ucapnya.
Dulunya, sang ayah hanyalah pendeta muda yang datang dari Tapanuli, Sumatera Utara. Dia datang ke Pare dengan memiliki tugas untuk pelayanan gereja. “Dulu awalnya berada di Jalan Masjid, beberapa kali pindah hingga sampai disini,” tambah Jefri.
Di tempat yang ditinggalinya, Pane sering membantu warga sekitar. Beberapa anak kecil yang kurang mampu tampak bergantian datang ke rumah. Tujuannya untuk meminta bantuan makanan. Namun, hingga saat itu tidak ada pikiran bagi Pane ingin membuka panti asuhan.
Pikirnya, membangun panti asuhan adalah pekerjaan yang membutuhkan tanggung jawab yang besar. “Baru beberapa kali dapat masukan akhirnya mau membuka panti,” tutur Jefri saat ditemui di ruang tamu panti asuhan.
Panti tersebut akhirnya berdiri dengan diisi beberapa anak kecil. Awalnya memang sulit. Dari habis stok makanan, habis uang simpanan, mendapat penolakan dari warga sekitar, dan lain sebagainya.
Menurut Jefri, beberapa hal tersebut bisa dilaluinya dengan perasaan bersyukur. “Selalu saya doakan, nanti Tuhan pasti bantu,” ungkap Jefri dengan perasaan bangga.
Jefri bercerita, mengelola panti asuhan memang hal yang sulit. Beberapa masa sulit pernah dilalui. Dari habis stok makanan, habis uang simpanan, mendapat penolakan dari warga sekitar, dan lain sebagainya. Menurut Jefri, beberapa hal tersebut bisa dilaluinya dengan perasaan bersyukur. “Selalu saya doakan, nanti Tuhan pasti bantu,” ungkap Jefri dengan perasaan bangga.
Jefri mengingat, pernah suatu ketika beras di gudang tersisa kurang dari 1 karung. Sedangkan ada puluhan perut anak panti yang harus diisi. Pada malam hari, makanan yang disediakan hanya piring kosong. Semua kaget. Oleh sang pemilik panti, anak-anak tersebut diajak untuk menyanyikan lagu pujian. “Ternyata waktu nyanyi itu ada orang mengantar makanan. Itu berkat yang luar biasa,” tambah Jefri.
Masalah saat pandemi juga muncul. Anak panti memerlukan gawai untuk belajar online. Sedangkan mereka tidak memiliki HP. Mereka menggunakan gawai milik istri Jefri. 1 gawai digunakan untuk 22 anak. Semuanya kebinggungan, namun Jefri tetap pada pendiriannya untuk selalu bersyukur. “Ternyata selalu ada berkat. Sekarang mereka punya masing-masing gawai untuk belajar,” ungkap Jefri.
Semua itu dikatakan oleh Jefri sebagai berkat. Masa sulit itu lewat begitu saja dengan cepat. Panti asuhannya sekarang mampu bangkit. Bahkan, panti yang dia kelola mampu memberi beasiswa kepada anak-anak terlantar di luar panti. Totalnya ada 38 anak tidak mampu yang dibantu oleh pihak panti.
Tidak hanya itu, beberapa bantuan juga rutin diberikan oleh Jefri ke orang-orang yang tidak mampu. “Terutama untuk janda yang kesusahan,” tutup Jefri sembari menunjuk tumpukan beras yang biasa diberikan kepada beberapa janda. (dea)
Editor : adi nugroho