Terletak di area kebun tebu di Desa Jatirejo, Loceret, tak membuat setum PG Djatie tersembunyi. Bangunan yang menjulang tinggi itu tetap didatangi muda-mudi untuk berfoto saat pagi atau sore hari.
DEWI AYU NINGTYAS, LOCERET. JP Radar Nganjuk
Usia setum Pabrik Gula (PG) Djati sudah 122 tahun. Setidaknya, itu sesuai keterangan yang tertera di dinding bangunan. Di sana tertulis “Djatie 1898”. Bangunan yang menjadi saksi keberadaan Belanda di Kota Angin itu masih berdiri kokoh hingga sekarang.
Mayoritas plester di dinding setum sudah mengelupas. Menyisakan banyak tonjolan batu bata merah. “Setum itu dulu dibom tahun 1948,” ujar Sujirman, warga yang tinggal di dekat setum Djatie.
Pria berusia 77 tahun itu masih ingat benar peristiwa pengeboman PG Djatie puluhan tahun silam. Rentetan peristiwa yang bagi warga Desa Jatirejo menegangkan itu masih lekat di benak mereka. Pun bagi Sujirman yang kala itu masih berusia sekitar lima tahun.
Setidaknya ada tiga kali pengeboman di kompleks pabrik gula yang sebelumnya dikelola Belanda itu. Akibat pengeboman di sana, bagian pabrik, gudang dan bangunan lainnya luluh lantak. “Setum yang selamat. Hanya sedikit retak dan rusak di lapisan luar,” lanjut pria berambut lurus itu.
Saat dibumi hanguskan oleh tentara puluhan tahun silam, menurut Sujirman PG Djatie masih berproduksi. Pengeboman membuat warga sekitar mengambili gula yang tersisa di sana.
Pandangan kakek tua itu lantas mengarah pada bangunan yang mangkrak selama 72 tahun terakhir tersebut. Menurutnya, dahulu cerobong asap pabrik itu dilengkapi dengan beberapa aksesori. Termasuk besi yang melingkari area setum. “Ada lima besi yang melingkari setum. Sekarang sudah hilang,” tuturnya.
Demikian juga dengan rel kereta yang menghubungkan PG Djatie. Tidak ada lagi yang tersisa di sana. Yang terlihat sekarang hanya besi di ujung atas setum. Selebihnya, kini tinggal bangunan batu bata yang masih kuat seolah menantang zaman itu.
Sujirman pun mengaku senang karena bangunan yang puluhan tahun mangkrak itu kini ramai dikunjungi orang. Tak sekadar berfoto di depan setum, tidak sedikit pengunjung yang memilih masuk ke dalam setum yang gelap. Sebagian memilih berfoto di pintu terbuka setinggi tiga meter dengan lebar dua meter itu.
Keberadaan semak belukar yang tumbuh di sekeliling setum seolah menambah kesan eksotisnya bangunan. “Akhir pekan banyak pesepeda yang datang dan berfoto di sana,” bebernya tentang aset yang saat ini dikelola PG Meritjan itu.
Sebelum marak tren selfie dan wefie di area setum, bangunan itu pernah akan dijadikan tempat syuting salah satu program televisi swasta. Warga setempat sempat menyambut antusias acara yang rencananya digelar 2016 lalu itu. Tetapi, rupanya pengambilan gambar di sana dibatalkan.
Apakah pemerintah desa tidak melakukan perawatan terhadap salah satu bangunan bersejarah di sana? ditanya demikian, Sujirman menyebut jika setum bukanlah aset milik desa. Melainkan dalam pengelolaan PG Meritjan.
Terpisah, Kasi Sejarah, Kebudayaan, dan Kepurbakalaan Dinas Pariwisata, Pemuda, Olahraga, dan Kebudayaan (Disparporabud) Nganjuk Amin Fuadi menjelaskan, setum PG Djatie masuk kategori situs yang harus dilestarikan. Meski demikian, pihaknya belum bisa melakukan pengelolaan karena aset tersebut milik PTPN.
Sesuai UU Cagar Budaya, bangunan yang merekam sejarah PG Djatie itu menurut Amin harus dijaga dan dirawat. Bahkan, bisa juga dilakukan restorasi. “Nanti kami ingin melakukan koordinasi dengan PTPN atau pihak terkait yang mengelola tanah di setum Djatie,” jelasnya.
Melihat sejarah PG Djatie, menurut Amin area PG Djatie bisa dijadikan tempat wisata sejarah. Apalagi, selain bangunan setum, di sana masih ada rumah dinas PG yang juga berdiri kokoh. “Sangat potensial. Bisa menumbuhkan perekonomian warga sekitar,” imbuhnya.
Pantauan Jawa Pos Radar Nganjuk, bangunan rumah yang dulu ditempati sinder atau pengawas perkebunan itu memang masih kokoh. Hanya cat dinding yang mulai pudar. Pintu rumah dibiarkan terbuka hingga menyisakan banyak debu di beberapa bagian rumah.
Di bagian depan rumah terdapat banyak varian bibit tebu yang ditanam di sana. “Dulu kadang rumah ini dipakai rapat. Selesai rapat mereka foto-foto. Saya senang kalau nanti setum itu jadi tempat wisata,” sahut Sujirman terlihat senang.
Editor : adi nugroho