Di usianya yang masih belia, Louvin yang masih duduk di SMK telah berhasil menghasilkan belasan barongan. Penjualannya pun sampai luar kota.
LU'LU'UL ISNAINIYAH, KABUPATEN, JP RADAR KEDIRI
'Duk..Duk..Duk..' suara tempaan palu pada bongkahan kayu waru beriringan dengan rintik hujan sore itu. Tepatnya di Desa Sambirejo, Kecamatan Pare. Tangan dengan lihai dan lentur memegang palu dan tata ukir. Mengikuti pola yang sudah digambar di kayu itu.
"Ini kan sudah ada polanya, tinggal diukir mengikuti bentuknya," terang pria muda berkaos merah. Ia adalah Louvin. Saat ini, pria yang juga biasa dipanggil teman-temannya Upin ini masih duduk di bangku SMKN 1 Ngasem jurusan Teknik Bangunan. Meskipun di usia belia, ia mampu membuat barongan dan telah menjualnya.
Jika dilihat proses pembuatan dari awal hingga menjadi sebuah barongan cukup rumit. Namun, di tangan pria berusia 17 tahun sudah menjadi keahliannya sehari-hari.
Bahkan, pesanan dari berbagai pecinta barongan telah ia terima. Tak hanya satu atau dua barongan yang telah ia buat. Melainkan belasan. Tentunya dengan tangan Louvin sendiri dan telah dijualnya hingga luar Kediri. “Saya mulai buat barongan sendiri itu sejak kelas 8 SMP,” terangnya dengan terus mengukir di atas kayu.
Rupanya, bergelut di dunia seni jaranan sudah ia kenal sejak kecil. Ia bercerita, ketika masih duduk di bangku TK sang kakek sering mengajaknya melihat jaranan. Bahkan cerita soal kesenian ini pun sudah ia terima kala itu.
Dari cerita sang kakek itulah, Louvin mulai tertarik dengan jaranan. Setiap kali ada tontonan ia tak pernah absen untuk sekadar menyaksikan. Hingga akhirnya ia pun mulai mengikuti tari barong. Saat masih SMP.
Berbagai acara tari barong selalu ia ikuti. Termasuk ia juga pernah mengikuti tari 1000 barong di Monumen Simpang lima Gumul (SLG). “Dulu ada tari 1000 barong selalu ikut, tapi waktu pandemi ini aja sudah gak ada tari barong,” jelasnya.
Semenjak mengenal barongan, anak tunggal itupun ditantang untuk membuatnya sendiri. Tantangan yang diterima saat itu ia terima. Meskipun ia sama sekali belum membuatnya.
Namun, Louvin merasa tertantang mulai mencari cara untuk membuatnya. Lantas ia mencari tutorial cara membuat barongan melalui youtube. “Ya cari caranya membuat lewat youtube atau browsing internet,” ungkap pria yang duduk di kelas 2 SMK itu.
Pertama kali mempraktikkan, Louvin langsung berhasil. Namun, saat itu masih dalam bentuk miniatur. Ukurannya memang masih kecil. Hingga akhirnya, ia menerima pesanan barongan besar yang sesuai dengan ukuran aslinya. Dan pesanan itu ia terima. Mulai dari mengukir hingga finishing ia yang melakukan sendiri.
Untuk kesulitan, menurutnya dari mengukir kayu tersebut. Karena harus teliti dan rapi. Terutama jika pemesan meminta pola yang unik dan berbeda dengan barongan biasanya, Louvin pun harus ekstra hati-hati. Karena ia tidak ingin mengecewakan pembeli.
Di usia yang masih belia dan masih sekolah tentu membuatnya harus membagi waktu dengan belajar. “Kalau urusan sekolah yang pertama, kedua baru ngukir," akunya.
Lauvin menerima pesanan sejak SMP kelas 8. Sehingga para pembeli harus bersabar untuk menerima hasil jadi. Karena untuk satu barongan, Louvin mengerjakannya dalam kurun waktu dua bulan. Dan waktu pengerjaan tidak mengganggu jam belajarnya. "Kalau ngerjain malam, habis belajar baru dikerjain sedikit-sedikit," tandasnya.
Terkecuali jika hari libur seperti saat pandemi ini, ia mampu menyelesaikan barongan sekitar satu bulan lamanya. Hobi dan kesukaan seni jaranan Louvin kini didukung oleh ibundanya. Sang ibu pun tidak mempermasalahkan dengan yang ia lakukan saat ini. Asal tidak mengganggu jam sekolah dan belajar. “Ibu sangat mendukung saya, gak apa-apa malahan,” imbuhnya.
Dari hasil yang didapat membuat barongan, kini Louvin sudah tidak meminta uang jajan dari orang tua. Bahkan ia juga ikut membantu sebagian biaya sekolahnya saat ini. (dea)
Editor : adi nugroho