Lebih dari 60 lukisan berjajar di dinding rumah Agung Gondrong. Sebagian tertempel di dinding, sebagian lagi berada di lantai. Membuat rumah keluarga pelukis ini benar-benar estetik.
DEVIN RIZQI DWINANTIKA, Kota, JP Radar Kediri
Suara cetak-cetek terdengar dari dalam rumah di salah satu gang Kelurahan Banaran, Kecamatan Pesantren. Berasal dari bubble wrap yang tak sengaja terinjak kaki si pemilik rumah.
“Iki bojoku, ngewangi ngepaki dagangane anakku wedok iku (ini istri saya, membantu packing dagangan anakku perempuan, Red),” ucap Agung Aji Sasongko, sang pemilik rumah.
Lelaki 48 tahun ini seorang seniman lukis. Gayanya nyentrik dengan rambut panjangnya. Biasa dipanggil Agung Gondrong.
Anak perempuan yang ditunjuk Agung Gondrong itu adalah Lelly Lintang Violita, anak sulungnya. Meskipun berkuliah di STAN, gadis yang tersipu malu saat ditunjuk sang ayah itu punya darah seni yang menurun dari orang tuanya. Selain pandai melukis, dia juga berbisnis perlengkapan melukis. Lengkap dengan kanvas yang sudah terisi sketsa karyanya.
Kemampuan melukis Lintang dibuktikan dengan keberhasilannya meraih juara di beberapa lomba. Salah satunya juara lomba lukis Picasso Art Contest 2017. Satu lomba lukis bertaraf internasional.
Kemampuan keluarga ini dalam soal melukis tak berhenti di situ saja. Dua adik Lintang, yang kebetulan kembar, juga punya kemampuan serupa. Sindhung Arka Sarutama dan Galang Langit Raditya, keduanya masih duduk di kelas 6 SD, punya kemampuan melukis. Sindhung bahkan juga pernah menang dalam Picasso Art Contest. Bahkan kemenangan itu diperoleh setahun lebih dulu dibanding sang kakak.
Masih ada lagi, istri Agung, Suci Astuti, juga berdarah seniman. Sehari-hari dia memberi kursus menggambar dan mewarnai bagi anak-anak usia TK. Maka, lengkap sudah alasan menyebut keluarga ini sebagai keluarga pelukis.
Jiwa seni anggota keluarga ini juga terbaca dari kondisi rumah. Tak hanya puluhan lukisan yang terpampang, beberapa ornamen unik ikut mewarnai. Dua sepeda onthel tergantung di tembok motif kotak-kotak. Juga aneka topeng yang berasal dari berbagai daerah, mulai Kalimantan hingga Bali. Beberapa tanaman hias yang lagi tren saat ini juga ada. Dilengkapi iguana merah yang berumur dua tahun di teras rumah.
Berjajar pula ratusan piala dan piagam penghargaan milik keluarga ini. Kebanyakan penghargaan melukis. Sebagian lagi adalah penghargaan akademis milik anak-anak Agung.
Agung mengaku menyenangi dunia gambar-menggambar sejak TK. Sering ikut lomba mewarnai. “Saya benar-benar menekuni seni lukis sejak SMA,” aku anak ketiga dari empat bersaudara ini.
Hobi melukisnya mengantar dia masuk ke Unesa. Mengambil jurusan seni rupa pada 1991. Mulai saat itulah dia mengistilahkan dirinya telah ‘hidup dengan cat. Membuat dirinya masuk dalam jajaran 20 pelukis terbaik se Jatim.
Seperti banyak seniman lain, gaya Agung juga nyentrik. Gelangnya berbaris di tangan, termasuk yang bermotif tengkorak. Dua akik juga bertengger di jarinya. Lengkap dengan rambut panjangnya.
“Saya sering dianggap preman. Sering orang minggir semua bila berpapasan dengan saya. Sering pula diremehkan dan dihina,” terang lelaki yang sering menggunakan dua cat saat melukis ini, akrilik dan cat minyak.
Meskipun seniman nyentrik dan berwajah preman, pendidikan akademis Agung tak bisa diremehkan. Dia juga telah lulus S-2 dari Institut Seni Indonesia Jogjakarta.
Dalam membangun karakter dirinya, Agung mengaku menerapkan totalitas. “Kalau berkarya jangan setengah-setengah. Semua indra digunakan. Jiwa, hati, dan yang terpenting adanya kekuatan doa,” ujarnya.
Agung juga tak pelit berbagi ilmu. Dia berulang kali menyemangati sesama pelukis yang mulai bergeser dari aktivitas berkesenian. Hal yang sama dia tekankan pada anak-anaknya.
Agung tergolong pelukis yang produktif. Lukisan yang dia simpan sangat banyak. “Karya-karya ini saya kumpulkan sampai banyak gini. Seandainya punya uang, saya bisa pameran tunggal,” ujarnya sambil memperlihatkan lukisan yang bertumpuk. Karyanya sejak 2008. (fud)
Editor : adi nugroho