Menjadi ujung tombak pemberantasan demam berdarah, para petugas fogging di Dinkes Nganjuk tak terlepas dari risiko berbahaya. Mereka pun mengambil langkah pencegahan agar tak terpapar zat kimia yang digunakan untuk membunuh nyamuk aedes aegypti.
WAHYU ARI YULIANTO, BERBEK. JP Radar Nganjuk
Jarum jam menunjukkan pukul 16.00, Jumat (8/1) lalu. Pria yang tak lain adalah Subiyanto itu terlihat tengah bersantai di rumahnya di Desa Tiripan, Berbek. Pemandangan tersebut termasuk anomali atau hal yang tak biasa terjadi di bulan Januari ini.
Intensitas kesibukan pria yang juga menjadi petugas fogging di Dinkes Nganjuk ini biasanya meningkat di bulan Januari. Curah hujan tinggi yang biasanya diikuti peningkatan kasus demam berdarah dengue (DBD) membuat dirinya nyaris tak bisa bersantai. “Januari tahun ini agak longgar,” ujarnya membuka perbincangan dengan Jawa Pos Radar Nganjuk.
Pria yang menjadi petugas fogging atau pengasapan sejak 2007 silam itu lantas membeberkan pengalamannya bergelut dengan malation dan zat kimia lain yang digunakan untuk memberantas nyamuk aedes aegypti.
Selama 14 tahun menjadi petugas fogging, Subiyanto menganggap tahun 2015 silam adalah tahun terberatnya. Membeludaknya kasus DBD membuat dia harus bekerja ekstrakeras. “Biasanya hanya menyemprot satu titik dalam sehari. Saat itu sampai dua titik,” kenangnya.
Untuk melakukan fogging dibutuhkan persiapan khusus. Dia harus memakai sejumlah perlengkapan untuk melindungi dirinya. Mulai wearpack, masker respirator, earplug, sepatu, hingga kacamata agar tak terpapar racun pembunuh serangga yang masuk famili Cilicidae tersebut.
Setelah semua perlengkapan terpasang dengan benar, kala itu bapak satu anak ini harus menyemprot menggunakan alat ultra low volume (ULV). Berbeda dengan alat pengasapan lain yang mengeluarkan asap tebal, alat ini hanya menghasilkan kabut tipis.
Obat yang dimasukkan ke dalam alat adalah 100 persen obat. Tanpa bahan campuran lainnya. “Efek obat ini sangat berbahaya,” tuturnya mengingat kembali pengasapan yang dilakukannya di Desa Pacewetan, Pace tersebut.
Jika obat lain efeknya bisa hilang dalam hitungan jam, pengasapan dengan mesin ULV ini obatnya akan menempel pada pakaian, dan benda-benda lain yang terkena. Efeknya masih dirasakan dalam waktu berhari-hari.
Meski muncul rasa takut akan terpapar zat kimia tersebut, Subiyanto belum berpikir untuk keluar dari pekerjaannya. Yang membuatnya bertahan salah satunya adalah panggilan jiwa untuk ikut memberantas DBD. Penyakit yang bisa membahayakan nyawa penderitanya jika penanganannya terlambat itu.
Belasan tahun menjadi petugas pengasapan, Subiyanto semakin mantap menjalani pekerjaannya itu. Meski diakuinya pekerjaan tersebut sama sekali tak ringan. Selain menanggung risiko paparan racun, dalam setiap titik pengasapan dia harus melakukannya selama berjam-jam.
Sedikitnya dibutuhkan waktu selama empat jam untuk bisa menuntaskan pengasapan. Mulai menyalakan mesin pada pukul 07.00, pengasapan baru selesai sekitar pukul 10.00 atau kadang pukul 11.00.
Memanggul mesin seberat sekitar 25 kilogram yang terasa panas, dia harus berjalan menyusuri ratusan rumah warga di satu lingkungan. “Ada sekitar 300-400 rumah,” bebernya.
Belasan tahun menjalani pekerjaannya, Subiyanto sudah banyak merasakan suka dan duka. Yang paling membekas adalah saat dia ditolak oleh warga yang tidak ingin lingkungannya di-fogging.
Jika sudah demikian, biasanya dia berusaha memberi pemahaman tentang fungsi fogging. Subiyanto pun bersyukur warga akhirnya menerima. Meski, ada juga yang tetap menolak. “Biasanya ada yang hanya mengizinkan menyemprot dari luar rumah,” urainya.
Tak hanya mendapat penolakan, Subiyanto yang melakukan pengasapan bersama empat rekannya yang lain itu juga harus bergelut dengan risiko terpapar racun obat fogging. Untuk mencegah dampak negatif dari obat fogging, dia rutin meminum air kelapa muda usai menjalankan tugasnya.
Dengan cara demikian, dia berharap obat yang terhirup bisa netral lagi. “Alhamdulillah sampai sekarang baik-baik saja,” jelasnya.
Kondisi tersebut menurutnya berbeda dengan belasan tahun silam. Yakni, saat dirinya kali pertama menjadi petugas fogging. Subiyanto yang baru mengenal malation dan zat kimia fogging lainnya pernah merasakan pusing. Tetapi, hal tersebut belakangan tidak lagi dirasakan. “Sekarang sudah tidak pusing lagi. Justru senang kalau selesai melaksanakan tugas karena bisa ikut melakukan pencegahan demam berdarah,” tandasnya.
Editor : adi nugroho