Nasional Kediri Raya Sports Ekonomi Bisnis Pendidikan Lifestyle Khazanah Opini Seni & Budaya RK Institute Portal Kampus Internasional

Ruslan, Cetuskan Ide Studio untuk Pelukis Realis di Kediri

adi nugroho • Rabu, 10 Februari 2021 | 21:49 WIB
ruslan-cetuskan-ide-studio-untuk-pelukis-realis-di-kediri
ruslan-cetuskan-ide-studio-untuk-pelukis-realis-di-kediri

Gerbang biru, berkeramik putih. Rumah itu terlihat cerah sendiri dibanding rumah-rumah disebelahnya. Di ruang tamu terlihat dua anak perempuan berwajah kembar yang mengarahkan untuk langsung ke studio belakang. 




DEVIN RIZQI DWINANTIKA, Kota, JP Radar Kediri



Riuh suara orang mulai menggema. “Ayoo, ji.. ro.. lu..” suara beberapa orang menggulingkan pohon yang baru di potong. “Untuk buat studio lagi,” terang Ruslan, 52, pelukis asal Desa Dawung, Kecamatan Ringinrejo, Kabupaten Kediri ini. 


Ruslan adalah pencetus ide mendirikan studio seni lukis sebagai sentra pelukis realis. Sekaligus pemilik rumah dan lahan yang sedang digarap menjadi tempat berkembangnya para pelukis profesional nantinya.


Studio lukis milik suami dari Sudarti, 45, ini akan diperluas lagi sebagai lokasi belajar melukis, mulai dari anak-anak hingga dewasa. “Saya ingin membuat sentra pelukis dengan aliran realis,” ujarnya. Tempat para seniman lahir intinya. Di belakang rumahnya, di sebuah desa yang masih asri dan nyaman ini.


Saat itu masih sekitar pukul 10.00, langit masih nampak cerah dengan pancaran sinar matahari yang menambah semangat para seniman untuk melanjutkan lukisan. Satu studio sedang sibuk menorehkan cat pada kanvas masing-masing. Namun, suasana tetap hidup dengan karakter para seniman yang asyik dan suka memberikan guyonan-guyonan ringan.


Terdapat Agung Suprianto, 45, atau biasa disebut otong dan Yulianto Apit, 37, suasana ramai ini memang sengaja mereka buat. “Biar nggak bosan,” kata Agung dengan nada bercanda. Mereka berada di studio untuk menyelesaikan lukisannya. Sedangkan Hery Mukti, asisten Ruslan saat itu sedang melembur pesanan yang sebentar lagi akan diambil pemiliknya.


Berbagai gambar yang tergores di kanvas rata-rata berukuran besar, 2 meter x 120 centimeter itu berjajar di studio lukis yang terbagi menjadi 3 bagian. Dari proses pewarnaan awal hingga finishing, adapula yang sudah selesai 100 persen dan berpigora rapi tergantung di dinding studio itu. Sambil menorehkan cat warna biru di salah satu lukisan yang sangat mirip dengan pemandangan di persawahan itu, Ruslan bercerita. “Banyak yang ke sini itu untuk belajar,” ujar ayah empat anak itu dengan sangat berhati-hati menggoreskan kuas.


Pria yang pernah bersekolah di SD Dawung 1 ini hanya menamatkan sekolahnya hingga jenjang SMP, di SMP PGRI Kandat. Namun hasil lukisannya telah dikenal di tingkat nasional. Dulu, sebulan Ruslan mampu menyelesaikan  4-6 karya, sekarang lebih banyak menerima pesanan.


Tak tanggung-tanggung, pemesannya ada yang dari Mabes Polri, dan Kepala Densus 88. Penikmatnya sebagian besar dari luar daerah. Pesanannya rata-rata dari pecinta seni di Indonesia mulai Jakarta dan Makasar hingga lukisannya pernah dibeli oleh orang Tionghoa yang bermukim di negeri jiran Malaysia. Keberhasilannya di dunia lukis ini tidak didapatkan dengan mudah, banyak rintangan yang dilaluinya.


