Zaini selalu menghabiskan banyak uang untuk menangkal hama yang menyerang tanaman padinya. Setelah mengenal agens hayati, biaya yang dia keluarkan jauh lebih sedikit.
LU’LU’UL ISNAINIYAH, KOTA, JP Radar Kediri
“Cari apa Mbak?” tanya seorang pria di dalam ruangan berukuran sekitar 3 x 5 meter. Di belakangnya berjajar botol besar bekas air minum dalam kemasan (AMDK) yang biasa disebut orang-orang dengan istilah galon. Isinya bukan lagi air mineral. Berganti dengan carian warna putih dan kuning.
Lelaki itu adalah Mohammad Zaini. Ruangan yang dia tempati itu adalah klinik miliknya. Klinik untuk konsultasi petani yang memiliki masalah hama pada tanaman. Zaini juga menyediakan obat pembasmi hama organik atau agens hayati yang dia produksi sendiri. Klinik ini adalah satu-satunya di Kota Kediri. Lokasinya di rumahnya, di Kelurahan Pojok, Kecamatan Mojoroto.
Zaini terlihat sibuk. Tangannya memasukkan cairan warna putih ke botol plastik. Baunya asam. “Ini yang disebut agens hayati,” ucapnya.
Petani ini meracik obat tersebut secara mandiri. Bahan bakunya sangat mudah didapat. “Untuk media jamurnya saya pakai kentang dan kedelai,” jelasnya sembari menutup botol yang telah terisi penuh.
Saat ini hampir semua petani di wilayah Kecamatan Mojoroto beralih ke obat herbal agens hayati. Tak lagi menggunakan obat-obatan kimiawi. Proses meyakinkan para petani itu tak mudah. Zaini mengaku sempat diremehkan.
Perkenalannya dengan agens hayati terjadi pada 2017. Ketika tanaman padi di Kecamatan Mojoroto terserang wereng yang begitu hebat. Luas lahan yang diserang mencapai 24 hektare lebih!
Petugas dari dinas pertanian juga sempat turun. Memberikan pestisida kimia untuk digunakan petani. Tapi hasilnya tak memuaskan. “Setelah disemprot dua hari padi seperti terbakar,” kenang lelaki 63 tahun ini.
Setelah obat kimia tak manjur, petugas dari dinas pertanian ganti memberi obat hama organik agens hayati. Awalnya Zaini memandang remeh. Pikirnya, jika obat kimia saja tak mampu bagaimana dengan obat organik yang harganya sangat terjangkau itu?
Meskipun ragu, Zaini akhirnya bersedia mencoba di lahannya. Dua hari setelah penyemprotan hasilnya sangat mengagetkan. “Jadi nyemprotnya itu sore hari. dua hari kemudian wereng yang banyak itu semuanya mati,” ungkap pria berkepala gundul ini.
Setelah itu Zaini ditawari belajar membuat agens hayati. Dia kemudian dikirim untuk belajar di Universitas Brawijaya Malang selama tiga hari. Menariknya, hasil yang dia buat ternyata lebih unggul dibanding dengan milik pengajar yang membantunya.
Zaini kemudian mulai membuat sendiri agens hayati itu. Kemudian memperkenalkan kepada petani di sekitarnya. Seperti dirinya dulu, awalnya banyak petani yang tidak percaya. Mereka juga sulit diajak pindah ke agens hayati.
Lelaki ini tak menyerah. Niatan ingin membantu para petani menghadapi hama membuatnya terus mencoba meyakinkan petani lain. Lama-lama mulai ada petani yang tertarik. Mencoba menggunakan agens hayati produk Zaini.
Setelah itu para petani mulai percaya. Banyak petani di Kelurahan Pojok yang akhirnya menggunakan obat organik tersebut. “Sekarang hampir 90 persen petani di Pojok menggunakan agens hayati. Bahkan petani konsultasi dulu ke sini, nanti saya arahkan harus pakai obat apa,” jelasnya.
Agens hayati yang dibuatnya tak hanya dikenal di sekitar Kediri. Bahkan luar Kota seperti Ponorogo dan Jakarta. Ia juga bercerita jika hasil panennya selalu dinanti oleh orang-orang dinas pertanian. Mereka berebut hasil panen beras miliknya. Karena sudah terbukti tanpa bahan kimia. (fud)
Editor : adi nugroho