Selama 4 tahun Dewi Yuliani memperjuangkan hak rakyat miskin. Itu panggilan nurani. Ia merasakan hidup kian berarti. Ternyata nikmat hidup dari Tuhan tak terhingga.
Rumah sederhana di lereng Gunung Wilis menghadap tebing dengan rimbunan hijau pepohonan itu didiami sosok perempuan berjiwa sosial tinggi. Menjadi pekerja sosial masyarakat (PSM) sudah panggilan dari lubuk nurani.
Dia adalah Dewi Yuliani, sosok pejuang hak masyarakat bawah. Menjadi kaki, tangan, sekaligus otak bagi mereka untuk mendapatkan haknya. Bermula pada 2018 dari program Kementerian Sosial (Kemensos) yang diikutinya. Hingga kini Dewi jadi satu-satunya PSM di Desa Selopanggung, Kecamatan Semen.
“Saya mendapat arahan dari Pemerintah Kabupaten yang akan saya sampaikan ke pihak desa,” tuturnya.
Yuli melakukan berbagai bimbingan program pemkab dan akan ditindaklanjuti di desanya. Perempuan yang juga pengajar taman pendidikan Alquran (TPQ) itu membantu warga Selopanggung untuk menangani urusan dokumen, mulai tingkat RT, desa, hingga kabupaten. “Di antaranya seperti jamkesda (jaminan kesehatan daerah), surat-surat kependudukan, dan rujukan ke rumah sakit,” ungkapnya.
Lebih dari itu, Yuli berperan mengawal segala bentuk bantuan pemerintah desa untuk warga miskin. Seperti bantuan langsung tunai (BLT), bantuan pangan non tunai (BPNT), program keluarga harapan (PKH), dan bantuan bagi disabilitas, orang telantar, dan orang dalam gangguan jiwa (ODGJ). “Itu saya berlakukan bagi mereka yang benar-benar memerlukan bantuan saja. Prioritas ODGJ dan disabilitas,” tegas perempuan berperawakan kurus itu.
Meski menyandang status PSM, tidak banyak upah yang diterimanya selama empat tahun ini. Dewi mengaku, menerima honor Rp 100 ribu tiap bulannya. Itu dari kader pembangunan manusia (KPM). Selain itu Rp 300 ribu di akhir tahun dari dinas sosial. “Berapapun saya senang mengawal bantuan untuk masyarakat,” tutur perempuan 40 tahun itu.
Bukti nyata perannya itu ditunjukkan saat menguruskan rujukan Ani Kasanah alias Anang Soetomo, warga Dusun Tunggul, Selopanggung yang mengalami kelainan sexual ambiguity. Pengurusan dokumen itu sempat a lot. Pasalnya, status ketidakjelasan Anang menjadi perdebatannya dengan pihak tertentu.
Namun dengan niatnya membantu masyarakat, Dewi tegas dan berani memperjuangkannya. “Saya mengupayakan mereka yang memerlukan bantuan,” terangnya. Keberaniannya itu pun berbuah manis, Anang telah dua kali mendapat surat rujukan ke Rumah Sakit Kabupaten Kediri (RSKK) untuk menjalani kontrol pascaoperasi penyempurnaan kelamin. (c2/ndr)
Editor : adi nugroho