Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ki Ompong Soedarsono Pentas Wayang Blang Bleng di Kediri

adi nugroho • Kamis, 11 Maret 2021 | 01:34 WIB
ki-ompong-soedarsono-pentas-wayang-blang-bleng-di-kediri
ki-ompong-soedarsono-pentas-wayang-blang-bleng-di-kediri

Banyak cara menarik agar anak-anak mencintai budayanya. Seperti yang disuguhkan Ki Ompong Soedarsono dalam wayang blang bleng. Menjadikan kesenian wayang lebih mudah dimengerti siapapun.



REKIAN, Kota, JP Radar Kediri   



Tidak seperti dalang pada umumnya, penampilan Soedarsono di Sekolah Alam Ramadhani Kediri di Mojoroto itu penuh dengan dedaunan. Selain daun pisang hijau, ada rumput serta daun pisang yang sudah berwarna cokelat tua yang menempel di tubuhnya. 


Kemarin (9/3) sekitar pukul 09.30,  pria yang biasa dipanggil Ki Ompong Soerdarsono itu memainkan wayang blang bleng di depan belasan anak-anak.  Lelaki 36 tahun asal Temanggung, Provinsi Jawa Tengah itu berhasil membuat belasan anak-anak bisa tersenyum lebar dengan gembira. Lelaki berambut gimbal itu sangat atraktif. Sekali-kali, dia bertanya dan menjawab setiap ada anak-anak yang nyeletuk. “Hayooo siapa?,” katanya saat ada pertanyaan tokoh wayang yang dimainkan. 


Ki Ompong dengan gaya khas dalang menjelaskan semuanya dengan baik. Pagi itu, dia menerangkan tokoh-tokoh yang dimainkan. Mulai dari semar, punakawan, maupun brotoseno. Semuanya ada, hanya sebagian dia ubah dengan bentuk wajah hansip, polisi, petani hingga profesi lainnya. 


Tampil dengan alat seadanya, Ki Ompong yang sudah berkeliling di puluhan kota di Indoensia ini selalu tampil sendirian. Tidak ada pemain gamelan yang dia ajak, semua musik bersumber dari sound system yang dia siapkan dari rumah. 


“Makanya bisa ke mana-mana, saya bawa peralatan cukup satu kotak ini saja,” katanya. Jika saja tidak ada pandemi korona, ia bahkan sudah diajak ke Manado untuk menampilkan wayang blang bleng di sana. Wayang yang ditampilkannya itu bisa dimainkan di mana saja dan pasti akan menyesuaikan dengan kondisi dan situasional. 


Pada intinya, setiap cerita dan kisahnya, pertunjukan wayang pasti membawa edukasi tentang moral, estetika, dan budipekerti. “Hari ini (kemarin, Red) saya coba mengajak bocah srawung alam dan bocah srawung wayang,” bebernya. 


Karena itu, dia memberikan namanya dengan wayang blang bleng yang artinya bisa dimasukkan ke semua unsur. Karena ceritanya kontemporer, maka pria lulusan SMA Bung Karno Karang Pandan, Solo ini tidak pernah membawakan kisah tentang konflik. 


“Konflik apapun selalu saya hindari, baik politik, asmara, atau lainnya,” ucapnya. Baginya, ini adalah cara bagaimana mendekatkan anak-anak untuk bisa mendekatkan dengan wayang. Dia pun tidak peduli bila ada warga atau seniman lainnya mengejek, menghujat, dan mencemooh apa yang dilakukannya. 


Karena dia menganut paradigma selaras dengan alam, maka tak jarang dia melakukan pertunjukan di jalan hingga di sungai. Kegiatan yang sudah dilakoni selama empat tahun itu kerap mendapat perlakuan tidak baik. Bahkan Ki Ompong sempat diusir dan tidak diterima saat melakukan pertunjukan. Dalam waktu dekat, lelaki ini akan melanjutkan perjalanannya ke Madura. 


Saat ini, pentas wayangnya kebanyakan menyasar ke anak-anak dan komunitas. Terpisah, Pengelola Sekolah Alam Ramadhani Sunarno menjelaskan, bahwa kehadiran Ki Ompong di sekolahnya atas permintaannya. Dia ingin menampilkan pertunjukan kepada anak-anak. Dengan tangan terbuka sekolah alam ini mewadahinya. 


“Sama sekali tidak dibayar, dia melakukannya karena misi sosial,” ucap Sunarno. Hal ini sama dengan yang disampaikan Ki Ompong. Perjalanannya dari Temanggung berkeliling kota/kabupaten di Jawa Timur dilakukan dengan mengendarai motor. Jika terlalu jauh, naik bus atau numpang truk. (dea)


Editor : adi nugroho
#anak #kesenian