Punya keterampilan di bidang kuliner, membawa Nur Kholik mendapat kesempatan berjualan di depan lapas. Menggunakan food truck warna warni dengan aneka sajian makanan lezat. Sayang, hanya buka empat jam.
LU'LU'UL ISNAINIYAH, KOTA, JP RADAR KEDIRI
Siang kemarin, rintik hujan membasahi Kelurahan/Kecamatan Mojoroto. Cukup unik terlihat di seberang Jalan Jaksa Agung Suprapto. Food truck warna warni yang terparkir di depan Lembaga Permasyarakatan Kelas 2A Kediri.
"Mau pesan apa Mbak? Itu menunya ada di samping. Silahkan dilihat," terang pria 46 tahun itu. Pria dengan memakai peci di kepalanya itu menggunakan celemek berwarna biru serta bermasker. Ia adalah Nur Kholik, penjaga sekaligus penjual makanan dan minuman tersebut.
Sembari merajang bawang putih pada papan talenan, ia menyebutkan berbagai menu andalan yang dimilikinya. Mulai dari es jagung hawai, jus buah, mie goreng, serta nasi gegok khas Trenggalek. Untuk harga cukup ramah di kantong. Jika dilihat pada papan menu, harganya bervariatif. Semua di bawah kisaran Rp 15 ribu. Tentu masakan yang ia sediakan menggugah selera bagi orang yang lewat.
Namun, siapa sangka dari penampilannya, ia merupakan warga binaan lapas. Karena dilihat dari sapaan ramah terhadap para pelanggan, sehingga tidak ada kesan seram yang melekat pada dirinya. Kecuali Kholik sendiri yang bercerita tentang kisahnya .
“Dulu saya terkena kasus pembunuhan, itu kisah buruk saya,” tutur Kholik. Tidak ada rasa tersinggung pada dirinya jika menyebut kejahatan yang dilakukannya. Ia justru tidak ragu untuk bercerita.
Kini, ia yang mengakui kesalahannya dan telah berubah. Ia mulai berinteraksi dengan masyarakat luar melalui berjualan. Setidaknya ketika keluar dari penjara, warga Kecamatan Pare ini memiliki bekal dan keterampilan.
Meskipun Kholik diberi kepercayaan petugas lapas untuk berjualan di luar tahanan, ia masih harus diawasi. Untuk jam buka pun diberi batas. Yakni mulai pukul 08.00 hingga pukul 12.00, lapak diharuskan sudah tutup.
“Aktivitas saya sebelum jualan paginya habis salat subuh ngaji dulu, habis itu bersiap-siap menata dagangan, karena bukanya pagi,” ucap ayah empat orang anak itu.
Di sisi lain, selama masa pandemi, ia tidak pernah mendapatkan kunjungan dari keluarga. Karena ada peraturan larangan keluarga menjenguk. Namun, pihak lapas telah menyediakan fasilitas untuk melakukan video call dengan keluarga. Setidaknya hal tersebut mampu mengobati rasa rindu Kholik pada keluarga.
Selain melakukan video call, tak jarang Kholik yang berjualan di luar lapas mendapat pelanggan tak terduga. Yakni terkadang anaknya yang membeli dagangan dari Kholik itu. "Ya, terkadang anak ke sini beli, meskipun sebentar tapi sudah ngobati rasa kangen,” tutur pria bercelemek biru itu.
Seperti yang dilakukan oleh Nur Kholik ini merupakan sebuah program pembinaan kepribadian. "Program kemandirian ini kami tujukan bagi warga binaan yang telah sadar terhadap perlakuan masa lalu yang dilakukannya," ungkap Kasubbag TU Haryono.
Ia menjelaskan program asimilasi yang diterima oleh Kholik ini harus sudah menjalankan masa tahanan separo. Saat ini, Kholik telah menjalani masa tahanan 5,5 tahun.
Tentunya, ia juga harus berkelakuan baik selama dalam tahanan. “Orangnya baik di dalam tahanan, ibadahnya juga kuat," jelas Haryono yang ditemui di dalam ruangan.
Dengan adanya program pembinaan kemandirian, ia berharap bagi warga binaan setelah keluar dari lapas akan memiliki bekal untuk bekerja. Selain itu, ia juga berharap kepada masyarakat untuk memberikan stigma bagi warga binaan. "Saya harap sudah tidak ada lagi stigma bagi mereka, karena di sini mereka itu sudha diberi bekal dan memiliki kelakuan yang baik," imbuhnya. (dea)
Editor : adi nugroho