Hari ini tepat tujuh tahun dari letusan Gunung Kelud meletus yang terakhir kalinya. Sejak itu upaya recovery dan rehabilitasi berbagai fasilitas dilakukan. Sayang, proyek itu jeda dengan masih menyisakan pekerjaan penting. Menemukan inlet Terowongan Ampera.
Letusan Gunung Kelud tak hanya merusak alam dan permukiman di sekitarnya. Material vulkaniknya membuat beberapa fasilitas penting di sekitar kawah rusak. Semuanya nyaris tertutupi material letusan itu. Termasuk terowongan yang ada di sekitar danau kawah.
Upaya menemukan lagi pun dicanangkan. Masuk dalam proyek rehabilitasi Kelud yang dibiayai Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Sayang, proyek itu terhenti. Jeda, dan tak tahu kapan akan dimulai lagi.
“Proyek sementara terhenti, sejak 2017 lalu. Untuk termin kedua sampai saat ini belum terlaksana,” jelas Petugas Pengamat Gunung Kelud dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana (PVMBG) Khoirul Huda, ketika ditemui Jawa Pos Radar Kediri Kamis (11/2).
Khoirul tak tahu alasan pasti terhentinya proyek penting ini. Namun, dia mendengar jika saat akan masuk termin kedua, terjadi bencana di Nusa Tenggara Barat dan Maluku. Dia berasumsi anggaran diprioritaskan untuk yang paling mendesak.
Saat termin pertama berhenti, kontrak dengan PT Abipraya memang sudah selesai. Namun, ternyata, masih banyak pekerjaan yang belum tuntas. Termasuk menemukan inlet Terowongan Ampera.
Menemukan pintu masuk ke terowongan Ampera itu merupakan sesuatu yang penting. "Terowongan sangat penting karena fungsinya untuk mengurangi volume air kawah," terang Khoirul.
Terutama bila volume air kawah banyak maka akan berhubungan dengan awan panas yang timbul saat erupsi. Sehingga, semakin banyak air kawah, lontaran awan panas akan semakin jauh.
Berbeda jika air kawah volume airnya sedikit atau bahkan kering. Dampak yang diakibatkan juga lebih kecil. Seperti yang terjadi pada letusan 2014 lalu. Saat itu air kawah nyaris tidak ada karena munculnya anak gunung di danau kawah. Anak gunung itu muncul saat letusan periode sebelumnya.
"Belajar dari pengalaman saat letusan tahun 1990, volume air saar itu 2,5 juta meter kubik. Luncuran awan panas kurang lebih empat kilometer. Itu (masih) bisa dibilang kecil," tandasnya.
Agar tidak mengakibatkan letusan yang sangat besar, air kawah harus diupayakan di bawah 2 juta meter kubik. Hal itulah yang membuat inlet terowongan menjadi sangat penting. Sebagai sarana mengurangi volume air di danau kawah.
Total terowongan yang tertimbun material letusan adalah tujuh. Namun, yang ditemukan baru empat terowongan. Itupun hanya sebatas ketemu. Belum pada tahap normalisasi. Sedangkan Terowongan Ampera yang posisinya paling dekat juga belum ditemukan.
"Ini cuma kelihatan atasnya saja. Belum terlihat bolong. Jadi perjalanan rehabilitasi ini masih panjang. Harus ada termin kedua," akunya.
Saat ini air kawah hanya mengalir dari rongga-rongga yang ada. Lebih tepat sebagai rembesan. Khoirul khawatir bila suatu saat rongga tertutup material yang dibawa air. Bila itu terjadi otomatis air kawah tak bisa lagi mengalir.
Selain rehabilitasi terowongan, yang belum terselesaikan lagi adalah penguatan tembok tepi kawah. Penguatan itu mencegah tanah longsor ke kawah. Menurut Khoirul, saat proyek berhenti pada 2017 upaya penyelesaian baru tuntas 50 persen.
Sementara itu, Staf Pejabat Pembuat Komitmen Sungai Pantai (PPK Supan) III Nita mengatakan jika tahap I proyek Kelud memang telah berakhir sejak akhir 2017. Telah ada rencana untuk lanjutan tahap II. Namun, pihaknya masih menunggu anggaran dana dari Pusat. "Masih banyak pekerjaan yang lebih urgent dan diprioritaskan. Terlebih dalam masa pandemi ini," jelas Nita saat dihubungi melalui pesan singkat. (luk/fud)
Editor : adi nugroho