Bermula dari lulus SMP di tahun 1985, dirinya memilih untuk melanjutkan bekerja sebagai kuli batu, pekerjaan ini dia lakukan hingga tahun 1989 sampai dirinya menjadi tukang batu. Kemudian di tahun 1990 dirinya memilih untuk merantau ke Surabaya, “Saya ingin melanjutkan bakat yang sudah saya rasakan sejak SD,” ujar Ruslan.


Dirinya mengaku benar-benar berniat untuk bertemu dengan pelukis perjuangan yang sudah senior. Sochieb namanya. Setelah bertemu, dirinya memilih untuk mengabdi kepada Sochieb. “Nyantrik saya di sana, makan di sana, ya semua-semuanya ndek sana,” terangnya sambil terkekeh. Ruslan mendalami seni lukis ini hingga tahun 1992. Setelah itu dirinya memulai untuk mandiri.


“Pak Ruslan ini dulu masih di pak Sochieb sudah banyak yang ngelirik,” tambah Agung, yang sudah lama kenal dengan pria parobaya yang suka mengikuti majelis sholawat ini. Ruslan mulai dilirik oleh pedagang lukisan, dan saat itu mulai mengerjakan pesanan dari galeri-galeri. Kemudian dari sana dirinya mulai mengikuti pameran-pameran, “Sudah lama ya, sampai lupa kapan,” ujarnya. Yang pasti hingga 50-an pameran sudah pernah diikutinya berkeliling Pulau Jawa hingga Jakarta.


Kemudian di tahun 2000-an Ruslan beralih dari aliran perjuangan ke aliran lukis kontemporer, dan sering mengikuti kompetisi di berbagai tempat seperti Jogjakarta, Surabaya dan Jakarta. Saat mengikuti kompetisi tingkat nasional dirinya mendapat penghargaan Jakarta Art World di tahun 2008. Berbagai pameran juga sering diikutinya, hingga mengikuti pameran di museum Nasional.


Saat pameran di museum Nasional dirinya bertemu dengan Ahmad Dhani dan mengabadikan momen tersebut untuk digunakan sebagai foto profil di Whatsapp miliknya. Sejak tahun 2018, Ruslan mulai membuka diri, banyak yang ikut bersamanya untuk belajar melukis. Kemudian dirinya memutuskan untuk membimbing belajar melukis realis hingga berhasil mengumpulkan pelukis dari Kediri, Tulungagung, Blitar, Nganjuk, Jombang hingga Mojokerto.


Dari 100-an lebih muridnya yang sebagian besar berprofesi sebagai guru, ada pula pelukis profesional yang ikut memperdalam ilmu dibidang seni. Kini dirinya memiliki satu asisten, yaitu Hery pria asli Pucanglaban Tulungagung ini setiap hari berada di lokasi, membantu Ruslan menyelesaikan pesanan. Sebagian lagi dari muridnya sudah membuka usaha sendiri dan mengikuti pameran. Dirinya mengaku ingin memajukan dunia seni lukis, aliran realis di Kediri khususnya di Desa Dawung. Kini dirinya merambah dunia online, banyak karyanya yang diunggah di Instagram pribadi miliknya. 


Di tempat yang dibangun tahun 2017 ini, dirinya berharap akan menjadikan barometer atau sentra pelukis di Kediri. “Langkah ke depan ingin mendirikan sanggar les TK sampai umum di belakang rumah. Kemudian ingin mengumpulkan karya sendiri untuk pameran pribadi,” ujarnya dengan bersemangat. Dirinya ingin studionya nanti dapat memuat banyak orang, mencakup Kediri, Tulungagung, dan Blitar dengan merangkul dan bekerja sama dengan teman-teman sesama pelukis realis.


Pria yang sampai sekarang masih aktif di dunia pameran baik online maupun offline ini memberikan semangat kepada pelukis-pelukis lain untuk tetap berkarya. Usahanya menyemangati sudah dilakukannya mulai mengumpulkan penggemarnya dari aplikasi pertemanan kemudian dimasukkan ke dalam aplikasi Whatsapp Group. (dea)


Editor : adi nugroho
#ide #pelukis kediri